Jejak Pajajaran dalam Kirab Mahkota Binokasih di Tasikmalaya
Kirab Mahkota Binokasih di Tasikmalaya tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang Kerajaan Pajajaran. Mahkota Binokasih dikenal sebagai simbol kepemimpinan yang mencerminkan nilai kebijaksanaan, keadilan, dan tanggung jawab terhadap rakyat, terutama pada masa Prabu Siliwangi.
Dalam pelaksanaan, nilai-nilai tersebut kembali dihadirkan sebagai refleksi budaya yang tetap relevan hingga saat ini. Tradisi ini bukan sekadar menghadirkan simbol sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali filosofi yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Sunda.
Nilai Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh menjadi inti dari pesan yang dibawa dalam kirab ini. Ketiga nilai tersebut mencerminkan pentingnya saling belajar, saling menyayangi, dan saling membimbing dalam kehidupan sosial.
Di tengah arus globalisasi, Kirab Mahkota Binokasih di Tasikmalaya menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghilangkan identitas budaya. Justru dengan memahami sejarah, masyarakat dapat memiliki pijakan yang kuat dalam menghadapi perubahan zaman.
Roni Imroni menilai bahwa kegiatan ini memiliki nilai edukatif yang penting, khususnya bagi generasi muda. Menurutnya, kirab menjadi sarana pembelajaran yang efektif untuk mengenalkan sejarah dan nilai budaya secara langsung kepada masyarakat.
Kirab yang akan melewati hampir semua daerah di Jawa Barat ini tidak hanya menjadi peristiwa budaya, tetapi juga ruang refleksi kolektif yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Tradisi ini mengajarkan bahwa identitas budaya harus terus dijaga agar tetap relevan di masa depan.
Halaman selanjutnya: Cerita KDM tentang Gorengan Seribuan
