lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Kirab Mahkota Binokasih di Tasikmalaya menjadi salah satu peristiwa budaya yang menyita perhatian masyarakat sekaligus menegaskan kuatnya identitas Sunda di tengah perkembangan zaman. Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 4 Mei 2026, ini tidak hanya menghadirkan prosesi budaya, tetapi juga memperlihatkan keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga warisan leluhur.
Rangkaian Kirab Mahkota Binokasih di Tasikmalaya semula direncanakan menempuh rute dari Lapang Kawalu menuju Kampung Naga, kawasan adat yang dikenal konsisten mempertahankan tradisi leluhur. Namun, karena kondisi jalan yang sempit dan berpotensi menimbulkan kemacetan, rute kegiatan akhirnya disesuaikan.
Kirab kemudian diarahkan melintasi Jalan Cisinga Galunggung dan berakhir di Pendopo Kabupaten Tasikmalaya. Penyesuaian ini dilakukan untuk memastikan kelancaran kegiatan tanpa mengurangi makna dan kekhidmatan prosesi budaya yang berlangsung.
Meskipun terjadi perubahan rute, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Warga dari berbagai kalangan tampak memadati jalur yang dilalui kirab untuk menyaksikan secara langsung prosesi yang sarat nilai sejarah tersebut.
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo Kabupaten Tasikmalaya, Roni Imroni, S.Sos., M.M., yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, menyampaikan bahwa Kirab Mahkota Binokasih di Tasikmalaya bukan sekadar agenda seremonial.
Menurutnya, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas budaya sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat. Ia menegaskan bahwa penyesuaian rute merupakan bagian dari dinamika lapangan, tanpa mengurangi nilai yang terkandung dalam kegiatan tersebut.
Kirab ini menjadi bukti bahwa tradisi tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu beradaptasi dengan kondisi yang ada, tanpa kehilangan makna utamanya.
Halaman selanjutnya: Menelusuri Jejak Pajajaran
