Data Pemerintah Menunjukkan Cerita Berbeda
Di tengah cerita tentang menyusutnya perajin, data pemerintah menunjukkan gambaran yang sekilas lebih optimistis.
Dokumen Potensi KUKM mencatat industri anyaman bambu Kota Tasikmalaya pernah terdiri atas 75 unit usaha dengan 632 tenaga kerja. Pusat produksinya tersebar di Kecamatan Mangkubumi, Indihiang dan Bungursari.
Data itu mencakup seluruh Kota Tasikmalaya. Bukan Situ Beet saja.
Dalam Rencana Pembangunan Daerah Kota Tasikmalaya 2023–2026, jumlah industri kerajinan bambu tercatat tetap sebanyak 75 unit pada 2019, 2020 dan 2021. Tenaga kerjanya dicatat sebanyak 660 orang.
Data terbaru dalam Perubahan RPD Kota Tasikmalaya 2023–2026 bahkan mencatat peningkatan pada 2022:
- 99 unit usaha;
- 836 tenaga kerja;
- nilai investasi sekitar Rp6,105 miliar;
- nilai produksi tahunan sekitar Rp5,467 miliar.
Angka itu tidak otomatis membantah kesaksian bahwa perajin Situ Beet berkurang.
Cakupan datanya berbeda. Data pemerintah mencatat komoditas bambu di seluruh kota, sedangkan kesaksian perajin menggambarkan satu kampung. Satu unit usaha juga dapat menaungi sejumlah pekerja rumahan atau hanya tercatat secara administratif meskipun produksinya tidak lagi rutin.
Tetapi perbedaan itu melahirkan pertanyaan penting:
Berapa sebenarnya jumlah perajin aktif anyaman Situ Beet pada 2026?
Apakah pemilik usaha bertambah, sementara penganyamnya berkurang? Apakah unit yang terdaftar masih berproduksi? Berapa perajin berusia di bawah 30 tahun? Dan berapa rumah yang setiap hari masih terdengar suara bambu dibelah?
Sampai sekarang, jawaban mutakhir atas pertanyaan-pertanyaan tersebut belum tersedia dalam data publik.
