Ancaman Terbesar Bukan Plastik, Melainkan Ketidakpastian Hidup
Dokumen resmi Pemerintah Kota Tasikmalaya telah lama mencatat tiga persoalan utama anyaman Situ Beet.
Pertama, bahan baku semakin sulit didapat. Kedua, tenaga kerja terampil berkurang karena tidak terjadi regenerasi. Ketiga, konsumen lokal cenderung memilih produk pengganti yang lebih murah dan mudah diperoleh.
Anak muda kemudian mencari pekerjaan di pabrik, toko atau sektor lain yang menawarkan pendapatan lebih pasti.
Pilihan itu tidak bisa semata-mata disebut sebagai hilangnya kecintaan terhadap budaya. Sulit meminta seseorang mempertahankan tradisi apabila tradisi tersebut tidak mampu menjamin kehidupannya.
Menganyam membutuhkan waktu, ketelitian dan kesabaran. Sebuah kesalahan kecil dapat merusak pola. Setelah produk selesai, perajin masih harus menghadapi harga bahan baku, ongkos angkut, pedagang perantara dan persaingan produk pabrikan.
Karena itu, krisis regenerasi pada dasarnya juga merupakan krisis ekonomi.
Penelitian Universitas Padjadjaran mengenai kerajinan anyaman bambu Tasikmalaya menempatkan transfer pengetahuan antargenerasi sebagai penentu keberlanjutan. Peneliti merekomendasikan pengenalan seni anyaman sejak sekolah dasar, pelatihan, kemudahan modal, peningkatan kesejahteraan dan bantuan pemasaran.
Penelitian tersebut membahas Tasikmalaya secara luas dan tidak hanya Situ Beet. Namun, pesannya relevan: anak muda tidak cukup hanya diajak mengenal anyaman. Mereka harus bisa melihat masa depan di dalamnya. Jurnal Metahumaniora Universitas Padjadjaran.
Penelitian Universitas Siliwangi yang menyinggung usaha anyaman Situ Beet juga menemukan persoalan serupa. Bahan baku semakin sulit, pekerja terampil berkurang, masyarakat beralih ke pekerjaan lain, dan produk plastik menjadi pesaing kuat.
Dengan kata lain, peringatan yang muncul pada 16 Juli 2026 bukan kabar baru. Ia merupakan pengulangan masalah lama yang belum diselesaikan hingga ke akarnya.
