Warisan yang Tumbuh Sejak Masa Sekolah Rakyat
Dokumen Potensi KUKM yang dipublikasikan Pemerintah Kota Tasikmalaya mencatat bahwa kerajinan anyaman bambu telah diperkenalkan sejak 1933.
Pada masa Sekolah Rakyat, menganyam masih dipandang sebagai keterampilan. Hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan belum berkembang menjadi kegiatan ekonomi bernilai besar.
Perubahan mulai terjadi sekitar 1982.
Bambu yang sebelumnya banyak dijual dalam bentuk batangan mulai dipotong, dibelah dan disisit menjadi bilah-bilah kecil. Dalam istilah perajin setempat, proses membentuk bilah tipis tersebut dikenal dengan sebutan ngahua.
Bilah bambu kemudian dicelup, diwarnai dan dianyam menjadi berbagai peralatan rumah tangga.
Memasuki awal 1990-an, industri ini berkembang lebih cepat. Produk bambu tidak lagi dibuat hanya berdasarkan fungsi, tetapi mulai memperhatikan bentuk, motif dan nilai estetika.
Dari proses panjang itulah kampung-kampung perajin terbentuk. Situ Beet kemudian dikenal sebagai salah satu sentra penting di Kota Tasikmalaya.
Catatan media pada 2018 menyebut kaum perempuan, terutama ibu rumah tangga, menjadi bagian penting dalam produksi. Mereka membuat keranjang parsel, peralatan dapur dan produk bambu lain secara turun-temurun. Sebagian hasilnya dipasarkan hingga luar Pulau Jawa. Priangan.com.
Dengan demikian, anyaman Situ Beet bukan sekadar komoditas kerajinan. Di dalamnya tersimpan pembagian kerja keluarga, pengetahuan memilih bambu, teknik membelah, kemampuan membaca pola, serta keterampilan membentuk lembaran anyaman menjadi produk siap jual.
Pengetahuan semacam itu tidak bisa diwariskan melalui festival sehari. Ia membutuhkan latihan berulang, hubungan antara guru dan murid, serta alasan ekonomi yang cukup kuat agar generasi berikutnya bersedia bertahan.
