lintaspriangan.com, BERITA GARUT. Senin, 13 Juli 2026, bel tahun ajaran baru mulai berbunyi. Banyak orang tua mengantar anaknya sampai ke gerbang sekolah. Pemerintah Kabupaten Garut bahkan memberikan kelonggaran kepada aparatur sipil negara untuk mendampingi anak pada masa awal sekolah.
Daftar isi
- Hampir 16 Ribu Anak Tidak Melanjutkan Pendidikan
- Anak Sekolah di Garut Mulai Hilang saat Masuk SMP
- Sekolah Gratis Belum Berarti Bersekolah Tanpa Biaya
- Ketika Sekolah Terlalu Jauh dari Rumah
- Pernikahan Menghentikan Banyak Mimpi Terlalu Cepat
- Ketika Data Resmi Menunjukkan Nol
- Program Orang Tua Asuh, Harapan atau Solusi Sementara?
- Garut Tidak Dapat Bekerja Sendirian
- Rata-rata Pendidikan Warga Garut Belum Sampai Delapan Tahun
- Jangan Biarkan Kursi Itu Terus Kosong
Namun, di balik riuh hari pertama itu, ada kenyataan yang jauh lebih sunyi. Hampir 16 ribu anak sekolah di Garut tercatat tidak melanjutkan pendidikan. Ketika anak-anak lain sibuk mencari ruang kelas, mereka bahkan belum tentu memiliki sekolah untuk dituju.
Angka itu bukan sekadar statistik. Jika satu ruang kelas diisi 32 siswa, 16 ribu anak setara dengan sekitar 500 ruang kelas yang kosong.
Pertanyaannya bukan lagi apakah masalah ini serius. Pertanyaannya: di mana ribuan anak tersebut berada dan siapa yang akan membawa mereka kembali?
Hampir 16 Ribu Anak Tidak Melanjutkan Pendidikan
Angka hampir 16 ribu disampaikan Bupati Garut Abdusy Syakur Amin dan dimuat dalam siaran pers Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
“Di Garut angka putus sekolah cukup banyak, ada hampir 16.000. Ini menjadi keprihatinan kita bersama, apa pun itu tetap anak kita yang harus kita dorong untuk sekolah,” kata Syakur. Kemendikdasmen
Beberapa hari kemudian, muncul angka lain yang lebih besar, yakni sekitar 19 ribu anak. Namun, Bupati mengakui bahwa data tersebut masih harus diperiksa kembali oleh dinas terkait. ANTARA
Perbedaan 3.000 anak bukan selisih kecil. Jumlah itu setara dengan puluhan sekolah.
Karena itu, angka hampir 16 ribu lebih aman dijadikan pijakan awal. Sementara angka 19 ribu harus diposisikan sebagai data yang masih menjalani verifikasi.
Ada hal lain yang juga perlu diluruskan. Tidak semua dari hampir 16 ribu anak tersebut dapat langsung disebut “putus sekolah”.
Dalam sistem Kemendikdasmen, Anak Tidak Sekolah atau ATS mencakup anak yang belum pernah bersekolah, keluar di tengah jenjang pendidikan, dikeluarkan dari sekolah, serta anak yang sudah lulus tetapi tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya. Puslapdik Kemendikdasmen
Pemisahan itu penting. Anak yang keluar saat kelas VIII membutuhkan penanganan berbeda dengan lulusan SMP yang tidak mampu masuk SMA. Begitu pula anak yang terkendala biaya tidak dapat diperlakukan sama dengan anak yang harus menempuh perjalanan berkilo-kilometer menuju sekolah.
