Oleh:
H. Nana Supriatna
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Ciamis
Ka’bah memenuhi layar televisi. Di hadapannya, seorang anak memandangi ribuan manusia yang bergerak mengelilingi bangunan hitam itu (sebagai bukti arkeologis dalam Sejarah agama). Semuanya berpakaian putih. Tidak terlihat siapa yang kaya, siapa yang pejabat, atau siapa yang datang dari negeri jauh.
“Ayah, mereka sedang apa?”
“Mereka sedang bertawaf. Mereka datang untuk memenuhi panggilan Allah.”
Jawaban itu sederhana. Sang anak mungkin belum mengerti tentang rukun, wajib, miqat, atau seluruh tata cara haji. Namun, sore itu sebuah nama mulai menetap dalam ingatannya: Ka’bah. Lamat-lamat, tumbuh pula keinginan untuk melihatnya dari dekat.
Begitulah cita-cita kerap bermula. Bukan dari uraian panjang, melainkan dari satu gambar, cerita yang teduh, dan percakapan yang membekas.
Pada Hari Anak Nasional, kita biasanya berbicara tentang bermain, pendidikan, kesehatan, perlindungan, dan masa depan anak. Semuanya penting. Namun, masa depan tidak hanya dibangun dengan nilai rapor, keterampilan, dan persiapan memasuki dunia kerja. Anak juga memerlukan suluh yang menerangi arah batinnya.
Tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan” mengandung ajakan untuk melihat anak secara utuh, termasuk aspek spritualitas. Mereka bukan bejana kosong yang hanya perlu dipenuhi pengetahuan. Di dalam diri setiap anak terdapat rasa ingin tahu, harapan, dan dunia batin yang perlu direngkuh agar mereka tumbuh utuh.
Karena itu, mengenalkan haji sejak dini layak menjadi bagian dari pendidikan keluarga. Bukan untuk membebani anak dengan biaya perjalanan atau panjangnya antrean keberangkatan. Orang tua cukup menyemai kerinduan, kemudian membiarkannya tumbuh seiring usia. (Pengenalan manasik usia dini, banyak dilaksanakan).
Cita-Cita yang Tidak Berhenti di Dunia
Anak-anak terbiasa ditanya mengenai profesi yang mereka inginkan. Dokter, guru, polisi, atlet, pengusaha, dan beragam jawaban lain disambut dengan sukacita. Kita lalu menakar sekolah yang tepat dan membayangkan ikhtiar untuk mengantarkan mereka ke sana.
Mengenalkan haji memberi satu warna tambahan. Cita-cita anak tidak hanya menjangkau pekerjaan dan keberhasilan dunia, tetapi juga merengkuh tujuan akhirat. Ia mulai mengenal harapan untuk menjadi tamu Allah dan menyempurnakan rukun Islam.
Inilah manfaat pertama. Anak memahami bahwa hidup bukan hanya perkara hendak bekerja sebagai apa, melainkan juga hendak bertumbuh menjadi manusia seperti apa.
Haji kemudian mengajarkan manfaat kedua: sesuatu yang besar harus diraih dengan persiapan. Perjalanan ke Tanah Suci membutuhkan pengetahuan, kesehatan, kesabaran, dan kesiapan diri. Keinginan saja belum cukup.
Pesan ini terasa kian penting ketika banyak hal dapat diperoleh dengan cepat. Sekali menyentuh layar, hiburan tersaji dan barang pesanan bergerak menuju rumah. Haji mengenalkan irama yang berlainan. Ada cita-cita yang harus dirawat lama. Menunggu bukan berarti diam, melainkan kesempatan untuk menyiapkan bekal termasuk memelihara komitmen niat yang kuat.
Dari sana, anak bersua dengan manfaat ketiga: kemampuan merencanakan masa depan. Ia dapat diajak menyusun langkah sederhana. Belajar dengan tekun, menjaga kesehatan, mengenal tata cara haji, dan membiasakan diri bertanggung jawab. Langkahnya mungkin kecil, tetapi tidak kehilangan arah.
Dari Celengan Menuju Tanah Suci
Di sudut kamar, orang tua dapat menaruh sebuah celengan. Tidak perlu mahal atau berhias gemerlap. Cukup bubuhkan tulisan kecil: “Cita-Cita ke Tanah Suci.” Sesekali, anak memasukkan uang dengan tangannya sendiri. Bunyi koin yang beradu menjadi penanda bahwa sebuah harapan sedang dipelihara.
Di situlah manfaat keempat bekerja. Anak mulai mengenal manajemen finansial melalui cara yang ringan. Ia belajar bahwa uang tidak selalu harus dihabiskan hari ini. Ada kebutuhan yang didahulukan, keinginan yang dapat ditunda, dan tujuan baik yang patut diperjuangkan.
Tentu, celengan itu bukan cara memindahkan biaya haji ke pundak anak. Ia hanyalah wahana belajar. Dari recehan yang dikumpulkan, anak mengenal disiplin, prioritas, dan kegembiraan merawat impian.
Manfaat kelima dapat tumbuh melalui cerita. Haji memiliki khazanah yang kaya: Nabi Ibrahim dan Ismail membangun Ka’bah, Siti Hajar berlari antara Safa dan Marwah, serta air Zamzam yang hadir di tengah tanah gersang.
Kisah-kisah itu dapat disampaikan melalui buku bergambar, film pendek, siniar, atau dongeng sebelum tidur. Anak bukan sekadar menghafal nama tempat. Ia diajak menautkan setiap rangkaian haji dengan keteguhan, kasih sayang, ikhtiar, dan kepasrahan kepada Allah. Sejarah pun terasa dekat, tidak lagi seperti deretan nama yang dingin.
Bagi Kemenhaj Ciamis, pendidikan haji tidak harus menunggu seseorang memperoleh panggilan keberangkatan. Keluarga, sekolah, dan madrasah dapat lebih dahulu membuka jendelanya. Caranya mesti ramah, menggembirakan, dan selaras dengan usia anak.
Mungkin perjalanan itu baru terwujud puluhan tahun kemudian. Tidak mengapa. Setiap cita-cita mempunyai muasal. Perjalanan menuju Baitullah pun boleh jadi bermula dari ruang keluarga, ketika seorang anak menatap Ka’bah dengan takzim, lalu berkata lirih, “Suatu hari, aku ingin berada di sana.”
