Inisiatif tersebut mendapat perhatian dalam kegiatan kunjungan reses yang dilakukan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, wilayah Kecamatan Mandirancan.
Kepedulian warga dinilai menjadi modal penting dalam menghadapi potensi kebakaran hutan, terlebih masyarakat setempat berada di kawasan yang berbatasan langsung dengan wilayah Cirebon.
Warga Bentuk MPA dengan Aturan Desa
Kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) tersebut dibentuk atas inisiatif masyarakat dari empat desa.
Yang menarik, keberadaan kelompok tersebut tidak hanya bersifat simbolis. Masyarakat setempat memiliki aturan desa yang menjadi dasar dalam menjaga lingkungan sekaligus mencegah terjadinya kebakaran hutan.
Kedisiplinan warga dalam menjaga kawasan menjadi salah satu hal yang mendapat apresiasi dalam kunjungan tersebut.
Kepedulian tersebut dinilai sejalan dengan prinsip pencegahan, yakni mengantisipasi potensi kebakaran sebelum bencana benar-benar terjadi.
Warga Bahkan Siapkan Kendaraan Damkar
Upaya masyarakat tidak berhenti pada pembentukan kelompok.
Warga desa juga berinisiatif menghadirkan kendaraan pemadam kebakaran (Damkar) dari Kabupaten Kuningan hingga tingkat desa.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat, terutama apabila terjadi kebakaran di kawasan sekitar desa maupun wilayah yang berdekatan dengan kawasan hutan.
Ketersediaan kendaraan pemadam di tingkat desa dinilai dapat mempercepat respons apabila sewaktu-waktu terjadi kebakaran.
Model partisipasi masyarakat seperti ini kemudian dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan di wilayah lain yang menghadapi ancaman serupa.
MPA Diusulkan Mendapat Dukungan Peralatan
Kepedulian masyarakat tersebut juga mendorong munculnya usulan agar pemerintah memberikan perhatian lebih kepada kelompok MPA.
Kementerian Kehutanan diharapkan dapat memberikan apresiasi sekaligus dukungan terhadap masyarakat di kawasan perbatasan Kuningan-Cirebon, khususnya wilayah Mandirancan.
Dukungan tersebut dapat berupa fasilitas dasar yang menunjang kegiatan anggota MPA ketika melakukan pencegahan maupun penanganan awal kebakaran.
Beberapa peralatan yang dinilai dibutuhkan antara lain masker, sepatu khusus lapangan, helm pelindung, perangkat komunikasi atau handy talky (HT), serta perlengkapan pendukung lainnya.
Fasilitas tersebut dinilai penting karena masyarakat yang terlibat dalam upaya pencegahan kebakaran juga membutuhkan perlindungan dan peralatan yang memadai ketika berada di lapangan.
Model Masyarakat Peduli Api Bisa Ditiru Daerah Lain
Inisiatif warga di kawasan Mandirancan dinilai tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan setempat.
Jika mendapat dukungan yang memadai, model Masyarakat Peduli Api berbasis desa tersebut berpotensi diterapkan di daerah lain yang memiliki kerawanan kebakaran hutan dan lahan.
Keterlibatan langsung masyarakat dinilai dapat menjadi lapisan awal dalam sistem pencegahan bencana.
Dengan kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah dan pemerintah pusat, kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan diharapkan dapat diperkuat.
Terlebih, masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan merupakan pihak yang berada paling dekat dengan kondisi lingkungan sehingga memiliki peran penting dalam mendeteksi potensi ancaman sejak dini.
Inisiatif warga di perbatasan Kuningan-Cirebon tersebut menunjukkan bahwa upaya menjaga kawasan hutan tidak selalu harus menunggu program besar dari pemerintah. Ketika masyarakat memiliki kesadaran, aturan dan kesiapan, pencegahan kebakaran dapat dimulai dari tingkat desa. (HS)







