Kota Tasik Hari Ini, Anak Jajan saat Hujan Harus Dianggap Bahaya

lintaspriangan.com, TAJUK LINTAS. Hujan sore itu turun tanpa tanda-tanda ekstrem. Tidak ada petir yang memekakkan telinga, tidak pula angin kencang yang membuat orang berlari mencari perlindungan. Hanya hujan deras, jenis hujan yang sering datang di Kota Tasikmalaya dan kerap dianggap biasa. Namun dari hujan yang terlihat wajar itulah, sebuah peristiwa yang tak biasa terjadi: seorang anak dilaporkan hilang.

Peristiwa itu bermula di sekitar Kantor Kelurahan Tugujaya, Kecamatan Cihideung. Seorang anak laki-laki berusia enam tahun, Zaydan, pamit jajan ketika ibunya sedang mengurus bantuan sosial. Ia berjalan bersama kakaknya ke warung gorengan di samping kantor kelurahan. Sebuah rutinitas kecil, yang barangkali juga sering dilakukan keluarga lain di sudut-sudut kota ini.

Hujan memang deras. Air menggenang di jalan. Selokan di sekitar lokasi meluap, membuat aliran air tak lagi rapi mengikuti jalurnya. Tetapi tak ada satu pun yang menyangka bahwa kondisi seperti itu bisa menjadi situasi berisiko bagi anak-anak. Bagi orang dewasa, genangan air mungkin hanya perkara sepatu basah. Bagi anak-anak, air yang bergerak tanpa kendali adalah dunia yang sama sekali berbeda.

Zaydan pamit lebih dulu kepada kakaknya untuk kembali ke kantor kelurahan. Kakaknya mengira sang adik sudah sampai. Sang ibu mengira anaknya masih bersama kakaknya. Di antara dua asumsi yang sama-sama manusiawi itulah, kepanikan mulai tumbuh. Hingga malam hari, Zaydan tak kunjung ditemukan.

Kesedihan keluarga cepat menyebar menjadi kegelisahan warga. Beberapa video yang beredar di media sosial merekam suasana pencarian malam itu. Warga berdatangan, menyorotkan cahaya ponsel ke arah selokan dan jalan yang tergenang. Ada yang berdiri diam, ada yang memanggil nama anak itu berulang kali. Video-video itu bukan sekadar dokumentasi, tetapi potret empati warga yang bergerak tanpa diminta.

Petugas dari BPBD dan Polsek Cihideung turun ke lokasi. Aparat kepolisian dari Polres Tasikmalaya Kota menyatakan bahwa penyelidikan masih berlangsung. Hingga kini, belum ada keterangan resmi yang menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi pada anak tersebut. Penyisiran dilakukan, termasuk di sekitar alur selokan, namun kesimpulan belum dapat ditarik.

Di titik inilah, peristiwa ini layak dibaca lebih dalam. Bukan untuk berspekulasi, apalagi menyalahkan. Melainkan untuk memahami bahwa anak jajan saat hujan di ruang publik harus mulai dianggap sebagai situasi berbahaya, bukan karena hujannya semata, tetapi karena lingkungan kota belum sepenuhnya aman bagi mereka.

Hujan adalah keniscayaan. Kota Tasikmalaya hidup berdampingan dengannya sejak lama. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana air hujan dikelola. Ketika drainase meluap dan genangan hadir di sekitar fasilitas publik—kantor kelurahan, jalan lingkungan, warung kecil—maka ruang yang semestinya aman berubah menjadi area berisiko, terutama bagi anak-anak.

Anak-anak memiliki keterbatasan fisik, naluri, dan kemampuan membaca bahaya. Air yang bagi orang dewasa tampak dangkal, bisa menjadi ancaman bagi mereka. Arus yang tak terasa di kaki orang dewasa, bisa menjatuhkan anak kecil. Ini bukan tuduhan, melainkan pengetahuan dasar tentang kerentanan. Keterangan warga sekitar yang mengatakan saat kejadian air meluap setinggi 25 cm, tidak bisa dipungkiri membuat banyak hati gelisah. Karena logika punya rata-rata.

Karena itu, peristiwa ini seharusnya dibaca sebagai cermin bagi tata kelola infrastruktur kota. Drainase bukan sekadar proyek teknis yang selesai di atas kertas. Ia berkaitan langsung dengan keselamatan warga, terutama kelompok paling rentan. Ruang pelayanan publik seharusnya menjadi tempat paling aman, bukan justru menyimpan risiko tersembunyi ketika hujan turun.

Video-video warga yang beredar di media sosial memperlihatkan satu hal yang jelas: solidaritas sosial di Kota Tasikmalaya masih kuat. Warga bergerak cepat, saling membantu, dan ikut mencari. Namun solidaritas warga tidak boleh terus-menerus menutup celah struktural. Empati masyarakat perlu diiringi kesiapan sistem kota.

Hingga berita ini ditulis, Zaydan masih dalam pencarian. Tidak ada kesimpulan yang ditarik. Dan memang belum saatnya menyimpulkan. Namun ada pelajaran yang bisa direnungkan bersama: ketika hujan yang biasa berubah menjadi situasi berbahaya bagi anak, maka yang perlu dievaluasi bukan cuacanya, melainkan bagaimana kota ini melindungi warganya dalam kondisi paling sehari-hari.

Ini bukan soal hari ini saja. Ini tentang Kota Tasikmalaya ke depan—apakah ruang-ruang publiknya benar-benar aman, bahkan ketika hujan turun dan anak-anak hanya ingin jajan sebentar.

Mari kita sama-sama menyempatkan berdoa, semoga Zaydan senantiasa dalam lindungan Alloh SWT, segera ditemukan dengan kondisi yang baik-baik saja, dan segera berkumpul kembali dengan keluarganya. Aamiin. (AS)

Abu Vulkanik anak Krakatau - lintas priangan

Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Sampai Bandung, Pemkot Siapkan Mitigasi

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Pemerintah Kota Bandung mulai menyiapkan langkah mitigasi untuk mengantisipasi kemungkinan sebaran abu vulkanik Anak Krakatau mencapai wilayah Kota Bandung. Wali Kota Bandung...

JEJAK HEROIK JABAR

Membuka Jejak Pejuang Tionghoa di Cirebon

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ada satu kalimat pendek dalam arsip...

Taktik Buaya Mangap Pejuang Cirebon Bikin Belanda Kocar-kacir

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jembatan-jembatan menuju Bantarjati tampak seperti sedang...

Selama 5 Bulan, Markas Belanda Digempur Pejuang Cikatomas

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ketika malam turun di wilayah selatan...

Pesantren Langkaplancar yang Berubah Menjadi Markas Laskar

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jauh dari pantai yang kini menjadi...

Dari Perlindungan 1947 hingga Harmony Award 2025

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Bensin telah diletakkan di dekat rumah-rumah warga...

PRIANGAN TIMUR

Santri Tarbiyatul Ummah Tasikmalaya Ditempa Jadi Pemilih Cerdas

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. “Mengapa dalam setiap pemilu sering terjadi bagi-bagi uang...

Sumur Bor Setiamulya Mulai Dikerjakan untuk Pasok Air Bersih Warga

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Sumur bor Setiamulya mulai dikerjakan di Kelurahan...

Persikotas Nusantara Belum Tentukan Kandang Liga 3, Banjar-Ciamis Dijajaki

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Persikotas Nusantara belum menentukan stadion kandang untuk...

Garut Plaza Diaktifkan Kembali, Pemkab Bidik Perdagangan dan UMKM

lintaspriangan.com, BERITA GARUT. Garut Plaza kembali didorong menjadi pusat aktivitas...

Kebakaran Gunung Guntur dan Cikuray Tak Masuk Cagar Alam

lintaspriangan.com, BERITA GARUT. Kebakaran Gunung Guntur dan Gunung Cikuray di...

JAWA BARAT

Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Sampai Bandung, Pemkot Siapkan Mitigasi

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Pemerintah Kota Bandung mulai menyiapkan langkah...

Surat Edaran Gubernur Jabar, Siaga Abu Vulkanik

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Pemerintah Provinsi Jawa Barat meningkatkan...

Bandara Husein Sastranegara Ditutup akibat Abu Anak Krakatau, Estimasi hingga Pukul 16.00 WIB

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Operasional Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung...

200 Becak Listrik Cirebon Dibagikan, Pemkot Siapkan Dukungan Pengisian Daya

lintaspriangan.com, BERITA CIREBON. Sebanyak 200 unit becak listrik Cirebon telah...

Kebakaran Lahan Jawa Barat Capai 228,07 Hektare, Sukabumi Terluas

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Luas kebakaran lahan Jawa Barat mencapai 228,07...

Persib vs PSM di GBLA, 2.505 Personel Disiagakan dan Tiga Titik Disekat

lintaspriangan.com, BERITA PERSIB. Sebanyak 2.505 personel disiagakan untuk mengamankan pertandingan...

Pendakian Gunung Ciremai Ditutup Mulai 6 September untuk Cegah Karhutla

lintaspriangan.com, BERITA KUNINGAN. Seluruh jalur pendakian Gunung Ciremai di wilayah...

Dentuman Misterius Bandung, Badan Geologi Kaitkan Anak Krakatau, BMKG Sebut Skyquake

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Misteri suara dentuman misterius Bandung yang...

Olahraga

Popular Categories