lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Merah Putih menghiasi jalan, perkantoran, dan permukiman menjelang peringatan 17 Agustus. Indonesia genap berusia 81 tahun dengan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Namun, bagi warga miskin Kota Tasikmalaya, kemakmuran masih terdengar sebagai bunyi yang indah dalam tema peringatan.
Catatan terbaru perekonomian sebenarnya membawa kabar baik. Ekonomi Kota Tasikmalaya tumbuh 5,39 persen, meningkat dari 5,22 persen pada satu tahun sebelumnya. Sayangnya, pertumbuhan itu melaju sambil meninggalkan warga miskin. Grafik ekonomi berhasil menanjak, sedangkan 75.220 warga miskin Kota Tasikmalaya justru tenggelam semakin jauh di bawah garis kemiskinan.
Warga Miskin Kota Tasikmalaya Semakin Jauh dari Garis Kemiskinan
Data terbaru Badan Pusat Statistik menunjukkan, jumlah penduduk miskin Kota Tasikmalaya mencapai 75.220 orang atau 10,84 persen dari jumlah penduduk. Artinya, sekitar satu dari setiap sembilan warga belum mampu memenuhi kebutuhan dasar berdasarkan ukuran pengeluaran.
Jumlah itu menurun dibandingkan satu tahun sebelumnya yang mencapai 76.710 orang atau 11,10 persen. Dalam setahun, angka kemiskinan berkurang sebanyak 1.490 orang.
Penurunan tersebut patut dicatat sebagai kemajuan. Namun, jumlah kepala bukan satu-satunya cara membaca kemiskinan. Ketika barisan orang miskin memendek, jurang di bawah kaki mereka justru semakin dalam.
Indeks Kedalaman Kemiskinan atau P1 meningkat dari 1,35 menjadi 1,89. Kenaikannya mencapai 40 persen hanya dalam satu tahun.
P1 mengukur rata-rata jarak pengeluaran penduduk miskin dari garis kemiskinan. Semakin tinggi nilainya, semakin jauh kemampuan mereka dari batas minimum untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Dengan kata lain, jumlah penduduk miskin memang berkurang, tetapi kondisi kelompok yang masih miskin secara rata-rata semakin terpuruk. Sebanyak 75.220 warga miskin Kota Tasikmalaya berada dalam kelompok yang jarak pengeluarannya terhadap garis kemiskinan kian lebar. Yang miskin makin miskin.
Ketimpangan di antara mereka juga membesar. Indeks Keparahan Kemiskinan atau P2 melonjak dari 0,26 menjadi 0,45. Kenaikan sekitar 73 persen itu menunjukkan sebagian warga miskin jatuh lebih dalam dibandingkan warga miskin lainnya.
Tekanan bertambah ketika garis kemiskinan naik dari Rp565.377 menjadi Rp591.600 per kapita per bulan. Untuk keluarga beranggotakan empat orang, batas kebutuhan minimum tersebut setara sekitar Rp2,37 juta sebulan.
Itu baru ambang agar sebuah keluarga tidak dikategorikan miskin, bukan ukuran kehidupan yang layak, terlebih makmur. Untuk berdiri sedikit saja di atas garis tersebut, keluarga berpenghasilan rendah harus mengejar biaya pangan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, dan transportasi yang terus bergerak.
81 Tahun Indonesia Merdeka: Warga Miskin Kota Tasikmalaya Makin Miskin
TASIKMALAYA — Merah Putih menghiasi jalan, perkantoran, dan permukiman menjelang peringatan 17 Agustus. Indonesia genap berusia 81 tahun dengan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Namun, bagi warga miskin Kota Tasikmalaya, kemakmuran masih terdengar sebagai bunyi yang indah dalam tema peringatan.
Catatan terbaru perekonomian sebenarnya membawa kabar baik. Ekonomi Kota Tasikmalaya tumbuh 5,39 persen, meningkat dari 5,22 persen pada satu tahun sebelumnya. Sayangnya, pertumbuhan itu melaju sambil meninggalkan warga miskin. Grafik ekonomi berhasil menanjak, sedangkan 75.220 warga miskin Kota Tasikmalaya justru tenggelam semakin jauh di bawah garis kemiskinan.
Warga Miskin Kota Tasikmalaya Semakin Jauh dari Garis Kemiskinan
Data terbaru Badan Pusat Statistik menunjukkan, jumlah penduduk miskin Kota Tasikmalaya mencapai 75.220 orang atau 10,84 persen dari jumlah penduduk. Artinya, sekitar satu dari setiap sembilan warga belum mampu memenuhi kebutuhan dasar berdasarkan ukuran pengeluaran.
Jumlah itu menurun dibandingkan satu tahun sebelumnya yang mencapai 76.710 orang atau 11,10 persen. Dalam setahun, angka kemiskinan berkurang sebanyak 1.490 orang.
Penurunan tersebut patut dicatat sebagai kemajuan. Namun, jumlah kepala bukan satu-satunya cara membaca kemiskinan. Ketika barisan orang miskin memendek, jurang di bawah kaki mereka justru semakin dalam.
Indeks Kedalaman Kemiskinan atau P1 meningkat dari 1,35 menjadi 1,89. Kenaikannya mencapai 40 persen hanya dalam satu tahun.
P1 mengukur rata-rata jarak pengeluaran penduduk miskin dari garis kemiskinan. Semakin tinggi nilainya, semakin jauh kemampuan mereka dari batas minimum untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Dengan kata lain, jumlah penduduk miskin memang berkurang, tetapi kondisi kelompok yang masih miskin secara rata-rata semakin terpuruk. Sebanyak 75.220 warga miskin Kota Tasikmalaya berada dalam kelompok yang jarak pengeluarannya terhadap garis kemiskinan kian lebar. Yang miskin makin miskin.
Ketimpangan di antara mereka juga membesar. Indeks Keparahan Kemiskinan atau P2 melonjak dari 0,26 menjadi 0,45. Kenaikan sekitar 73 persen itu menunjukkan sebagian warga miskin jatuh lebih dalam dibandingkan warga miskin lainnya.
Tekanan bertambah ketika garis kemiskinan naik dari Rp565.377 menjadi Rp591.600 per kapita per bulan. Untuk keluarga beranggotakan empat orang, batas kebutuhan minimum tersebut setara sekitar Rp2,37 juta sebulan.
Itu baru ambang agar sebuah keluarga tidak dikategorikan miskin, bukan ukuran kehidupan yang layak, terlebih makmur. Untuk berdiri sedikit saja di atas garis tersebut, keluarga berpenghasilan rendah harus mengejar biaya pangan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, dan transportasi yang terus bergerak.
Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, pertumbuhan ekonomi belum menjamin kemakmuran berjalan ke segala arah. Angka boleh menanjak dan pidato boleh bergema. Namun, selama warga miskin Kota Tasikmalaya semakin jauh dari kehidupan layak, bendera telah berkibar tinggi sementara kesejahteraan mereka masih tertahan di dasar.
Oke, paragraf terakhirnya kurang enak buat ngekik, bro. Kesejahteraan mereka masih tertahan di dasar. Kayaknya canggung ini kalimat, nggak selesai. Dasar apa? Dasar jurang, dasar sumur, ganti, bro. Cari yang lebih membumi, lebih mudah dibayangkan gitu oleh pembaca.
Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, pertumbuhan ekonomi belum menjamin kemakmuran berjalan ke segala arah. Angka boleh menanjak dan pidato boleh bergema. Namun, bagi warga miskin Kota Tasikmalaya, kenyataannya jauh lebih sederhana: kebutuhan hidup terus naik, sementara uang belanja semakin cepat habis.
Kurang enak, kurang enak, kurang epik, kurang reflektif. Coba arahnya lebih ke warga miskin ini seperti terlupakan, tidak tersentuh, gitu. Programnya terlalu sibuk meninggalkan mereka.
Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, pembangunan tampak sibuk berlari ke depan, mengejar angka dan meresmikan kemajuan. Di belakangnya, warga miskin Kota Tasikmalaya seperti terlupakan—berdiri di tempat yang sama, menyaksikan kemakmuran melintas tanpa pernah singgah di depan rumah mereka. (AS)







