Islah Dihormati, Etika Pejabat Tetap Diingatkan
Ketua DPRD Kota Tasikmalaya H. Aslim menegaskan, pihaknya menghormati proses islah antara Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Candra dan Ustaz Mabruri. Menurut dia, penyelesaian secara baik-baik merupakan langkah yang patut diapresiasi.
Namun, Aslim menggarisbawahi bahwa peristiwa tersebut tetap menyisakan pelajaran penting bagi pejabat publik. Ia menilai, siapa pun yang memegang jabatan di pemerintahan harus mampu menjaga kendali diri, terutama ketika berada di ruang publik dan berhadapan langsung dengan masyarakat.
“Harapan kami, kejadian seperti itu tidak terulang lagi. Sebagai pejabat publik, tentu harus bisa mengendalikan emosi,” ujar Aslim.
Pernyataan itu menjadi catatan DPRD terkait kendali emosi Diky Candra setelah insiden di kawasan Dadaha menjadi perbincangan masyarakat. Apalagi, peristiwa tersebut terjadi dalam kegiatan yang dihadiri banyak orang, termasuk peserta, guru pendamping, dan warga.
Aslim tidak ingin persoalan yang sudah berakhir dengan islah kembali diperuncing. Namun, menurut dia, DPRD juga tidak boleh menutup mata ketika banyak warga meminta lembaga dewan bersikap.
Dalam pandangannya, islah menyelesaikan hubungan personal antara pihak-pihak yang terlibat. Akan tetapi, sebagai pejabat publik, setiap tindakan tetap memiliki dimensi sosial yang lebih luas. Sebab, masyarakat menilai bukan hanya dari jabatan, tetapi juga dari sikap, tutur kata, dan kemampuan mengelola keadaan.
Karena itu, DPRD Kota Tasikmalaya memilih menyampaikan pengingat secara terbuka. Pesannya sederhana, tetapi penting: pejabat publik harus mampu menahan diri, merawat keteladanan, dan menjaga muruah jabatan.
Bagi DPRD, islah memang menutup sengkarut personal. Namun ruang publik tetap mencatat pelajarannya: kekuasaan bukan hanya soal kewenangan, melainkan juga soal kemampuan mengendalikan diri. (AS/AS)





















