lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Usai didesak warga, DPRD Kota Tasikmalaya akhirnya buka suara terkait kendali emosi Diky Candra setelah insiden yang melibatkan Wakil Wali Kota Tasikmalaya itu dengan Ustaz Mabruri, pengasuh Pondok Pesantren Fauzan Paseh, di kawasan Dadaha.
Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, H. Aslim, S.H., M.Si., mengatakan, pihaknya mengetahui bahwa persoalan tersebut sudah diselesaikan melalui islah. Namun, menurut dia, penyelesaian secara kekeluargaan tidak serta-merta membuat DPRD kehilangan kewajiban moral untuk memberi pengingat.
Aslim menyebut, sejak peristiwa itu mencuat, cukup banyak warga yang menyampaikan pertanyaan kepada DPRD. Komunikasi itu tidak hanya masuk kepada dirinya sebagai ketua dewan, tetapi juga kepada sejumlah anggota DPRD Kota Tasikmalaya.
“Masyarakat banyak yang bertanya, kenapa DPRD diam saja. Kenapa DPRD tidak bicara,” kata Aslim saat dihubungi Lintas Priangan melalui sambungan telepon, Kamis, 21 Mei 2026.
Menurut Aslim, pertanyaan warga tersebut menjadi perhatian DPRD. Namun, ia menegaskan, DPRD sebagai lembaga tidak bisa begitu saja bereaksi secara tergesa-gesa. Ada informasi yang perlu diserap, ada suasana yang perlu dibaca, dan ada pertimbangan kelembagaan yang harus dijaga.
Ia menilai, dalam situasi yang melibatkan pejabat publik, tokoh agama, dan perhatian masyarakat luas, sikap DPRD harus disampaikan secara proporsional. Tidak boleh menambah keruh keadaan, tetapi juga tidak boleh terlihat abai terhadap keresahan warga.
Karena itu, Aslim menegaskan, DPRD tetap perlu memberi catatan. Bukan untuk membuka kembali persoalan yang sudah diakhiri dengan islah, melainkan untuk mengingatkan bahwa jabatan publik selalu membawa tuntutan menjaga sikap.
Halaman selanjutnya: Islah Dihormati, Etika Pejabat Tetap Diingatkan





















