lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Batik baru MTsN 3 Kota Tasikmalaya resmi diperkenalkan dalam momentum peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-118 sekaligus milad ke-48 madrasah tersebut, Selasa (20/5/2026). Peluncuran dua motif batik itu menjadi salah satu bagian paling menarik dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung di lingkungan madrasah.
Dua motif batik tersebut disiapkan untuk dua kelompok berbeda. Satu motif diperuntukkan bagi siswa, sementara satu motif lainnya untuk guru. Keduanya mengangkat ikon khas Tasikmalaya dan Jawa Barat, mulai dari payung geulis, kelom geulis, kujang, hingga mega mendung.
Wakil Kesiswaan MTsN 3 Kota Tasikmalaya, Asep Rahmat, menjelaskan bahwa batik tersebut tidak hanya dibuat sebagai seragam. Lebih dari itu, batik ini dirancang sebagai identitas, pengingat nilai budaya, sekaligus simbol semangat kebangkitan di lingkungan madrasah.
“Payung geulis dan kelom geulis merupakan identitas Tasikmalaya, khususnya Cibeureum dan Tamansari. Kujang menjadi simbol keberanian Jawa Barat, sedangkan mega mendung menggambarkan dinamika dan perlindungan,” ujar Asep.
Filosofi Batik Siswa dan Guru
Menurut Asep, perbedaan utama antara batik siswa dan batik guru terletak pada pilihan warna. Motif batik siswa menggunakan gradasi biru muda dengan aksen kuning dan merah cerah pada unsur payung geulis.
Warna cerah itu dipilih bukan tanpa alasan. Pihak madrasah ingin menghadirkan kesan energik, optimistis, dan dekat dengan dunia anak muda. Kuning juga lekat dengan identitas Tasikmalaya, sementara merah dan kuning dimaknai sebagai lambang keberanian serta motivasi untuk menyongsong masa depan.
“Warna cerah ini sengaja dipilih untuk membakar semangat generasi muda. Kuning identik dengan Tasikmalaya. Merah dan kuning melambangkan keberanian dan motivasi menyongsong Indonesia Emas,” kata Asep.
Sementara itu, batik untuk guru dibuat dengan karakter warna yang lebih lembut. Motif dasarnya tetap sama, tetapi gradasinya dibuat lebih kalem agar memancarkan kesan teduh, bijak, dan berwibawa.
“Kalau siswa energik, guru harus menjadi penyejuk. Batik ini mengingatkan guru untuk menjadi teladan,” jelasnya.
Budaya Lokal dan Ekonomi Kreatif
Peluncuran batik baru MTsN 3 Kota Tasikmalaya juga melibatkan seniman lokal. Langkah ini menjadi tengara bahwa madrasah tidak hanya ingin melestarikan budaya, tetapi juga ikut memberi ruang bagi pelaku ekonomi kreatif di daerah.
Melalui batik tersebut, MTsN 3 Kota Tasikmalaya ingin menunjukkan bahwa pendidikan tidak boleh tercerabut dari akar budaya. Di tengah derasnya era digital, madrasah tetap bisa tampil modern tanpa kehilangan jati diri lokal.
Asep berharap batik itu menjadi kebanggaan warga madrasah. Siswa diharapkan mengingat perannya sebagai tunas bangsa, sementara guru diingatkan untuk terus menjadi teladan yang meneduhkan.
“Siswa harus ingat, mereka tunas bangsa yang harus dijaga. Guru harus menjadi teladan yang meneduhkan,” ujarnya.
Kegiatan milad ke-48 MTsN 3 Kota Tasikmalaya turut dihadiri Plh Wali Kota Tasikmalaya Rd. Diky Candranegara, Kapolsek Cibeureum, jajaran guru, serta orang tua siswa. Peluncuran batik baru ini menjadi pesan kebangkitan yang disampaikan dengan cara elegan: lewat helai kain, warna, dan filosofi yang berjejak pada budaya lokal. (DH/AS)





















