lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Dalam waktu sekitar 18 bulan, pengguna mingguan ChatGPT melonjak dari lebih dari 100 juta pada Mei 2024 menjadi lebih dari 800 juta pada November 2025. Riset OpenAI terhadap 1,5 juta percakapan juga menunjukkan, tiga dari empat percakapan digunakan untuk mencari informasi, meminta panduan praktis, dan membantu pekerjaan menulis.
Bagi Camat Cigalontang, Roni Imroni, S.Sos., M.M., angka tersebut bukan sekadar cerita tentang pesatnya teknologi. Ia melihat peluang besar untuk membawa pelayanan lebih dekat kepada masyarakat.
Pengamatan itu tumbuh ketika Roni menjabat Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tasikmalaya. Saat mendatangi desa dan kecamatan dalam kegiatan sosialisasi serta pemberdayaan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), ia melihat telepon pintar dan berbagai layanan digital semakin akrab dengan warga desa—termasuk ChatGPT.
“Pengguna ChatGPT bukan hanya masyarakat kota. Di desa-desa juga sudah mulai banyak yang mengenal dan menggunakannya. Itu saya lihat langsung ketika turun dalam kegiatan KIM,” ujar Roni.
Meski baru sekitar satu bulan menjabat Camat Cigalontang, dunia pelayanan kecamatan bukan lingkungan baru baginya. Roni sebelumnya pernah menjadi kepala seksi dan sekretaris kecamatan. Ia memahami satu persoalan yang kerap membuat warga kerepotan: mereka mengetahui kebutuhannya, tetapi belum tentu mengetahui nama layanan, persyaratan, tahapan, atau kantor yang harus didatangi.
Akibatnya, sebagian warga baru mengetahui ada dokumen yang kurang setelah tiba di kantor pelayanan. Mereka harus pulang, melengkapi persyaratan, lalu menempuh perjalanan yang sama untuk kedua kalinya.
Di titik itulah pengalaman Roni di bidang teknologi bertemu dengan pemahamannya tentang pelayanan. Menurut dia, pemerintah tidak selalu harus membangun aplikasi baru. Teknologi yang sudah dikenal dan berada di tangan masyarakat dapat langsung dimanfaatkan.
“ChatGPT tidak cukup hanya menjadi tren. Teknologi ini harus diadopsi untuk mempermudah sekaligus mendekatkan pelayanan kepada masyarakat,” katanya.
Dari pemikiran itulah CamGPT Cigalontang dilahirkan: memanfaatkan kecerdasan ChatGPT untuk membantu warga memahami dan mengakses pelayanan dengan lebih mudah.
Yang Membedakan CamGPT dari ChatGPT Biasa
ChatGPT biasa dapat memberikan informasi umum. CamGPT Cigalontang melangkah lebih jauh karena dikonfigurasi secara khusus untuk melayani 107 urusan warga di wilayah Kecamatan Cigalontang.
Ada tiga fitur utama yang membedakannya. Pertama, CamGPT telah dibekali informasi mengenai mekanisme dan persyaratan 107 layanan. Kedua, warga tidak hanya mendapatkan panduan, tetapi juga informasi kontak petugas yang menangani layanan tersebut, baik di tingkat desa maupun kecamatan.
Ketiga, untuk layanan tertentu yang mengharuskan warga membuat dokumen, CamGPT dapat langsung menyiapkannya secara otomatis. Dokumen tersebut antara lain surat permohonan, surat pernyataan, surat pengaduan, dan pengantar penelitian yang dapat diperiksa serta dilengkapi oleh warga.
“Bayangkan, sebelumnya warga harus membuat sendiri dokumen pengantar atau datang ke desa terlebih dahulu untuk mendapatkan formatnya. Sekarang, dokumen itu sudah bisa disiapkan sejak warga masih berada di rumah. Kalau tidak memiliki mesin pencetak, nanti bisa dicetak di kantor desa atau Kantor Kecamatan Cigalontang,” kata Roni.
Cara berkomunikasi dengan CamGPT juga tidak dibatasi format tertentu. Warga dapat menyampaikan kebutuhannya dengan bahasa sehari-hari, meskipun singkat, salah ketik, atau informasinya belum lengkap.
Warga, misalnya, cukup menulis, “KTP saya ilang, enggak ada fotokopinya, saya orang Cidugaleun. Harus gimana?” CamGPT akan mengenali kebutuhannya, memberikan panduan awal, lalu menanyakan data tambahan yang masih diperlukan.
Bagi warga yang kurang nyaman mengetik, pertanyaan juga dapat disampaikan melalui suara dengan menggunakan fitur mikrofon di CamGPT Cigalontang. Dengan demikian, warga cukup berbicara seperti sedang menyampaikan keperluannya langsung kepada petugas.
Gratis Digunakan, Terus Dikembangkan
CamGPT Cigalontang dapat digunakan melalui paket gratis ChatGPT. Warga tidak perlu berlangganan layanan berbayar, cukup mengaksesnya melalui aplikasi ChatGPT di telepon pintar atau melalui laman web.
Kemudahan akses tersebut membuat CamGPT berpeluang dimanfaatkan lebih luas. Selama memiliki perangkat dan koneksi internet, warga dapat memperoleh panduan pelayanan dari mana saja tanpa harus lebih dahulu datang ke kantor desa atau kecamatan.
“Teknologinya sudah tersedia dan bisa digunakan secara gratis. Tugas kami adalah mengisinya dengan informasi yang benar-benar dibutuhkan warga Cigalontang,” kata Roni.
CamGPT juga tidak dirancang sebagai layanan yang berhenti pada 107 urusan. Konfigurasinya dapat terus diperbarui dan dikembangkan sesuai kebutuhan masyarakat maupun ketersediaan data baru.
Ke depan, CamGPT dapat diperkaya dengan profil dan potensi setiap desa, produk unggulan, pelaku UMKM, sentra pertanian, lokasi wisata, agenda masyarakat, hingga berbagai informasi lokal lainnya.
Dengan pengembangan tersebut, CamGPT tidak hanya menjadi pemandu pelayanan, tetapi juga dapat tumbuh menjadi pusat informasi digital Cigalontang yang semakin lengkap dari waktu ke waktu.
Siap Launching di Bulan Kemerdekaan
Roni berharap CamGPT Cigalontang dapat diluncurkan pada Agustus 2026, bertepatan dengan bulan kemerdekaan Republik Indonesia. Momentum tersebut dinilai tepat untuk menghadirkan inovasi pelayanan yang membuat warga semakin mudah memperoleh informasi dan bantuan.
“Mudah-mudahan CamGPT Cigalontang dapat diluncurkan langsung oleh Bapak Bupati Tasikmalaya pada bulan kemerdekaan,” kata Roni.
Mengusung semangat “107 Urusan, Cukup Satu Percakapan,” CamGPT Cigalontang diharapkan menjadi langkah baru dalam mendekatkan pelayanan kepada warga. (AS)







