lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. “Tema HUT ke-81 Republik Indonesia, ‘Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur’, harus terasa sampai ke desa. Kedaulatan akan kuat apabila masyarakat mampu menjaga lingkungannya, keadilan hadir ketika setiap warga memperoleh rasa aman, sedangkan kemakmuran hanya dapat tumbuh dalam keadaan yang tertib dan kondusif,” kata Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Tasikmalaya, Asep Darisman, S.Sos., M.M.
Pesan tersebut menjadi penting bagi Kabupaten Tasikmalaya yang memiliki wilayah seluas 2.708,82 kilometer persegi, terdiri atas 39 kecamatan dan 351 desa. Dengan bentang wilayah dari kawasan pegunungan hingga pesisir sepanjang 54,5 kilometer, keamanan daerah tidak mungkin hanya bertumpu pada patroli aparat. Menurut Asep, kekuatan utamanya justru berada pada kepedulian masyarakat di setiap kampung. Data wilayah itu tercantum dalam profil resmi Kabupaten Tasikmalaya.
Keamanan Tidak Dimulai Saat Terjadi Gangguan
Dalam wawancara melalui saluran telepon dengan Lintas Priangan, Minggu, 16 Agustus 2026, Asep mengatakan bahwa daerah yang aman bukanlah daerah yang sekadar mampu menyelesaikan gangguan. Daerah yang benar-benar kuat ialah daerah yang dapat membaca gejala, membangun komunikasi, dan mencegah persoalan sebelum berkembang menjadi konflik.
“Kabupaten yang luas tidak dapat dijaga hanya dengan menambah patroli. Ia harus dijaga dengan menambah kepedulian masyarakat. Pemerintah dan aparat memiliki keterbatasan jangkauan, tetapi masyarakat selalu berada paling dekat dengan keadaan lingkungannya,” ujarnya.
Modal sosial itu, kata Asep, terlihat dari keterlibatan masyarakat dalam Lomba Poskamling Tingkat Kabupaten Tasikmalaya yang digelar menjelang Hari Jadi ke-394 Kabupaten Tasikmalaya. Sebanyak 167 dari 351 desa mengikuti kegiatan tersebut. Poskamling Cimaung di Desa Sukanaga, Kecamatan Tanjungjaya, keluar sebagai juara pertama setelah melalui penilaian fisik bangunan, sarana dan prasarana, administrasi serta laporan kejadian, hingga inovasi keamanan lingkungan.
Bagi Asep, angka 167 desa tidak boleh dipandang sebatas jumlah peserta perlombaan. Partisipasi itu memperlihatkan bahwa tradisi menjaga kampung masih hidup dan dapat dikembangkan menjadi kekuatan kewaspadaan daerah.
“Seratus enam puluh tujuh desa merupakan titik awal yang sangat baik. Artinya, semangat warga untuk menjaga lingkungannya sudah ada. Tugas pemerintah adalah merawat semangat itu agar terus tumbuh, menjangkau semakin banyak desa, dan tidak berhenti setelah perlombaan selesai,” katanya. Data mengenai peserta dan hasil perlombaan tersebut dipublikasikan Satpol PP Kabupaten Tasikmalaya.
Asep menilai penguatan keamanan berbasis masyarakat sejalan dengan arah kepemimpinan Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin melalui program Tasik Iman, Tasik Aman. Program tersebut dijalankan melalui penguatan kegiatan keagamaan, safari Ramadan di 39 masjid besar kecamatan, dukungan terhadap pengamanan wilayah, serta patroli gabungan yang melibatkan TNI, Polri, Satpol PP, dan perangkat daerah terkait.
“Arah yang diberikan Bapak Bupati sangat jelas: nilai keimanan harus melahirkan kepedulian, sedangkan kepedulian harus menghasilkan keamanan. Jadi, keamanan bukan hanya urusan penindakan. Keamanan harus menjadi budaya bersama,” ucap Asep.
Program Tasik Iman, Tasik Aman merupakan satu dari 13 program prioritas gerak cepat Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya yang dipaparkan Bupati pada momentum Hari Jadi Kabupaten Tasikmalaya, Juli 2026.
Poskamling Harus Menjadi Sensor Sosial Desa
Asep menegaskan, fungsi poskamling pada masa sekarang perlu berkembang. Poskamling tidak cukup hanya menjadi tempat ronda malam untuk mencegah pencurian. Ia harus menjadi ruang komunikasi warga sekaligus bagian dari sistem kewaspadaan dini terhadap berbagai persoalan sosial.
Ancaman yang dihadapi masyarakat, lanjut dia, semakin beragam. Selain gangguan keamanan konvensional, desa-desa berhadapan dengan penyalahgunaan narkoba, informasi bohong, ujaran kebencian, intoleransi, perselisihan antarwarga, hingga provokasi melalui media sosial.
Tantangan itu juga tercatat dalam Rencana Kerja Bakesbangpol Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2026. Dokumen tersebut menempatkan peningkatan deteksi dan pencegahan dini konflik sosial, penguatan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat, pelibatan masyarakat, serta pencegahan penyalahgunaan narkoba sebagai isu penting daerah.
“Gangguan besar sering kali berawal dari gejala kecil yang diabaikan. Ada perubahan perilaku anak muda, perselisihan yang dibiarkan, kabar bohong yang terus disebarkan, atau persoalan sosial yang tidak segera dikomunikasikan. Masyarakat di tingkat kampung biasanya mengetahui gejalanya lebih dahulu,” kata Asep.
Namun, ia mengingatkan bahwa kewaspadaan masyarakat tidak boleh berubah menjadi kebiasaan saling mencurigai. Deteksi dini harus dijalankan melalui komunikasi yang sehat, penghormatan terhadap hak warga, serta penyampaian informasi melalui jalur yang benar.
“Sensor sosial bukan berarti memata-matai masyarakat. Maksudnya adalah membangun kepekaan. Kalau ada persoalan, jangan dibiarkan membesar. Kepala desa, tokoh agama, tokoh pemuda, organisasi masyarakat, FKDM, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas harus dapat berkomunikasi cepat,” tuturnya.
Menurut Asep, kekuatan Kabupaten Tasikmalaya terletak pada tradisi gotong royong dan kedekatan sosial masyarakat desa. Apabila kekuatan tersebut dipadukan dengan sistem pelaporan yang cepat serta koordinasi lintas sektor, pemerintah daerah akan lebih mudah menentukan langkah sebelum suatu persoalan berkembang menjadi gangguan yang lebih luas.
Ia menyebut penguatan keamanan dari desa juga memiliki hubungan langsung dengan pembangunan ekonomi. Petani membutuhkan ketenangan untuk mengelola lahan, pelaku UMKM memerlukan lingkungan yang tertib, sementara investasi dan kegiatan pariwisata membutuhkan kepastian keamanan.
“Karena itu, program Tasik Iman, Tasik Aman bukan program yang berdiri sendiri. Keamanan merupakan fondasi bagi program pembangunan lainnya. Jalan dapat dibangun, sekolah dapat diperbaiki, dan usaha masyarakat dapat didorong, tetapi seluruh manfaatnya akan lebih kuat apabila lingkungannya aman dan masyarakatnya rukun,” ujarnya.
Menjelang peringatan kemerdekaan, Asep mengajak masyarakat menjadikan kegiatan ronda, musyawarah warga, gotong royong, serta kepedulian terhadap generasi muda sebagai bagian dari upaya mengisi kemerdekaan.
“Kedaulatan Indonesia dibangun dari desa yang mampu menjaga dirinya. Keadilan hadir ketika warga di desa terjauh sekalipun memperoleh rasa aman yang sama. Dari rasa aman itulah kemakmuran dapat tumbuh. Jadi, menjaga kampung juga merupakan cara nyata menjaga Indonesia,” pungkas Asep. (AS)







