lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Beberapa hari sebelum ledakan besar mengguncang Dayeuhkolot, Mohamad Toha datang menemui Eulis Salamah.
Eulis, yang akrab dipanggil Euis, sedang mencuci pakaian di Situ Tarate. Ia merupakan anggota Lasykar Wanita Indonesia atau Laswi. Aturan asrama membuat Toha tidak leluasa menemuinya. Maka, ketika Euis keluar menjalankan tugas, pemuda itu menyusul bersama dua orang kawannya.
Toha datang membawa sebuah tas tangan hasil kerajinan Garut. Hadiah sederhana itu diserahkan kepada perempuan yang dicintainya. Namun, bukan hanya tas yang membawa Toha ke Situ Tarate hari itu.
Ia hendak berpamitan. Toha mengatakan akan pergi berjibaku—menjalankan tugas berbahaya yang dapat menuntut pengorbanan nyawa.
Sebelum berpisah, ia meminta selembar foto Euis. Namun, Euis tidak memilikinya.
Toha pun pergi tanpa membawa gambar wajah perempuan yang ingin dinikahinya. Itulah pertemuan terakhir mereka.

Baca juga: Menelisik Hibah Kesbangpol Kota Bandung untuk Kejari: dari Ruang Tamu hingga Isi Garasi
Cinta yang Tumbuh di Ciparay
Toha mengenal Euis di dapur umum Ciparay.
Ketika itu, Bandung Selatan dipenuhi pengungsi dan pejuang. Setelah Kota Bandung ditinggalkan, Ciparay, Banjaran, Majalaya, Dayeuhkolot, dan kawasan sekitarnya menjadi tempat bertahan sekaligus menyusun perlawanan.
Euis membantu menyiapkan makanan dan kebutuhan pasukan melalui Laswi. Toha datang sebagai pejuang muda yang bergabung dalam barisan penggempur.
Usia mereka masih belia. Toha sekitar 19 tahun, sedangkan Euis kurang lebih 15 tahun. Namun, revolusi membuat keduanya menjalani kehidupan yang jauh melampaui usia.
Tidak ada pertemuan panjang seperti sepasang muda-mudi pada masa damai. Hari-hari mereka dipenuhi perpindahan pasukan, kabar pertempuran, dan tugas yang dapat datang sewaktu-waktu.
Di tengah keadaan itulah rasa cinta tumbuh.
Toha ingin membangun masa depan bersama Euis. Namun, ia memendam satu tekad: kehidupan rumah tangga harus dimulai setelah Indonesia benar-benar terbebas dari ancaman penjajahan.

Baca juga: Indikasi Korupsi Kesbangpol Jabar Bagian 1: Makan Minum Tak Dikerjakan tapi Dibayar
Kepulangan Terakhir ke Garut
Sekitar sepekan sebelum menjalankan misi terakhir, Toha mengunjungi keluarganya yang mengungsi di Garut.
Ia menemui ibu, kakek, dan adiknya. Mereka makan bersama, lalu menonton pertunjukan sandiwara. Malam itu dilewati dalam kehangatan keluarga yang sederhana.
Pagi harinya, Toha bersiap kembali ke medan perjuangan. Ia meminta ibu dan adiknya mengantarkan sampai ke tepi jalan. Keduanya diminta terus memandang ke arahnya hingga tubuh Toha hilang di kelokan.
Cara berpamitan itu meninggalkan kegundahan pada sang ibu.
Tidak ada yang tahu apakah Toha telah mempunyai firasat. Namun, kunjungan tersebut menjadi kepulangannya yang terakhir. Dari Garut, Toha membawa tas tangan untuk Euis. Tas itulah yang kemudian diserahkannya dalam pertemuan di Situ Tarate.
Hadiah kecil tersebut memperlihatkan sisi lain seorang pejuang yang selama ini lebih sering dikenang melalui ledakan dan pertempuran. Toha adalah pemuda yang mencintai keluarganya. Ia juga menyimpan harapan untuk hidup bersama perempuan yang dicintainya.
Ia memiliki banyak alasan untuk pulang.

Baca juga: Indikasi Korupsi Kesbangpol Sumedang: Lembaga Paling Pancasilais, Kok Kontraknya Begini?
Pernikahan Menunggu Kemerdekaan
Setelah berpamitan kepada Euis, Toha bergabung dengan pasukan yang akan bergerak menuju Dayeuhkolot.
Di sana berdiri gudang amunisi yang menjadi salah satu penopang kekuatan militer Belanda di Bandung Selatan. Peluru, mesiu, dan perlengkapan perang dari tempat itu dapat digunakan untuk menyerang pertahanan Republik. Mohamad Ramdan berada dalam misi yang sama.
Menjelang operasi, Toha berbicara dengan Lettu S. Abas. Ia menitipkan salam dan permohonan maaf kepada ibunya. Tugas itu, kata Toha, dijalankan dengan ikhlas demi tanah air dan bangsa.
S. Abas kemudian menanyakan pesan untuk perempuan yang hendak dinikahinya. Jawaban Toha menyatukan cinta dan perjuangan dalam satu kalimat:
“Kami tidak akan menikah kalau kemerdekaan sepenuhnya belum tercapai.”
Toha tidak menolak kebahagiaan. Ia hanya menundanya.
Baginya, rumah tangga tidak seharusnya dibangun di bawah bayang-bayang tentara asing yang ingin menguasai kembali Indonesia. Kemerdekaan harus dipertahankan terlebih dahulu.
Sesudah itu, barulah kehidupan bersama Euis dapat dimulai. Namun, sejarah tidak memberi mereka waktu sejauh itu.
Baca juga: 9 Indikasi Korupsi Kabupaten Karawang Paling Telanjang, Belum Ada yang Digelandang?
Ledakan dan Penantian yang Berakhir
Pada 11 Juli 1946, ledakan dahsyat mengguncang Dayeuhkolot. Gudang amunisi yang menjadi sasaran para pejuang hancur. Api menyambar bangunan, asap membubung, dan persenjataan di dalamnya musnah.
Misi itu berhasil mengguncang pertahanan Belanda. Mohamad Toha dan Mohamad Ramdan tidak kembali. Keduanya gugur dalam misi penghancuran gudang amunisi Dayeuhkolot pada 1946.
Bagi Republik, ledakan tersebut menjadi bukti bahwa perjuangan belum padam setelah Bandung Lautan Api. Namun, bagi Euis, peristiwa itu mengakhiri sebuah harapan yang belum sempat tumbuh menjadi kehidupan bersama.
Toha tidak pernah datang lagi ke Situ Tarate. Ia tidak kembali meminta foto yang dahulu belum dapat diberikan Euis. Ia juga tidak pulang untuk menjemput pernikahan yang menunggu kemerdekaan.
Baru setelah Toha gugur, Euis memahami betapa sungguh perasaan pemuda itu kepadanya. Penyesalan kemudian tertambat pada sesuatu yang sangat kecil: selembar foto benar-benar tidak pernah ia miliki.
Dalam keadaan biasa, permintaan itu mungkin dapat dipenuhi pada pertemuan berikutnya. Namun, perang tidak memberikan kesempatan kedua.
Tanah Air Memanggil Lebih Dahulu
Kisah Toha dan Euis bukan cerita tentang pemuda yang pergi karena patah hati. Toha berangkat ketika dirinya justru mempunyai begitu banyak alasan untuk bertahan hidup.
Ada ibu yang menunggu kepulangannya. Ada keluarga yang ingin kembali ditemuinya. Ada Euis dan kehidupan rumah tangga yang ingin dibangun setelah negeri ini sepenuhnya merdeka.
Namun, tanah air memanggil lebih dahulu.
Toha memilih menjalankan tugas yang diyakininya menentukan nasib perjuangan. Ia mendahulukan masa depan bangsanya, sekalipun keputusan itu menghapus masa depan pribadinya.
Di situlah pengorbanannya menemukan makna yang paling manusiawi.
Ia tidak gugur karena tidak mencintai kehidupan. Ia gugur ketika kehidupan menawarkan cinta, keluarga, dan hari esok yang layak diperjuangkan.
Indonesia akhirnya berdiri sebagai negara merdeka. Merah Putih berkibar, dan generasi baru lahir tanpa harus hidup di bawah pemerintahan penjajah. Kemerdekaan yang ditunggu Toha akhirnya tercapai.
Namun, pernikahan itu tidak pernah berlangsung. Yang tersisa adalah sebuah tas dari Garut, pertemuan terakhir di Situ Tarate, serta permintaan foto yang tak sempat dipenuhi.
Euis menunggu sebuah masa depan setelah kemerdekaan.
Kemerdekaan memang datang, tapi laki-laki yang ia tunggu tak akan pernah pulang.
“Jangan biarkan kisah para pejuang ini terkubur untuk kedua kalinya—bukan oleh tanah, melainkan oleh lupa. Bagikan kepada anak-anak, keluarga, sahabat, dan generasi muda, agar mereka mengerti bahwa Merah Putih tidak berkibar sekadar karena angin, tetapi karena darah, air mata, dan nyawa yang dikorbankan. Sekali Anda membagikan kisah ini, Anda ikut menjaga api perjuangan tetap menyala dari generasi ke generasi.”
lintaspriangan.com




