lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Di Cibarusah, beberapa bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan, pesantren tidak hanya menjadi tempat mengaji. Di hamparan kebun karet dekat Pondok Pesantren Al-Baqiyatus Sholihat, ratusan pemuda berlatih baris-berbaris, bela diri, disiplin, hingga menggunakan senjata. Suara pengajian bertaut dengan aba-aba latihan.
Dari tanah itulah perjuangan para kiai Bekasi menemukan bentuknya. Mereka tidak sekadar menyampaikan seruan cinta tanah air dari mimbar. Pesantren dibuka untuk menempa pasukan, rumah dijadikan tempat bermusyawarah, jaringan pengajian diubah menjadi jalur mobilisasi. Ketika kemerdekaan terancam, mereka ikut mempertaruhkan keselamatan, keluarga, bahkan nyawa.

Lima Ratus Pemuda Ditempa di Cibarusah
Pelatihan Laskar Hizbullah di Cibarusah dimulai pada akhir Februari 1945 dan berlangsung hingga sekitar Mei. Sekitar 500 pemuda dan santri dari berbagai wilayah Jawa dan Madura datang ke Kabupaten Bekasi. Sebuah penelitian Universitas Negeri Surabaya mencatat, para peserta berasal dari 17 karesidenan ditambah Yogyakarta.
Mereka tidak dipersiapkan untuk menjadi pasukan biasa. Setelah menyelesaikan pelatihan, para peserta harus kembali ke daerah masing-masing, membentuk barisan Hizbullah, lalu menurunkan ilmu yang mereka dapatkan kepada pemuda lainnya. Dengan pola itu, Cibarusah bukan hanya melahirkan ratusan anggota laskar. Ia mencetak calon-calon pelatih yang kelak menumbuhkan kekuatan perjuangan di berbagai daerah.
Di balik penempaan itu berdiri KH Raden Ma’mun Nawawi, ulama asal Kampung Cibogo, Cibarusah, yang dikenal sebagai Mama Cibogo. Di pesantren yang dipimpinnya, para calon laskar memperoleh latihan fisik dan militer, sekaligus pembinaan mental, keagamaan, serta keteguhan hati.

Latihan jasmani dilakukan di perkebunan karet yang ketika itu berada di sekitar pesantren. Sementara pembinaan rohani berlangsung di bangunan utama pondok. KH Ma’mun Nawawi berada di tengah para pemuda itu, menanamkan keyakinan bahwa membela tanah air bukan urusan orang lain. Ia adalah panggilan kehormatan bagi siapa pun yang hidup dari bumi Indonesia.
Riwayat tersebut diperkuat keterangan keluarga yang dihimpun ANTARA serta catatan resmi Pemerintah Kabupaten Bekasi. Dari Cibarusah, para alumni kemudian diterjunkan ke berbagai wilayah. Sebagian bergerak menuju Jawa Timur, sebagian lainnya memperkuat perlawanan di Bekasi di bawah kepemimpinan KH Noer Alie.
KH Noer Alie dan Angkut Abu Gozali termasuk tokoh yang pernah mengikuti pendidikan Hizbullah di Cibarusah. Setelah pulang, keduanya membawa sesuatu yang lebih bernilai daripada senjata: pengetahuan tentang cara merekrut anggota, membentuk organisasi, melatih pasukan, serta membangun disiplin perjuangan.
Benih yang ditanam KH Ma’mun Nawawi mulai tumbuh. Dari satu pesantren di Cibarusah, jaringannya menjalar ke Tambun, Lemahabang, Pondok Ungu, Ujungmalang, hingga daerah-daerah di luar Bekasi.

Dari Tambun, Perlawanan Menjalar
Pada Agustus 1945, sebuah musyawarah digelar di rumah Angkut Abu Gozali, di samping Masjid Attaqwa, Tambun. Pertemuan itu melahirkan Laskar Hizbullah Bekasi, yang kemudian menjadi Resimen IV Hizbullah Divisi Purwakarta.
Angkut Abu Gozali dipercaya menjadi komandan resimen. Di bawahnya dibentuk tiga batalyon: Batalyon I Lemahabang dipimpin H. Usman, Batalyon II Pondok Ungu dipimpin Abdullah Syair, dan Batalyon III Ujungmalang dipimpin KH Noer Alie.
Pembagian wilayah itu bukan sekadar urusan administrasi. Lemahabang menjadi simpul timur yang berbatasan dengan Karawang. Stasiunnya memiliki radio untuk memantau pergerakan musuh, sementara gudang senjata dan logistik berada di kawasan tersebut.
Pondok Ungu menjadi benteng di sisi barat, jalur yang harus dilalui pasukan dari arah Jakarta. Adapun Ujungmalang—kini Ujungharapan, Babelan—menjadi basis pertahanan utara. Jaringan santri di sana kuat dan posisinya dekat dengan jalur pantai, sehingga informasi mengenai pergerakan pasukan dapat diperoleh lebih cepat.
Masjid Attaqwa di Tambun menjadi tempat perekrutan. Santri, pemuda kampung, dan para jawara dihimpun dalam satu barisan. Mereka dilatih menggunakan senjata, membaca medan, menjaga disiplin, serta bergerak dalam organisasi yang rapi.
Hasil penelitian yang diterbitkan FACTUM Universitas Pendidikan Indonesia menyebut markas pusat Resimen IV berada di rumah Angkut Abu Gozali, yang dikenal masyarakat sebagai Gedong Tiga. Adapun Gedong Tinggi—kini Museum Gedung Juang 45 Tambun—menjadi tempat berkumpulnya berbagai pasukan dan tokoh perjuangan Bekasi.
Pada 19 Agustus 1945, pasukan rakyat Bekasi menyerang kedudukan tentara Jepang di Gedong Tinggi. Senjata, mortir, dan kendaraan berhasil dikuasai. Bangunan tersebut kemudian digunakan sebagai salah satu markas pertahanan para pejuang.
Perlawanan tidak hanya disusun dengan bedil. Angkut Abu Gozali dan H. Usman mengatur aliran senjata serta logistik. Para komandan batalyon mengoordinasikan strategi di wilayah masing-masing. Dapur umum dibangun di Babelan dan Karang Tengah. Makanan, informasi, tempat berlindung, dan keberanian rakyat menjadi urat nadi yang menjaga pasukan tetap bergerak.
Di sinilah peran kiai Bekasi terlihat dengan utuh. Mereka mempunyai pengaruh yang tidak dapat dibangun hanya dengan pangkat. Masyarakat mengikuti karena percaya. Santri bergerak karena menghormati gurunya. Petani, pedagang, dan warga kampung membuka pintu rumah karena yakin para pejuang itu sedang mempertahankan masa depan mereka sendiri.
Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer I pada Juli 1947, banyak garis pertahanan Republik di timur Jakarta dihancurkan. KH Noer Alie bersama pasukan yang tersisa menemui pimpinan militer Republik di Yogyakarta. Mereka kemudian diperintahkan melanjutkan perang gerilya di sekitar Bekasi dan Karawang.
KH Noer Alie membentuk Markas Pusat Hizbullah Sabilillah. Menurut kajian Socio Historica UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jaringan gerilya ini mendapat dukungan luas dari petani, pedagang, aparat sipil, polisi, santri, dan ulama. Anggotanya mencapai ratusan orang dengan tugas berbeda, mulai dari bergerak di medan pertempuran hingga mencari logistik, menyadap informasi, dan membangun pos penghubung.
Markas mereka harus berkali-kali berpindah agar tidak terlacak. Persenjataan pun tidak selalu seimbang. Sebagian pejuang hanya membawa golok ketika pasukan Belanda datang dengan persenjataan modern. Namun, perlawanan tidak padam. Serangan dilakukan pada malam hari hingga menjelang subuh, sementara barikade dan lubang-lubang besar dibuat untuk menghambat kendaraan musuh.
Perjuangan itu menjelaskan mengapa KH Noer Alie kemudian dikenang sebagai Singa Karawang–Bekasi dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2006. Namun, di belakang nama besarnya berdiri pula KH Ma’mun Nawawi dan sederet ulama, santri, jawara, serta rakyat biasa yang menjaga api perlawanan tetap menyala.
Para kiai Bekasi tidak mempertentangkan doa dengan ikhtiar. Mereka mengajarkan agama, menyusun logistik, membaca pergerakan musuh, dan memimpin pasukan pada zaman yang tidak memberikan jaminan bahwa mereka akan pulang dengan selamat.
Mereka bertaruh nyawa bukan untuk meninggalkan nama di jalan atau terpahat di dinding museum. Mereka melakukannya agar generasi sesudahnya dapat hidup di negeri sendiri—berdiri tegak, berbicara merdeka, dan tidak lagi menundukkan kepala kepada penjajah.
Dari Cibarusah hingga Tambun, sejarah meninggalkan satu pesan yang tak lekang: ketika negeri memanggil, para kiai turun dari mimbar, berjalan bersama rakyat, lalu menyerahkan seluruh keberanian yang mereka punya untuk Indonesia.
“Jangan biarkan kisah para pejuang ini terkubur untuk kedua kalinya—bukan oleh tanah, melainkan oleh lupa. Bagikan kepada anak-anak, keluarga, sahabat, dan generasi muda, agar mereka mengerti bahwa Merah Putih tidak berkibar sekadar karena angin, tetapi karena darah, air mata, dan nyawa yang dikorbankan. Sekali Anda membagikan kisah ini, Anda ikut menjaga api perjuangan tetap menyala dari generasi ke generasi.”
lintaspriangan.com







