Lembang Direbut, tapi Gerilya Tidak Pernah Surut

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Lembang telah jatuh.

Pada 10 Maret 1946, pasukan Republik meninggalkan kota setelah pertahanan terakhir ditembus pasukan Gurkha dan Belanda. Meriam mengguncang lereng. Pesawat tempur meraung di atas perkampungan. Dari jalan-jalan utama, kendaraan militer bergerak masuk ke kota yang sebelumnya menjadi benteng Bandung Utara.

Para pejuang mundur ke arah timur melalui Cikareumbi, Cicalung, Cikidang, Maribaya, hingga Cibodas. Sebagian meneruskan perjalanan menuju perkebunan kina Bukittunggul.

Namun, mereka tidak membuang senjata. Mereka meninggalkan kota, bukan perjuangan.

Di balik bukit, kebun, gawir, dan jalan-jalan kecil yang hanya dikenal penduduk setempat, perang mulai berganti wajah. Tidak ada lagi garis pertahanan tetap yang mudah dihantam meriam. Pasukan Republik bergerak dalam kelompok kecil, menyerang ketika gelap, lalu menghilang sebelum musuh sempat membalas dengan kekuatan penuh.

Lembang memang telah direbut. Akan tetapi, sejak saat itu, pasukan lawan justru menghadapi pertempuran yang lebih senyap dan lebih sulit dipadamkan.

jejak heroik jabar - banner kesbangpol

Baca juga: Anggaran Internet Kesbangpol Kota Bandung Seperempat Miliar, tapi Website-nya Terkapar

Malam-Malam yang Tidak Pernah Tenang

Di Cikawari, Cibodas, dan Cikidang, para pejuang menghimpun kembali kekuatan. Pemuda desa bergabung dengan tentara cadangan. Senjata yang tersisa diperiksa. Amunisi dihitung satu per satu.

Mereka tidak mungkin menghadapi tank dan artileri dalam pertempuran terbuka. Karena itu, pasukan dipecah menjadi kelompok-kelompok kecil.

Pada akhir Maret 1946, sejumlah pejuang bergerak menuju Kota Lembang. Beberapa kelompok hanya beranggotakan lima orang. Mereka membawa stengun, karaben, pistol, granat, serta alat peledak.

Malam menjadi pelindung.

Mereka menyusup melalui kebun dan jalan setapak menuju kawasan Panorama. Sasaran mereka adalah patroli dan pos penjagaan musuh di bagian utara serta timur kota.

Serangan meletus tiba-tiba. Tembakan pecah dari kegelapan. Pasukan lawan membalas dengan senapan mesin. Peluru suar dilontarkan ke udara, membelah malam dan menyinari lereng yang semula gelap.

Para pejuang Republik segera berpencar. Mereka turun melalui gawir, melewati Kampung Pangragajian, lalu bergerak kembali menuju Cikidang. Ketika pasukan dihitung, satu orang tidak terlihat.

Letnan Sapri belum kembali. Sehari kemudian, ia muncul di pangkalan dalam keadaan selamat. Saat terpisah dari pasukannya, Sapri bersembunyi di dalam sebuah sumur. Di ruang sempit dan gelap itu, ia menunggu tembakan mereda dan pasukan musuh pergi.

Ia baru keluar pada malam berikutnya.

Dalam perang gerilya, keberanian tidak selalu berbentuk seseorang yang berdiri menerjang peluru. Kadang-kadang, keberanian adalah seorang prajurit yang menahan napas di dasar sumur, bertahan hidup agar dapat kembali memanggul senjata.

Sapri berhasil pulang. Pejuang lain tidak seberuntung itu.

jejak heroik jabar - banner kemenhaj

Baca juga: Menelisik Hibah Kesbangpol Kota Bandung untuk Kejari: dari Ruang Tamu hingga Isi Garasi

Tubuh yang Diusung Menembus Perbukitan

Pertempuran juga pecah di Cikawari, wilayah di sebelah timur Lembang.

Dalam salah satu bentrokan, Abdul Patah, seorang opsir Tentara Cadangan, tertembak di bagian perut. Rekan-rekannya segera mengangkat tubuhnya meninggalkan medan pertempuran.

Tidak ada ambulans yang menunggu di balik bukit.

Abdul Patah harus dibawa melintasi kawasan Puncak Eurad menuju pos Palang Merah Indonesia di Bukanagara. Jalan yang ditempuh terjal dan panjang, sementara darah terus keluar dari lukanya.

Dari Bukanagara, ia hendak dibawa menuju Rumah Sakit Bayu Asih di Purwakarta.

Namun, perjalanan itu tidak pernah selesai.

Abdul Patah meninggal sebelum tiba di rumah sakit. Ia kemudian dikenang sebagai Letnan Anumerta Abdul Patah.

Tidak ada upacara besar di tengah perjalanan. Tidak ada pidato panjang. Hanya tubuh seorang pejuang yang dibawa melewati perbukitan setelah mempertahankan republik yang usianya belum genap setahun.

Begitulah perang berlangsung di Lembang setelah kota direbut.

Ia tidak selalu melahirkan pertempuran besar yang masuk buku sejarah. Kadang-kadang, perang hanya meninggalkan jejak darah di jalan setapak, senjata yang dibawa berlari, dan nama seorang prajurit yang perlahan tenggelam dari ingatan.

jejak heroik jabar - banner kominfo

Baca juga: Indikasi Korupsi Kesbangpol Jabar Bagian 1: Makan Minum Tak Dikerjakan tapi Dibayar

Warga Meninggalkan Rumah, Bukan Republik

Perang tidak hanya memaksa pasukan mundur.

Penduduk Lembang juga meninggalkan rumah, kebun, ternak, dan kampung halaman. Mereka bergerak melewati lereng Gunung Sunda dan Tangkuban Parahu menuju Cipancar, Sagalaherang, Subang, dan Purwakarta.

Sebagian menempuh jalur Cikawari dan Cibodas menuju Tanjungsari serta Sumedang. Ada pula yang terus berjalan hingga Garut dan Tasikmalaya. Mereka membawa barang seadanya.

Tidak ada kepastian kapan dapat pulang. Tidak ada jaminan rumah yang ditinggalkan masih berdiri ketika perang berakhir.

Namun, pengungsian itu tidak memutus hubungan antara rakyat dan pejuang. Warga tetap menyediakan makanan, menunjukkan jalan, membawa kabar tentang patroli musuh, serta menyembunyikan pasukan yang sedang bergerak.

Belanda dapat menduduki kota. Namun, mereka tidak mudah menguasai desa, gunung, dan kesetiaan penduduknya.

Pada awal April 1946, pertahanan Republik di kawasan Bandung Utara dan Karawang Timur kembali ditata. Pasukan yang terpukul mundur dari Lembang tidak lenyap. Mereka menyebar, menyusun kekuatan, dan membawa perlawanan menuju medan yang lebih luas.

Lembang memang jatuh. Tetapi selama masih ada kelompok kecil yang berani menyusup pada malam hari, pemuda desa yang bersedia membawa senjata, dan keluarga yang melindungi pejuang, kota itu tidak pernah benar-benar menyerah.

Gerilya terus menyala dari kebun, gawir, dan lereng pegunungan.

Sebagian pejuang berhasil kembali ke pangkalan. Sebagian gugur di medan tempur atau meninggal dalam perjalanan mencari pertolongan. Puluhan lainnya kemudian dibaringkan bersama di sebuah tempat sunyi di Lembang.

Enam puluh pejuang Bandung Utara dimakamkan dalam satu liang. Jejak itulah yang akan membuka kisah berikutnya.

“Jangan biarkan kisah para pejuang ini terkubur untuk kedua kalinya—bukan oleh tanah, melainkan oleh lupa. Bagikan kepada anak-anak, keluarga, sahabat, dan generasi muda, agar mereka mengerti bahwa Merah Putih tidak berkibar sekadar karena angin, tetapi karena darah, air mata, dan nyawa yang dikorbankan. Sekali Anda membagikan kisah ini, Anda ikut menjaga api perjuangan tetap menyala dari generasi ke generasi.”

lintaspriangan.com

JEJAK HEROIK JABAR

Membuka Jejak Pejuang Tionghoa di Cirebon

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ada satu kalimat pendek dalam arsip...

Taktik Buaya Mangap Pejuang Cirebon Bikin Belanda Kocar-kacir

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jembatan-jembatan menuju Bantarjati tampak seperti sedang...

Selama 5 Bulan, Markas Belanda Digempur Pejuang Cikatomas

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ketika malam turun di wilayah selatan...

Pesantren Langkaplancar yang Berubah Menjadi Markas Laskar

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jauh dari pantai yang kini menjadi...

Dari Perlindungan 1947 hingga Harmony Award 2025

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Bensin telah diletakkan di dekat rumah-rumah warga...

PRIANGAN TIMUR

Rumah Lansia di Banjaranyar Ciamis Ludes Terbakar, Kerugian Rp75 Juta

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Rumah tempat tinggal dua lansia di...

77 Pejuang Kanker Dapat Santunan YKI Ciamis, Bupati Herdiat Dorong Bantuan Rutin

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Bagi pasien kanker, biaya pengobatan bukan...

Festival Literasi Ciamis 2026 Masuki Hari Kedua, Berlangsung hingga 24 September

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Festival Literasi Ciamis 2026 memasuki hari kedua...

Pemerintah Digital Ciamis 2026 Diukur lewat 35 Indikator

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Pemerintah Digital Ciamis memasuki skema evaluasi baru...

AKP Rd. Hasan Sadikin Jabat Kapolsek Cikajang, Patri Arsono Pindah ke Wanaraja

lintaspriangan.com, BERITA GARUT. AKP Rd. Hasan Sadikin kini menjabat Kapolsek...

JAWA BARAT

Hibar Budaya Saung Kopi Hawwu Dimulai Hari Ini, Berlangsung Lima Hari di Kuningan

lintaspriangan.com, BERITA KUNINGAN. Hibar Budaya Saung Kopi Hawwu mulai digelar...

Nikah Massal Kota Bandung Hari Ini, 10 Pasangan Dijadwalkan Akad di MPP

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Sebanyak 10 pasangan dijadwalkan mengikuti nikah...

Job Fair Online Depok Digelar Hari Ini, Sekitar 15 Perusahaan Ikut

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Job fair online Depok digelar...

5 Peristiwa Jawa Barat: King Kobra, Temuan Kerangka di Kuningan hingga Duka Sepak Bola

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Sejumlah peristiwa Jawa Barat terjadi...

Demplot Ubi Jalar Kuningan Naikkan Panen dari 3,5 Ton Jadi 6,3 Ton per 100 Bata

lintaspriangan.com, BERITA KUNINGAN. Penerapan demplot ubi jalar di Desa Linggamekar,...

Lulusan SMK Jabar Didorong Terhubung Langsung ke Perusahaan

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendorong...

Sumur Bor Majalengka Layani 3.599 Warga di Empat Desa Saat Kemarau

lintaspriangan.com, BERITA MAJALENGKA. Empat sumur bor Majalengka kini melayani...

Kebakaran Lahan Purwakarta, Api di Sindangpanon Dipadamkan Polisi dan Warga

lintaspriangan.com, BERITA PURWAKARTA. Kebakaran lahan Purwakarta terjadi di kawasan Kampung...

Olahraga

Popular Categories