lintaspriangan.com, BERITA MAJALENGKA. Kekeringan di Majalengka mulai mengirimkan tanda bahaya dari hamparan sawah. Hingga Juli 2026, sekitar 4.715 hektare lahan pertanian berstatus waspada karena persediaan air semakin menipis saat musim kemarau menguat.
Angka itu bukan sekadar deretan data. Di baliknya ada petani yang menatap saluran irigasi, menghitung umur tanaman, lalu bertanya dengan cemas: apakah air masih cukup membawa padinya sampai panen? Ancaman paling berat dirasakan sawah yang jauh dari sungai dan tidak memiliki sumber air tanah memadai.
Sawah Kekeringan Ringan Melonjak Jadi 108 Hektare
Data Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kabupaten Majalengka menunjukkan kondisi lahan pertanian memburuk dalam waktu satu bulan.
Pada Juni 2026, sawah yang masuk kategori kekeringan ringan tercatat seluas 24 hektare di Kecamatan Jatiwangi dan Ligung. Lahan berstatus waspada saat itu mencapai sekitar 3.313 hektare.
Memasuki Juli, kekeringan ringan meningkat menjadi 108 hektare. Wilayah terdampak meluas ke Kecamatan Jatiwangi, Kertajati, Jatitujuh, Ligung, dan Sindang. Pada saat yang sama, lahan berstatus waspada melonjak menjadi sekitar 4.715 hektare.
Status waspada memang belum berarti seluruh lahan tersebut mengalami kekeringan. Sawah masih dapat diselamatkan melalui pompanisasi, perpipaan, atau pemanfaatan sumber air yang tersedia.
Namun, peringatan tidak boleh dianggap angin kemarau yang berlalu begitu saja. BMKG memprediksi Majalengka termasuk wilayah Jawa Barat yang mengalami sifat hujan bawah normal pada Juli 2026. Secara nasional, puncak musim kemarau diperkirakan meluas pada Agustus.
Kabar baiknya, DKP3 menyatakan belum ada sawah di Majalengka yang masuk kategori puso atau gagal panen. Kondisi terberat masih berada pada kategori kekeringan ringan.
Petani Terancam Kehilangan Musim Tanam Ketiga
Masalah terbesar tidak hanya terletak pada tanaman yang sedang tumbuh. Kekeringan di Majalengka juga mengancam rencana petani memasuki musim tanam ketiga atau MT3.
Sejumlah wilayah masih mengandalkan pasokan dari Sungai Cilutung, Sungai Cimanuk, Waduk Jatigede, dan aliran Bendungan Rentang. Sawah yang berada dekat sumber air masih mempunyai peluang melanjutkan penanaman.
Sebaliknya, petani di wilayah yang tidak dilewati sungai mulai kehilangan pilihan. DKP3 bahkan menerima laporan upaya pengeboran sumur hingga kedalaman sekitar 60 meter yang tidak berhasil menemukan air. Tanpa sungai dan air tanah, pompa sebagus apa pun hanya akan bekerja seperti sedotan di gelas kosong.
Untuk mempertahankan produksi, petani yang pasokan airnya terbatas diarahkan mempertimbangkan jagung, kedelai, atau kacang hijau. Komoditas tersebut membutuhkan air lebih sedikit dibandingkan padi.
Pemerintah juga menyalurkan bantuan irigasi perpompaan kepada 76 kelompok tani. Penerima terbanyak tersebar di Kertajati, Jatitujuh, Ligung, Sumberjaya, dan Dawuan. Selain itu, terdapat rencana pembangunan perpipaan di 13 titik pada 2026.
Langkah terdekat adalah menyelamatkan tanaman musim tanam kedua yang sedang menuju panen. Sebab, ketika air berhenti mengalir menjelang bulir padi menguning, kerugian tidak hanya berhenti di sawah. Dampaknya dapat menjalar ke pendapatan petani, pasokan pangan, hingga harga beras di tingkat masyarakat.
Ikuti Lintas Priangan melalui Google dan Channel WhatsApp untuk memperoleh berita Majalengka terbaru serta informasi penting dari berbagai daerah di Jawa Barat. (AS)
Kuis Piala Dunia 2026
Tebak dua tim finalis dan skor akhir. Tiga tebakan akurat dan tercepat berhak mendapatkan hadiah uang tunai. Total hadiah jutaan rupiah.
