Suasana ziarah berlangsung khidmat. Burhanuddin datang bersama keluarga besarnya, termasuk sang kakak yang juga anggota DPR RI, TB Hasanuddin. Turut hadir Bupati Majalengka Eman Suherman beserta sejumlah pejabat daerah yang ikut mendampingi prosesi doa di kompleks pemakaman keluarga.
Doa di Pusara Orang Tua, Mengingat Nasihat yang Tak Pernah Hilang
Di bawah rindangnya pepohonan, Burhanuddin memanjatkan doa di makam ayah, ibu, kakek, nenek, hingga sejumlah anggota keluarga yang dimakamkan di lokasi tersebut.
Bagi Burhanuddin, ziarah bukan sekadar tradisi keluarga, tetapi menjadi pengingat bahwa setinggi apa pun seseorang melangkah, pada akhirnya semua akan kembali kepada Sang Pencipta.
Ia mengaku hingga kini masih memegang erat berbagai nasihat yang dahulu ditanamkan kedua orang tuanya.
“Kami selalu mengingat nasihat yang disampaikan orang tua,” ujar Burhanuddin.
Kisah Masa Kecil yang Jauh dari Kemewahan
Usai ziarah, Burhanuddin mengenang masa kecilnya yang penuh kesederhanaan.
Ia berasal dari keluarga besar dengan 10 bersaudara, di mana kehidupan sehari-hari dijalani dengan saling membantu dan berbagi.
Kini, dari sepuluh bersaudara itu, hanya empat yang masih hidup.
“Kami sangat dekat karena kami ini 10 bersaudara. Kami saling bahu-membahu menjalani kehidupan,” tuturnya
Kesederhanaan keluarga itulah yang, menurutnya, membentuk karakter hingga mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Satu Telur Dibagi Sepuluh Bersaudara
Cerita masa kecil kemudian dilanjutkan oleh TB Hasanuddin.
Ia mengenang bagaimana sang ibu mengajarkan arti berbagi melalui hal-hal yang sangat sederhana.
Salah satu kenangan yang paling membekas adalah ketika satu butir telur dadar harus dibagi rata untuk sepuluh anak.
Ibu membuat dadar telur setipis mungkin lalu dibagi menjadi sepuluh bagian sama rata,” kenangnya.
Selain itu, keduanya juga terbiasa mencari rumput sepulang sekolah untuk memberi makan kambing peliharaan keluarga.
Bagi mereka, kehidupan sederhana bukan menjadi penghalang untuk bermimpi besar.
Dari Anak Petani Menjadi Tokoh Nasional
TB Hasanuddin menilai perjalanan hidup mereka menjadi bukti bahwa latar belakang ekonomi bukan penentu masa depan seseorang.
Yang paling penting, menurutnya, adalah kemauan untuk berusaha dan tidak menyerah pada keadaan.
“Siapa pun punya hak untuk maju, berkembang, bahkan menjadi pemimpin bangsa,” ujarnya
Kini, dua bersaudara yang dahulu tumbuh di keluarga petani itu menempuh jalan pengabdian yang berbeda.
TB Hasanuddin dikenal sebagai purnawirawan TNI sekaligus anggota DPR RI, sedangkan ST Burhanuddin dipercaya memimpin institusi Kejaksaan Agung Republik Indonesia.
Jaksa Agung Ziarah Lebih dari Sekadar Tradisi
Di balik prosesi Jaksa Agung ziarah yang berlangsung sederhana, menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju puncak karier tidak pernah lepas dari nilai-nilai yang ditanamkan keluarga.
Bagi Burhanuddin, makam orang tua bukan hanya tempat mengenang masa lalu, tetapi juga ruang untuk merefleksikan perjalanan hidup dan menjaga amanah yang kini diembannya sebagai Jaksa Agung.
Di tengah kesibukan mengurus perkara-perkara besar negara, ia memilih pulang sejenak ke kampung halaman—membawa doa, mengenang perjuangan orang tua, dan menunjukkan bahwa sebesar apa pun jabatan seseorang, akar kehidupan tetap tidak boleh dilupakan. (HS)
Kuis Piala Dunia 2026
Tebak dua tim finalis dan skor akhir. Tiga tebakan akurat dan tercepat berhak mendapatkan hadiah uang tunai. Total hadiah jutaan rupiah.
