lintaspriangan.com, BERITA BEKASI. Krisis air bersih di Kabupaten Bekasi terus meluas saat musim kemarau berlangsung. Hingga Jumat, 17 Juli 2026 pukul 22.00 WIB, kekeringan telah menjangkau 39 lokasi yang tersebar di sembilan desa pada empat kecamatan.
Dampaknya tidak kecil. Sebanyak 4.929 kepala keluarga atau sekitar 13.985 jiwa tercatat menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pemerintah Kabupaten Bekasi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Palang Merah Indonesia, Balai Besar Wilayah Sungai, dan pihak kawasan industri terus mengirimkan bantuan menuju wilayah terdampak.
Berdasarkan laporan resmi Pemerintah Kabupaten Bekasi, sebanyak 904.000 liter air bersih telah didistribusikan hingga batas waktu pendataan pada Jumat malam.
BPBD Kabupaten Bekasi menjadi narasumber kelembagaan dalam pembaruan data tersebut. Peg terbaru berita ini adalah penyaluran bantuan tambahan ke Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, pada Sabtu, 18 Juli 2026.
Selain menerima pasokan 20.000 liter air bersih, warga Ridogalih juga memperoleh tandon, jeriken, dan ember. Bantuan tersebut memperkuat upaya pemenuhan kebutuhan air di salah satu desa dengan jumlah titik kekeringan terbanyak di Kabupaten Bekasi.
39 Titik Kekeringan Tersebar di Empat Kecamatan
Sebaran kekeringan paling banyak ditemukan di Kecamatan Bojongmangu. Sebanyak 17 titik krisis air terpetakan pada empat desa di kecamatan tersebut.
Rinciannya, satu titik berada di Desa Sukamukti, satu titik di Desa Sukabungah, enam titik di Desa Medalkrisna, dan sembilan titik di Desa Karang Indah. Luasnya sebaran tersebut menunjukkan kebutuhan distribusi tidak hanya terpusat di satu permukiman.
Kecamatan Cibarusah mencatat 10 titik kekeringan. Sembilan titik di antaranya berada di Desa Ridogalih, sedangkan satu titik lainnya tercatat di Desa Cibarusah Jaya.
Di Kecamatan Serang Baru, krisis air bersih melanda delapan titik di Desa Nagasari dan satu titik di Desa Sukasari. Sementara itu, tiga titik lainnya ditemukan di Desa Karangsegar, Kecamatan Pebayuran.
Dengan demikian, sembilan desa yang masuk dalam pendataan kekeringan adalah Ridogalih, Cibarusah Jaya, Nagasari, Sukasari, Sukamukti, Sukabungah, Medalkrisna, Karang Indah, dan Karangsegar.
Data tersebut memperlihatkan bahwa kekeringan Kabupaten Bekasi tidak hanya terjadi pada kawasan selatan. Dampaknya telah menjangkau Pebayuran yang berada di wilayah berbeda, sehingga kebutuhan armada dan pengaturan jadwal distribusi menjadi semakin besar.
Air bersih yang dikirim menggunakan mobil tangki menjadi penyangga kebutuhan warga ketika sumber air di sekitar permukiman tidak lagi mampu menyediakan pasokan memadai. Pemerintah desa dan kecamatan turut berperan menyampaikan laporan kebutuhan kepada BPBD.
Ketepatan data menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Setiap pertambahan titik kekeringan dapat memengaruhi rute kendaraan, volume air yang dikirim, serta frekuensi pelayanan bagi warga.
904 Ribu Liter Disalurkan, Ridogalih Mendapat Bantuan Baru
Dari total 904.000 liter yang tercatat hingga Jumat malam, BPBD Kabupaten Bekasi menjadi penyumbang pasokan terbesar dengan mendistribusikan 590.000 liter air bersih.
PMI telah menyalurkan 250.000 liter. Dukungan lainnya berasal dari Deltamas sebanyak 33.000 liter, BBWS sebesar 28.000 liter, serta PT Hyundai sebanyak 3.000 liter.
Kolaborasi tersebut diperlukan karena jumlah penerima bantuan telah mencapai belasan ribu jiwa. Distribusi air harus tetap berjalan sembari pemerintah memantau desa lain yang berpotensi mengalami kesulitan serupa.
Pada Sabtu, 18 Juli 2026, PMI Pusat kembali menyalurkan 20.000 liter air bersih untuk warga Kampung Cihanjuang, Desa Ridogalih. Bantuan hari Sabtu ini disampaikan setelah batas pendataan 904.000 liter pada Jumat pukul 22.00 WIB.
Selain air bersih, bantuan yang diberikan meliputi dua tandon berkapasitas masing-masing 5.000 liter dan dua tandon berkapasitas masing-masing 2.000 liter. Sebanyak 200 jeriken dan 100 ember juga disalurkan agar warga memiliki wadah untuk mengambil dan menyimpan air.
Tandon menjadi penting karena pasokan dari kendaraan tangki memerlukan tempat penyimpanan yang dapat digunakan secara bersama. Sementara itu, jeriken dan ember membantu warga membawa air menuju rumah masing-masing secara lebih teratur.
Bantuan tersebut belum menjadi tanda bahwa krisis telah berakhir. Distribusi air masih merupakan penanganan darurat untuk menjaga kebutuhan dasar masyarakat selama sumber air belum kembali mencukupi.
Warga yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih juga perlu menyampaikan laporan melalui pemerintah desa atau kecamatan. Laporan itu menjadi dasar bagi BPBD Kabupaten Bekasi untuk melakukan pengecekan dan menentukan prioritas distribusi berikutnya.
Perkembangan kekeringan Kabupaten Bekasi selanjutnya akan sangat bergantung pada kondisi musim kemarau, ketersediaan sumber air, dan kemampuan menjaga distribusi ke 39 titik terdampak. Untuk saat ini, pasokan air bersih menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda bagi 13.985 warga. ( SS/AS )
