lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Percobaan bunuh diri di Bandung menjadi perhatian serius Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, setelah persoalan kesehatan mental disebut semakin nyata dirasakan masyarakat, termasuk kelompok usia produktif hingga anak-anak sekolah.
Kekhawatiran itu disampaikan Farhan saat meluncurkan pelayanan psikologi klinis pada 12 UPTD Puskesmas Kota Bandung, Selasa (12/5/2026). Ia menilai, meningkatnya tekanan hidup, persoalan ekonomi, beban sosial, hingga gangguan psikologis tidak boleh lagi dianggap sebagai urusan pribadi yang cukup disimpan diam-diam.
Menurut Farhan, salah satu tanda yang membuatnya sangat khawatir adalah kabar mengenai percobaan bunuh diri yang terus muncul. Ia menyebut persoalan itu harus dicegah secara serius, bukan hanya dengan imbauan, tetapi juga melalui layanan yang mudah dijangkau masyarakat.
“Salah satu indikator yang menakutkan buat saya adalah percobaan bunuh diri di Kota Bandung, tiap hari ada saja beritanya. Ini harus dicegah dengan sangat serius,” ujar Farhan.
Pernyataan itu menjadi alarm keras bahwa kesehatan mental di Bandung bukan lagi isu pinggiran. Pemerintah daerah, menurut Farhan, harus hadir lebih awal sebelum tekanan psikologis warga berubah menjadi tindakan yang membahayakan keselamatan diri.
Sebagai langkah awal, Pemkot Bandung menghadirkan layanan psikologi klinis Bandung pada 12 puskesmas. Layanan ini disiapkan untuk membuka akses konseling bagi warga yang membutuhkan bantuan profesional, terutama mereka yang mulai merasa tertekan, cemas, kehilangan arah, atau sulit menemukan tempat bercerita.
Ke-12 fasilitas kesehatan tersebut terdiri atas Puskesmas Babakan Sari, Garuda, Cibuntu, Cipamokolan, Kopo, Puter, Padasuka, Ibrahim Adjie, Sukarasa, Pasirkaliki, Salam, dan Cipadung. Dengan demikian, 12 puskesmas di Kota Bandung mulai menjadi titik layanan awal bagi warga yang membutuhkan pendampingan psikologis.
Farhan menjelaskan, layanan ini merupakan bagian dari amanat Permenkes Nomor 19 Tahun 2024 yang mendorong kehadiran tenaga psikologi klinis pada fasilitas kesehatan tingkat pertama. Setiap puskesmas nantinya ditargetkan memiliki satu tenaga psikolog klinis yang melayani konseling setiap hari kerja.
Dalam satu hari, layanan tersebut ditargetkan mampu menangani hingga 10 pasien. Artinya, keberadaan psikolog klinis puskesmas Bandung diharapkan dapat memperluas jangkauan pertolongan awal bagi masyarakat yang selama ini mungkin bingung harus mencari bantuan ke mana.
Farhan menegaskan, konseling psikologi di puskesmas harus dilakukan dalam ruang yang memenuhi standar privasi. Menurutnya, layanan kesehatan mental tidak bisa dilakukan sembarangan karena warga membutuhkan rasa aman, nyaman, dan terlindungi saat menyampaikan masalah pribadi.
“Pertimbangan utamanya adalah kesiapan ruang. Untuk psikologi klinis ini tidak boleh sembarangan, privasinya harus sangat kuat,” ungkapnya.
Pemilihan 12 puskesmas sebagai tahap awal disebut bukan semata-mata berdasarkan kepadatan wilayah. Farhan menjelaskan, faktor utama yang dipertimbangkan adalah kesiapan fasilitas, ruangan, dan sumber daya kesehatan agar pelayanan benar-benar dapat berjalan layak.
Ia juga menyoroti bahwa gangguan psikologis kini tidak hanya dialami orang dewasa. Tekanan hidup bahkan mulai menyasar pelajar. Karena itu, isu gangguan kesehatan mental anak sekolah harus menjadi perhatian bersama, baik oleh keluarga, sekolah, pemerintah, maupun lingkungan sosial.
Menurut Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, masyarakat tidak boleh lagi menganggap curhat sebagai hal sepele. Bercerita kepada orang yang tepat dapat menjadi langkah awal untuk mencegah tekanan batin berkembang semakin berat.
“Curhat. Satu curhat, cari teman ngobrol. Kedua ibadah,” tuturnya.
Pemkot Bandung juga mulai melakukan langkah pencegahan pada sejumlah titik yang dinilai rawan menjadi lokasi percobaan bunuh diri. Namun, Farhan menegaskan bahwa pencegahan paling penting tetap dimulai dari penguatan layanan kesehatan mental pada fasilitas kesehatan dasar.
Layanan konseling ini terbuka bagi siapa saja, baik warga Kota Bandung maupun warga luar daerah. Farhan menyebut fasilitas kesehatan tidak boleh bersifat eksklusif karena persoalan kesehatan mental dapat dialami siapa pun.
Dengan hadirnya layanan tersebut, percobaan bunuh diri di Bandung diharapkan dapat dicegah melalui deteksi dini, konseling, serta pendampingan yang lebih manusiawi. Pemerintah ingin warga tidak menunggu sampai berada pada titik paling rapuh sebelum mencari bantuan.
Farhan pun mengajak masyarakat untuk tidak malu datang ke puskesmas. Sebab, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan tubuh. Luka batin memang tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya bisa sangat dalam jika terus dibiarkan.
Bagi Pemkot Bandung, penguatan layanan ini menjadi langkah awal untuk menjawab ancaman serius yang sedang tumbuh diam-diam di tengah masyarakat. Dengan akses psikolog klinis yang lebih dekat, percobaan bunuh diri di Bandung tidak lagi hanya menjadi kabar memilukan, tetapi menjadi panggilan bersama untuk bergerak lebih cepat. (MUL/AS)



