lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung kembali menggenjot upaya menekan angka pengangguran melalui penyelenggaraan Job Fair Bandung 2026 yang menghadirkan ribuan peluang kerja. Kegiatan yang digelar di Teras Sunda Cibiru, Sabtu 25 April 2026 ini menjadi salah satu langkah konkret untuk mempertemukan pencari kerja dengan kebutuhan dunia usaha secara langsung.
Dalam kegiatan tersebut, tersedia hingga 3.528 lowongan pekerjaan dari 19 perusahaan yang terlibat. Angka ini sekaligus menunjukkan besarnya kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor, sekaligus peluang yang terbuka bagi masyarakat, terutama lulusan baru yang tengah mencari pekerjaan.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai perantara antara pencari kerja dan penyedia lapangan kerja. Ia menekankan pentingnya menciptakan keselarasan antara kebutuhan industri dan ketersediaan tenaga kerja.
“Pemerintah memiliki fungsi untuk memastikan terjadinya link and match antara pencari kerja dan penyedia kerja. Setiap peluang yang dibuat oleh pengusaha harus dibukakan pintu dan jendelanya oleh pemerintah kota,” ujar Farhan.
Menurutnya, tantangan ketenagakerjaan di Kota Bandung masih cukup besar. Tingkat pengangguran terbuka saat ini berada di kisaran 7,44 persen, bahkan di wilayah Bandung Timur mencapai 8 hingga 9 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata Jawa Barat, sehingga membutuhkan intervensi yang lebih intensif dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Bandung, Yayan A. Berliana, menjelaskan bahwa job fair ini dirancang sebagai langkah strategis untuk mempertemukan pencari kerja dengan perusahaan secara langsung maupun melalui sistem digital. Pendekatan ini dinilai mampu memperluas akses dan meningkatkan peluang terserapnya tenaga kerja.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan pencari kerja memiliki peluang nyata untuk mendapatkan pekerjaan sesuai kompetensinya, sekaligus membantu perusahaan memperoleh tenaga kerja yang berkualitas,” kata Yayan.
Tak hanya mengandalkan pertemuan langsung, Pemkot Bandung juga mengintegrasikan sistem rekrutmen dengan platform digital. Salah satunya melalui aplikasi New BIMMA yang menyediakan layanan ketenagakerjaan secara komprehensif, serta kolaborasi dengan berbagai portal lowongan kerja yang menawarkan ribuan posisi tambahan.
Selain itu, sistem pelaksanaan job fair kini mengadopsi konsep hybrid, yakni kombinasi antara offline dan online. Proses lamaran hingga wawancara kerja ke depan akan semakin banyak dilakukan secara daring untuk meningkatkan efisiensi waktu, tenaga, dan anggaran.
Dalam pelaksanaan kali ini, tercatat sekitar 1.300 pencari kerja telah mendaftar, dengan ratusan di antaranya hadir langsung di lokasi. Dari ribuan lowongan yang tersedia, Dinas Ketenagakerjaan menargetkan lebih dari setengahnya dapat terserap.
Lebih jauh, Farhan juga melihat potensi besar Kota Bandung dari sisi sumber daya manusia. Dengan tingkat pendidikan masyarakat yang relatif tinggi, ia optimistis kondisi tersebut dapat menjadi daya tarik bagi investor untuk membuka lebih banyak lapangan kerja.
“Kita harus ubah cara pandang. Penyediaan tenaga kerja bukan beban bagi investor, tapi justru potensi besar yang kita tawarkan,” ujarnya.
Untuk memperkuat upaya tersebut, Pemkot Bandung berencana meningkatkan frekuensi penyelenggaraan job fair. Jika sebelumnya digelar setiap tiga bulan, ke depan kegiatan ini akan dilaksanakan lebih rutin, bahkan ditargetkan bisa berlangsung setiap bulan.
Selain membuka akses pekerjaan, pemerintah juga mendorong peningkatan kompetensi melalui berbagai program pelatihan. Langkah ini dinilai penting agar tenaga kerja lokal mampu bersaing dan memenuhi kebutuhan industri yang terus berkembang.
Dengan kombinasi strategi offline dan digital, serta dukungan data dan kolaborasi lintas sektor, Job Fair Bandung 2026 diharapkan menjadi momentum penting dalam menekan angka pengangguran sekaligus membuka jalan bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. (AS)
