lintaspriangan.com, BERITA GARUT. SDN 3 Sukanegla di Kelurahan Sukanegla, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, mulai membangun fasilitas sekolah baru dengan memanfaatkan bata plastik daur ulang.
Langkah ini ditandai dengan prosesi Peletakan Bata Plastik Daur Ulang Pertama yang dihadiri Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, Kamis, 11 Juni 2026.
Pembangunan tersebut menjadi salah satu terobosan infrastruktur pendidikan ramah lingkungan di Kabupaten Garut. Fasilitas baru yang dibangun meliputi dua Ruang Kelas Baru atau RKB dan toilet sekolah.
Program ini mendapat dukungan dari Yayasan Bakti Barito. Material yang digunakan bukan hanya berfungsi sebagai bahan bangunan, tetapi juga membawa pesan penting tentang pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular.
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi tersebut. Ia menilai pemanfaatan bata plastik daur ulang sejalan dengan arah pembangunan pendidikan yang berkelanjutan.
“Menurut saya, ini adalah sesuatu yang sesuai dengan apa yang kita inginkan terkait dengan pembangunan di bidang pendidikan,” ujar Abdusy Syakur Amin.
Menurut Bupati, dinding RKB di SDN 3 Sukanegla dibangun menggunakan material berbahan dasar sampah plastik yang telah didaur ulang dan dikelola secara modern. Ia berharap inovasi tersebut tidak berhenti di satu sekolah saja.
“Saya berharap adanya terobosan yang digagas oleh Bakti Barito memiliki dampak signifikan di bidang pendidikan, sekaligus menjadi contoh nyata bagi masyarakat Garut tentang pentingnya pengelolaan sampah serta kesehatan,” katanya.
Ia juga berharap kerja sama serupa dapat diperluas ke tempat lain di Kabupaten Garut. Dengan begitu, pembangunan fasilitas publik tidak hanya menjawab kebutuhan layanan dasar, tetapi juga ikut mendorong kesadaran lingkungan.
Direktur Eksekutif Yayasan Bakti Barito, Fifi Pangestu, menjelaskan bahwa pembangunan gedung baru SDN 3 Sukanegla membawa misi lingkungan yang kuat. Menurutnya, sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi fasilitas yang bermanfaat bagi masyarakat.
Fifi menerangkan, material bangunan sekolah tersebut berasal dari hasil daur ulang sampah plastik residu. Jenis sampah ini biasanya menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir atau TPA karena sulit didaur ulang dengan metode konvensional.
Dalam pembangunan SDN 3 Sukanegla, material daur ulang digunakan untuk sejumlah komponen utama. Di antaranya panel dinding pengganti bata konvensional, plafon bangunan, hingga sistem perpipaan air terpadu.
“Kami ingin menunjukkan bahwa sampah residu kini dapat menjadi bagian dari solusi. Langkah ini tidak hanya mengurangi timbulan sampah, tetapi juga menghadirkan infrastruktur serta fasilitas pendidikan yang lebih baik bagi generasi mendatang,” ujar Fifi.
Pembangunan SDN 3 Sukanegla dengan bata plastik daur ulang ini diharapkan menjadi contoh bahwa sekolah dapat menjadi ruang belajar yang tidak hanya nyaman, tetapi juga mengajarkan kepedulian lingkungan secara nyata.
Melalui kolaborasi pemerintah daerah dan pihak yayasan, fasilitas pendidikan di Garut didorong bergerak ke arah yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan. (AI/AS)






















