lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan pelibatan 25.000 mahasiswa untuk membantu mengurangi sampah Bandung Raya melalui pendampingan warga. Program tersebut menargetkan pengurangan sampah sebesar 20 persen dari sumbernya, terutama rumah tangga.
Rencana itu disampaikan Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman setelah berkoordinasi dengan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan di Balai Kota Bandung, Kamis (15/10/2026). Dalam rilis Humas Jabar pada Jumat (16/10/2026), pemerintah menyebut sasaran program mencakup 50 kecamatan.
Mahasiswa Dampingi Warga Mengurangi Sampah Bandung Raya
Pemprov telah berkomunikasi dengan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah IV untuk melibatkan mahasiswa dari sekitar 90 perguruan tinggi. Mereka direncanakan bekerja bersama camat, lurah, pengurus RW, dan masyarakat.
Pendampingan diarahkan pada pengurangan sampah makanan, pemilahan, penggunaan kembali, serta daur ulang. Dari cakupan yang diumumkan, 26 kecamatan berada di Kota Bandung.
Program ini mengembangkan pengalaman pendampingan di Arcamanik. Dalam penjelasan sebelumnya pada 6 Oktober, Herman menyebut uji coba melibatkan sekitar 500 mahasiswa selama tiga bulan. Menurut evaluasi pemerintah, timbulan sampah turun sekitar 20 persen dan pemilahan meningkat dua kali lipat.
Saat itu, pemerintah juga merencanakan pendampingan selama tiga bulan mulai Oktober 2026. Mahasiswa akan dibekali modul dan perangkat digital, dengan kegiatan yang direncanakan memperoleh konversi 10 SKS.
Cakupan awal disebut sekitar 52 kecamatan, sedangkan rilis terbaru mencantumkan 50 kecamatan. Kedua publikasi belum menjelaskan perbedaan tersebut.
Pengurangan Sampah Bandung Raya Diharapkan Ringankan Sarimukti
Dengan perkiraan timbulan 5.000 ton sehari, pemerintah menghitung pengurangan 20 persen berpotensi menekan sekitar 1.000 ton sampah sebelum sampai ke penanganan hilir. Angka tersebut merupakan sasaran program, belum hasil pelaksanaan di seluruh wilayah.
Dalam penjelasan 6 Oktober, Herman juga menyoroti fasilitas pengolahan yang belum optimal karena menerima sampah bercampur. Budidaya maggot, misalnya, membutuhkan bahan organik yang sudah dipisahkan dari plastik dan material lainnya.
“Urusan perilaku tidak seperti membalikkan telapak tangan, tetapi harus dilakukan,” kata Herman dalam rilis Humas Jabar.
Di Sarimukti, pemerintah menyiapkan pemadatan timbunan hingga Desember 2026 dan merencanakan dua dinding penahan untuk mengurangi risiko longsor. Pembangunannya ditargetkan mulai awal 2027.
(AA)
