lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Universitas Siliwangi (Unsil) mengembangkan digitalisasi Situs Citapen Ciamis dan Gua Aul sebagai bagian dari model laboratorium pembelajaran prasejarah. Riset tersebut masuk dalam program penelitian Unsil 2026 dan berkembang setelah kajian pendidikan warisan budaya dibawa ke forum arkeologi internasional pada September 2026.
Pengembangan itu menempatkan dua situs prasejarah di Kabupaten Ciamis sebagai bahan pembelajaran yang saling terkait. Namun, hubungan Citapen dan Gua Aul sebagai satu lanskap budaya masih berupa interpretasi penelitian yang terus dikaji, bukan kesimpulan arkeologis final.
Citapen dan Gua Aul Dikaji sebagai Satu Lanskap
Dokumen penerima hibah penelitian Unsil 2026 mencatat riset yang dipimpin Yulia Sofiani dengan fokus digitalisasi model virtual living laboratory berbasis lanskap budaya petroglif Citapen-Gua Aul untuk pembelajaran mahasiswa Pendidikan Sejarah.
Kajian mengenai Situs Citapen Ciamis juga dipaparkan dalam penelitian arkeologi yang membahas seni cadas berupa petroglif atau goresan pada permukaan batu. Penelitian tersebut menempatkan Citapen sebagai tinggalan prasejarah di bagian barat Pulau Jawa dan membahas kemungkinan keterkaitannya dengan Gua Aul.
Kajian itu memperkirakan seni cadas Citapen berasal dari rentang Mesolitik hingga Paleometalik. Meski demikian, penelitian tersebut menegaskan periodisasi situs belum dapat dipastikan secara laboratoris sehingga kesimpulan mengenai hubungan kedua lokasi masih memerlukan kajian lebih lanjut.
Dokumen Pemerintah Kabupaten Ciamis juga mencantumkan Situs Citapen di Kecamatan Rajadesa dan Gua Aul di Kecamatan Banjaranyar sebagai bagian dari daftar situs cagar budaya di daerah tersebut.
Dikembangkan untuk Pembelajaran Sejarah
Pendekatan yang dikembangkan Unsil tidak hanya mendokumentasikan situs. Materi konferensi Indo-Pacific Prehistory Association menyebut proyek tersebut mengintegrasikan arkeologi lanskap prasejarah ke dalam kurikulum Pendidikan Sejarah serta melibatkan komunitas lokal dan pemerintah desa.
Tahap awal pembelajaran lapangan telah dilakukan di kawasan petroglif Citapen. Pengembangannya kemudian diperluas dengan memasukkan Gua Aul agar mahasiswa dapat mempelajari kedua lokasi sebagai sebuah “laboratorium prasejarah” yang lebih utuh.
Riset Situs Citapen Ciamis juga mendapat ruang dalam forum internasional. Yulia Sofiani bersama Oka Agus Kurniawan Shavab tercatat menjadi penyelenggara sesi mengenai pendidikan warisan budaya dan keterlibatan masyarakat pada XXI World Congress UISPP di Poznań, Polandia, 4 September 2026. Kongres tersebut diikuti lebih dari 700 peneliti dari berbagai negara dan berakhir pada tanggal yang sama.
Digitalisasi memberi jalur lain bagi mahasiswa untuk mengenali tinggalan prasejarah sebelum atau setelah pembelajaran lapangan. Pada saat yang sama, interpretasi mengenai fungsi serta hubungan Citapen dan Gua Aul tetap membutuhkan dukungan penelitian arkeologis lanjutan agar tidak diperlakukan sebagai fakta yang sudah final. (NS/AS)







