lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Kekeringan sawah Tasikmalaya telah menjangkau 878,99 hektare lahan yang berada dalam daerah irigasi kewenangan Pemerintah Kota Tasikmalaya. Memasuki Rabu, 16 September 2026, kondisi itu berlangsung saat BMKG memprediksi Kota Tasikmalaya mengalami sifat hujan bawah normal selama September.
Hasil pemantauan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUTR) Kota Tasikmalaya pada Agustus 2026 menunjukkan 15 dari 29 daerah irigasi sudah tidak memiliki pasokan air di pintu pengambilan. Selain lahan yang telah kering, sekitar 388,50 hektare sawah lainnya tercatat terancam kekeringan.
Lebih dari Separuh Daerah Irigasi Kehabisan Air
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUTR Kota Tasikmalaya Rino Isa Muharam menyebut penurunan debit terjadi pada jaringan irigasi yang menjadi kewenangan pemerintah kota. Data pemerintah daerah sebelumnya mencatat Kota Tasikmalaya memiliki 29 daerah irigasi kewenangan kota dengan luas layanan 1.749 hektare.
Dari jumlah tersebut, 15 daerah irigasi dilaporkan tidak lagi mendapatkan air pada pintu pengambilan. Sebanyak 13 daerah irigasi lainnya mengalami penurunan ketersediaan air. Kondisi itu mempersempit pasokan bagi lahan pertanian menjelang musim tanam ketiga.
Dengan luas 878,99 hektare, kekeringan sawah Tasikmalaya telah memengaruhi sekitar separuh dari 1.749 hektare daerah irigasi yang berada di bawah kewenangan pemerintah kota. Angka tersebut tidak mencakup seluruh daerah irigasi di Kota Tasikmalaya karena terdapat jaringan lain yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi dan pusat.
Persoalan pengairan juga muncul sebelum kekeringan meluas. Data Dinas PUTR pada Juli 2026 menunjukkan lebih dari 50 kilometer saluran irigasi primer dan sekunder mengalami kerusakan dalam kategori ringan hingga berat. Namun, data itu tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa kerusakan jaringan menjadi penyebab seluruh lahan yang kini mengalami kekeringan.
Petani Disarankan Pertimbangkan Palawija
Dinas PUTR meminta petani tidak memaksakan penanaman padi pada musim tanam III ketika ketersediaan air belum mencukupi. Palawija disarankan sebagai alternatif untuk menyesuaikan pola tanam dengan kondisi pasokan air.
Pada jaringan yang masih memiliki pasokan, pengaturan air dilakukan secara bergiliran melalui pintu-pintu irigasi. Langkah tersebut ditujukan agar air yang tersisa dapat digunakan oleh lahan yang masih terjangkau jaringan pengairan.
Kondisi kekeringan sawah Tasikmalaya berlangsung di tengah prediksi BMKG bahwa curah hujan Kota Tasikmalaya selama September 2026 berada pada kategori bawah normal dibanding rata-rata klimatologis. Artinya, kebutuhan air pertanian masih perlu disesuaikan dengan kondisi aktual sumber air dan jaringan irigasi di masing-masing wilayah.
Dinas PUTR belum menyatakan seluruh 388,50 hektare lahan yang terancam akan mengalami gagal panen. Status tersebut menunjukkan lahan berisiko terdampak apabila pasokan air terus berkurang, sehingga perkembangan kondisi irigasi tetap menjadi faktor penting menjelang penanaman berikutnya. (NS/AS)







