lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA – Menyusutnya lahan produktif di Kota Tasikmalaya mulai menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Rd Diky Candra Negara (KDC), mengingatkan pentingnya menjaga keberadaan sawah abadi yang selama ini menjadi penyangga ketahanan pangan daerah.
Menurutnya, pembangunan tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan lahan pertanian yang telah ditetapkan sebagai kawasan lindung. Di tengah kebutuhan ruang yang terus meningkat, pemerintah dan masyarakat harus mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.
Sawah Abadi Tidak Bisa Ditawar
KDC menegaskan bahwa lahan pertanian produktif memiliki fungsi strategis yang tidak dapat digantikan begitu saja oleh pembangunan fisik.
Ia mengingatkan bahwa sawah abadi merupakan aset penting yang harus dilindungi demi keberlangsungan generasi mendatang serta menjaga ketahanan pangan Kota Tasikmalaya.
“Kalau di masyarakat masih ada lahan, kita juga memiliki kewajiban menjaga dan melindungi lahan abadi yang sudah ditetapkan, terutama kawasan persawahan. Itu tidak bisa ditawar,” tegasnya.
Menurut KDC, pembangunan yang berkelanjutan harus mempertimbangkan dampak lingkungan dan tidak hanya berorientasi pada pembangunan gedung maupun pembukaan lahan baru.
Optimalkan Aset yang Sudah Ada
Daripada terus membuka kawasan baru, KDC mendorong pemerintah untuk lebih fokus memanfaatkan aset yang telah tersedia. Ia menilai masih banyak aset milik pemerintah yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Menurutnya, berbagai aset milik pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi yang tersebar di wilayah Tasikmalaya dapat dioptimalkan untuk menunjang kebutuhan pembangunan tanpa harus mengorbankan lahan produktif.
“Yang terpenting adalah bagaimana memanfaatkan apa yang sudah ada dan memperkuat yang sudah tersedia. Semua harus disesuaikan dengan konsep pembangunan ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menyebut terdapat puluhan aset yang berpotensi dimanfaatkan secara lebih efisien sehingga persoalan keterbatasan lahan tidak perlu diselesaikan dengan mengalihfungsikan area pertanian.
Kritik Gaya Hidup Konsumtif
Dalam kesempatan tersebut, KDC juga menyinggung pola pikir masyarakat yang terkadang terlalu berorientasi pada kepemilikan ruang yang besar tanpa mempertimbangkan efektivitas penggunaannya.
Menurutnya, prinsip yang sama berlaku dalam tata kelola kota. Ketika ruang yang tersedia tidak dimanfaatkan secara optimal, maka kesempatan masyarakat lain untuk memperoleh ruang juga menjadi terbatas.
Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti seseorang yang memiliki rumah besar namun sebagian besar ruangnya tidak digunakan secara maksimal.
“Kalau ruang yang ada tidak dimanfaatkan dengan baik, maka akan membatasi kebutuhan orang lain. Karena itu pemanfaatan lahan harus dilakukan secara bijak dan efisien,” katanya.
Ketahanan Pangan Jadi Taruhan
KDC menegaskan bahwa penyelamatan sawah abadi bukan hanya persoalan tata ruang, melainkan menyangkut masa depan ketahanan pangan Kota Tasikmalaya.
Di tengah semakin tingginya tekanan pembangunan dan kebutuhan lahan permukiman, pemerintah daerah diharapkan tetap konsisten menjaga kawasan pertanian produktif agar tidak terus tergerus alih fungsi lahan.
Menurutnya, pembangunan yang ideal adalah pembangunan yang mampu tumbuh tanpa menghilangkan ruang hidup bagi lingkungan dan sektor pertanian yang menjadi salah satu fondasi ekonomi masyarakat. (KRS/HS)
Kuis Piala Dunia 2026
Tebak dua tim finalis dan skor akhir. Tiga tebakan akurat dan tercepat berhak mendapatkan hadiah uang tunai. Total hadiah jutaan rupiah.

