Rp621 Miliar Tak Terserap, DPRD Kabupaten Tasikmalaya Kamana Wae?!

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Menjelang tutup tahun anggaran 2025, suara DPRD Kabupaten Tasikmalaya terdengar makin nyaring. Para legislator mulai melontarkan kritik atas rendahnya serapan anggaran daerah yang hingga pertengahan Desember baru mencapai 82,2 persen. Artinya, sekitar Rp621 miliar dana publik masih mengendap di kas daerah. Namun sorotan tajam justru datang dari pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa fungsi pengawasan DPRD baru terasa ketika tahun anggaran hampir habis?

Peminat masalah kebijakan publik dari Albadar Institute, Diki Samani, menilai sikap DPRD Kabupaten Tasikmalaya yang baru lantang di akhir tahun menunjukkan lemahnya pengawasan sejak awal. “Kalau DPRD baru ribut ketika anggaran sudah tersisa ratusan miliar, itu berarti pengawasannya gagal fungsi. Karena pada tahap itu, ruang koreksi sudah hampir tidak ada,” kata Diki kepada Lintas Priangan, Minggu (21/12/2025).

Menurut Diki, pengawasan anggaran bukan peristiwa insidental yang menunggu laporan akhir tahun. Ia adalah proses berkelanjutan yang seharusnya berjalan sejak APBD disahkan. “Serapan anggaran itu bisa dibaca setiap saat. Kalau ada keterlambatan serapan, seharusnya DPRD segera turun tangan, memanggil dinas terkait, bukan menunggu Desember,” ujarnya.

- Advertisement -

Data realisasi belanja menunjukkan masalah yang bersifat struktural. Dinas Pekerjaan Umum, Tata Ruang, dan Lingkungan Hidup tercatat baru menyerap sekitar 47 persen anggaran. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menyisakan lebih dari Rp242 miliar dari total pagu Rp1,32 triliun. Sementara Dinas Kesehatan pun belum mencapai realisasi optimal. Pola ini, kata Diki, tidak mungkin muncul tiba-tiba. “Ini bukan penyakit musiman. Gejalanya pasti sudah terlihat sejak beberapa waktu lalu,” katanya.

Diki menilai, alasan klasik seperti perencanaan buruk, konflik politik pasca Pilkada, hingga rotasi-mutasi pejabat memang berkontribusi. Namun faktor itu tidak bisa dijadikan pembenaran bagi DPRD untuk bersikap pasif. “Justru ketika situasi politik dan birokrasi tidak stabil, peran pengawasan DPRD seharusnya lebih kuat, bukan melemah,” ujarnya.

Ia lalu menyinggung soal instrumen pengawasan yang sebenarnya sudah tersedia dan bersifat terbuka. Dalam sistem pengadaan pemerintah, terdapat Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) yang memuat seluruh rencana belanja setiap SKPD sejak awal tahun. Dari sana, publik saja bisa melihat paket apa saja yang direncanakan, nilai anggarannya, serta jadwal pelaksanaannya. “SIRUP itu janji belanja pemerintah kepada publik. Kalau di situ tercantum banyak paket tapi realisasinya minim, berarti ada masalah sejak awal,” jelas Diki.

Selain SIRUP, terdapat pula aplikasi AMEL (Aplikasi Monitoring dan Evaluasi Lokal) yang digunakan untuk memantau progres pengadaan, mulai dari tahap perencanaan, proses tender, hingga kontrak dan pembayaran. Dengan AMEL, pergerakan paket bisa dilihat secara periodik. “Dengan menggabungkan data SIRUP dan AMEL, siapa pun bisa tahu paket mana yang jalan, mana yang mandek. Bahkan masyarakat sipil bisa memantaunya. Apalagi DPRD, yang secara fungsi memang pengawas,” kata Diki.

Menurutnya, jika DPRD memanfaatkan dua instrumen tersebut secara serius, banyak persoalan bisa dicegah lebih dini. Paket yang belum masuk proses lelang, kegiatan yang berlarut-larut di tahap perencanaan, hingga SKPD yang ragu mengeksekusi anggaran, bahkan beragam indikasi persekongkolan, akan langsung terdeteksi.
“Masalahnya bukan kekurangan alat, tapi kemauan dan kapasitas memanfaatkan alat itu,” ujarnya.

Diki menyebut, ketika pengawasan tidak dilakukan secara serius, birokrasi cenderung bermain aman. Pejabat memilih menunda keputusan ketimbang mengambil risiko, apalagi di tengah mutasi dan tarik-menarik politik. Dampaknya, anggaran dibiarkan mengendap, sementara kebutuhan publik tak kunjung terpenuhi. “Ini bukan selalu soal korupsi. Kadang hanya soal pembiaran. Tapi pembiaran itu tetap merugikan rakyat,” katanya.

Ia menegaskan, kritik DPRD di akhir tahun tetap penting sebagai catatan publik. Namun tanpa evaluasi ke dalam, kritik itu berpotensi kehilangan makna. “Pengawasan yang datang di akhir tahun itu bukan pencegahan, melainkan penyesalan. Rakyat butuh DPRD yang bekerja sejak awal, bukan sekadar vokal di garis finis,” ujarnya.

Kondisi di Kabupaten Tasikmalaya ini, menurut Diki, harus menjadi pelajaran bersama. Anggaran besar tidak otomatis menjamin kesejahteraan jika tata kelolanya rapuh. Tanpa pengawasan legislatif yang aktif, rutin, dan berbasis data, APBD berisiko menjadi dokumen megah yang gagal menjawab kebutuhan warga.

“Rp621 miliar itu bukan sekadar angka. Itu jalan yang tak dibangun, layanan kesehatan yang tertunda, dan fasilitas pendidikan yang menunggu. Kalau DPRD cuma bisa bicara, serahkan saja semua fungsi dewan pada LSM dan mahasiswa. Apalagi ketika bertanya di akhir tahun, publik wajar balik bertanya: kamana wae salila ieu? ” pungkas Diki. (AS)

JEJAK HEROIK JABAR

Membuka Jejak Pejuang Tionghoa di Cirebon

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ada satu kalimat pendek dalam arsip...

Taktik Buaya Mangap Pejuang Cirebon Bikin Belanda Kocar-kacir

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jembatan-jembatan menuju Bantarjati tampak seperti sedang...

Selama 5 Bulan, Markas Belanda Digempur Pejuang Cikatomas

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ketika malam turun di wilayah selatan...

Pesantren Langkaplancar yang Berubah Menjadi Markas Laskar

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jauh dari pantai yang kini menjadi...

Dari Perlindungan 1947 hingga Harmony Award 2025

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Bensin telah diletakkan di dekat rumah-rumah warga...

PRIANGAN TIMUR

PEPATAH MANIS Ciamis Hadirkan 58 Layanan di Sukamantri, Warga Bisa Urus Dokumen hingga Beli Pangan Murah

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Pemerintah Kabupaten Ciamis menghadirkan 58 jenis...

Hari Santri 2026 Pangandaran, PCNU dan Pemkab Rencanakan Upacara Bersama serta Berbagai Perlombaan

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten...

Upacara Hari Jadi Pangandaran ke-14 Digelar 24 Oktober di Lapangan Parigi, Ini Rangkaian Acaranya

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Pemerintah Kabupaten Pangandaran menjadwalkan upacara Hari...

Pangandaran Fest 2026 Berlangsung hingga 24 Oktober, Puluhan Stan UMKM Disiapkan

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Pangandaran Fest 2026 dijadwalkan berlangsung hingga...

Musabaqah Hari Santri 2026 Kota Tasikmalaya Jadi Ajang Pengembangan Kemampuan Santri

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pemerintah Kota Tasikmalaya menggelar Musabaqah Hari...

JAWA BARAT

BMKG Peringatkan Banjir Rob Jawa Barat hingga Awal November 2026, Ini Wilayah yang Berpotensi Terdampak

lintaspriangan.com, BERITA JABAR. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)...

Motor Trail di Lahan Kosong Bekasi Bikin Heboh, Siapa Pemilik Sebenarnya?

lintaspriangan.com, BERITA BEKASI. Deretan sepeda motor trail yang terparkir...

103 Siswa SMPN 2 Cisarua Diduga Keracunan, Orang Tua Menanti Kepastian Penyebabnya

lintaspriangan.com, BERITA BOGOR. Kekhawatiran menyelimuti keluarga siswa SMP Negeri...

BPKH Bahas Dana Haji di Bandung, Kelolaan Capai Rp185,72 Triliun

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) membahas...

Angkot Bandung Diusulkan Tanpa Setoran, Sopir Didorong Jadi Pemilik Kendaraan Sendiri

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengusulkan...

Wakil Bupati Indramayu Ditahan, Terungkap Dugaan Rekayasa Tunjangan DPRD Rp18,79 Miliar

lintaspriangan.com, BERITA INDRAMAYU. BANDUNG – Wakil Bupati Indramayu ditahan...

Pinjaman Pemprov Jabar Tak Direstui Kemendagri, Pemborong Pekerjaan 2026 Siap-Siap Gigit Jari

lintaspriangan.com, BERITA JABAR. Rencana pinjaman Pemprov Jabar sebesar Rp3,4...

Insentif Rp100 Ribu Sebulan, Ribuan Guru PAUD Indramayu Menanti

lintaspriangan.com, BERITA INDRAMAYU. Ribuan guru Pendidikan Anak Usia Dini...

Olahraga

Kategori Populer