lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Bertahun-tahun hidup dengan kondisi ekonomi terbatas membuat Samingan, warga Dusun Kotaharja RT 14 RW 03, Desa Sukamukti, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, tak mampu memperbaiki rumahnya yang sudah lama dalam kondisi tidak layak huni.
Sehari-hari, pria tersebut mengandalkan penghasilan sebagai pengamen di pasar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dengan pendapatan yang terbatas, biaya renovasi rumah menjadi sesuatu yang sulit dijangkau.
“Ya, enggak punya modal untuk merenovasi,” ujar Samingan saat ditemui di kediamannya.
Kini Samingan lebih banyak tinggal seorang diri di rumah tersebut. Ia memiliki empat anak. Dua di antaranya sudah berumah tangga, sedangkan dua lainnya bekerja di Jakarta dan hanya sesekali pulang ke kampung halaman.
“Sekarang saya di rumah sendiri. Paling anak kalau pulang ke sini,” katanya.
Rumah Semakin Memprihatinkan Setelah Guncangan Gempa
Kondisi rumah Samingan sebenarnya sudah lama menjadi perhatian karena bangunannya disebut tidak layak huni.
Namun, kondisi tersebut kini semakin memprihatinkan setelah bangunan ikut terdampak guncangan gempa yang terjadi baru-baru ini.
Kondisi itu membuat kebutuhan untuk memperbaiki rumah menjadi semakin mendesak. Samingan berharap ada bantuan renovasi sehingga tempat tinggal yang selama ini ditempatinya dapat kembali lebih aman.
Samingan sebelumnya memang pernah menerima bantuan berupa beras dan kebutuhan pokok. Namun, bantuan untuk memperbaiki rumah belum juga terealisasi.
Menurutnya, pemerintah desa juga sudah beberapa kali mendatangi rumahnya untuk melihat langsung kondisinya.
“Sudah dua kali orang desa datang ke sini, tapi sampai sekarang belum ada realisasi,” ujarnya.
Sudah Diusulkan, Bantuan Renovasi Belum Terealisasi
Kepala Dusun Kotaharja, Endrayana, membenarkan kondisi rumah Samingan yang sudah cukup lama memprihatinkan.
Menurut Endrayana, keterbatasan ekonomi menjadi salah satu alasan Samingan tidak mampu memperbaiki maupun membangun kembali rumahnya.
“Ini memang sudah lama. Beliau belum mampu membangun dari dulu karena kondisinya seperti ini dan rumahnya memang sudah termasuk tidak layak huni,” ujar Endrayana.
Ia mengatakan kondisi bangunan semakin membutuhkan perhatian setelah adanya guncangan gempa.
“Karena adanya guncangan kemarin, kondisinya menjadi semakin tidak layak huni. Tentunya rumah ini harus segera diperbaiki,” katanya.
Endrayana menjelaskan, pemerintah desa sebelumnya telah berupaya mengusulkan rumah Samingan agar mendapatkan bantuan melalui program perbaikan rumah tidak layak huni.
Usulan tersebut bahkan telah disampaikan kepada pihak terkait. Namun, hingga kini bantuan yang diharapkan belum terealisasi.
“Dari pihak desa sudah ada usaha untuk mengajukan bantuan. Dari dulu sudah diajukan, bahkan sempat dikirim, tetapi sampai sekarang belum ada realisasi,” jelasnya.
Berharap Tak Lagi Tinggal di Rumah yang Membahayakan
Bagi Samingan, memperbaiki rumah bukan sekadar membuat tempat tinggal terlihat lebih baik. Kondisi bangunan yang sudah lama rusak membuat kebutuhan akan tempat tinggal yang aman menjadi semakin penting.
Dengan pekerjaan sebagai pengamen pasar dan kemampuan ekonomi yang terbatas, ia tidak memiliki pilihan untuk melakukan renovasi secara mandiri.
Kini harapannya sederhana: usulan bantuan yang telah diajukan dapat benar-benar terealisasi.
Pemerintah desa dan warga setempat juga berharap ada perhatian dari pemerintah maupun instansi terkait terhadap kondisi rumah tersebut.
Terlebih setelah guncangan gempa disebut membuat kondisi bangunan semakin memprihatinkan. Perbaikan dinilai perlu segera dilakukan agar Samingan dapat tinggal di tempat yang lebih aman dan layak. (HS)







