lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Kopi Bunar Tasikmalaya kini membawa nama daerah ke panggung internasional. Kopi dari Kampung Bunihurip itu mulai dikenal hingga Jepang.
Capaian tersebut membuat Wakil Bupati Tasikmalaya Asep Sopari Al Ayubi bangga. Ia menyebut keberhasilan itu sebagai buah dari kerja keras warga Bunihurip.
Menurut Asep, warga tidak membangun Kopi Bunar dalam waktu singkat. Mereka merawat kebun sendiri. Mereka juga menjaga kualitas biji kopi. Setelah itu, mereka mengolah hasil panen agar punya nilai jual lebih baik.
Asep menilai, cerita Kopi Bunar tembus Jepang memberi pesan penting. Kampung kecil juga bisa melahirkan produk besar. Asal warga konsisten, peluang pasar tetap terbuka.
“Dari kampung kecil lahir sejarah besar. Warga Bunar membuktikan, keterbatasan wilayah bukan halangan untuk bersaing di pasar global,” kata Asep Sopari, Jumat (15/5/2026).
Ia menambahkan, kopi asal Tasikmalaya itu kini tidak hanya menarik perhatian luar negeri. Di dalam negeri, nama Kopi Bunar juga terus naik.
Dari Bunihurip, Kopi Lokal Mulai Dilirik Jepang
Perjalanan Kopi Bunar Tasikmalaya memberi warna baru bagi potensi desa. Produk ini lahir dari Kampung Bunihurip. Wilayah itu selama ini menjaga tradisi bertani kopi dengan cara sederhana.
Namun, kesederhanaan itu tidak menghalangi warga untuk tumbuh. Mereka terus menjaga rasa, mutu, dan proses produksi. Hasilnya mulai terlihat.
Asep menyebut kopi dari Bunihurip punya peluang besar. Apalagi, pengelola mulai menjajaki pasar luar negeri lain. Jepang menjadi salah satu pintu penting bagi langkah tersebut.
Menurut Asep, Jepang bukan pasar yang mudah. Konsumen di negara itu dikenal teliti. Mereka memperhatikan kualitas, rasa, kemasan, dan konsistensi produk.
Karena itu, masuknya Kopi Bunar ke perhatian pasar kopi Jepang menjadi sinyal positif. Produk desa ternyata bisa bersaing bila kualitasnya dijaga.
Meski begitu, Asep meminta momentum ini tidak berhenti sebagai kabar baik. Ia ingin warga dan pemerintah menjaga langkah berikutnya. Produk yang ingin naik kelas harus punya standar yang kuat.
Pemkab Tasikmalaya pun mulai bergerak. Pemerintah daerah mendorong percepatan sertifikasi produk. Langkah ini penting agar Kopi Bunar memenuhi standar global.
Selain sertifikasi, pemerintah juga membenahi infrastruktur. Akses jalan menuju sentra produksi mulai mendapat perhatian. Pemerintah juga menyiapkan dukungan lain untuk memperkuat kawasan tersebut.
Bantuan alat pengolahan kopi ikut diberikan. Harapannya, petani kopi Bunihurip bisa meningkatkan kapasitas produksi. Kualitas olahan juga harus makin baik.
Harga Naik, Kopi Bunar Disiapkan Jadi Agrowisata
Dampak perkembangan Kopi Bunar Tasikmalaya mulai terasa di tingkat warga. Harga kopi yang dulu berada di bawah Rp2.000 per kilogram kini naik. Nilainya sudah menembus lebih dari Rp10.000 per kilogram.
Kenaikan itu memberi harapan baru bagi petani. Mereka tidak lagi melihat kopi hanya sebagai hasil panen biasa. Kopi mulai menjadi sumber ekonomi yang lebih menjanjikan.
Asep menilai, keberhasilan ini harus menjadi pintu masuk bagi ekonomi desa. Warga harus tetap menjadi pelaku utama. Mereka tidak boleh hanya menjadi penonton saat nama Kopi Bunar makin dikenal.
Menurutnya, warga harus terlibat dari hulu sampai hilir. Mulai dari kebun, pengolahan, pemasaran, hingga pengembangan kawasan. Dengan cara itu, nilai tambah tetap kembali ke masyarakat.
Pemkab Tasikmalaya juga menyiapkan arah baru. Kawasan Kopi Bunar akan dikembangkan sebagai agrowisata kopi Tasikmalaya.
Konsep ini membuka peluang yang lebih luas. Wisatawan bisa datang langsung ke kebun. Mereka juga bisa melihat proses pengolahan kopi. Setelah itu, mereka dapat menikmati kopi dari tempat asalnya.
Jika rencana itu berjalan baik, Kopi Bunar tidak hanya menjadi produk lokal Tasikmalaya yang dikenal di Jepang. Kampung Bunihurip juga bisa tumbuh sebagai destinasi baru.
Bagi Asep, capaian ini menjadi bukti bahwa potensi desa bisa melaju jauh. Syaratnya, warga harus konsisten. Pemerintah juga harus hadir memberi dukungan.
Dari kebun sederhana di Bunihurip, aroma Kopi Bunar kini bergerak lebih jauh. Bukan hanya sampai ke meja penikmat kopi. Tetapi juga ikut membawa nama Tasikmalaya ke luar negeri. (DH/AS)



