Empat Pengadaan, Indikasi Korupsi Terang dan Berulang
Catatan yang dikaji SWAKKA menunjukkan sedikitnya empat pengadaan dan belanja bermasalah di lingkungan Dinsos Kota Tasikmalaya.
Kasus pertama, barang dalam salah satu pengadaan disebut telah dikirim dan digunakan sebelum proses pengadaannya dilaksanakan. Setahun kemudian, Dinsos kembali mengadakan barang dan jasa serupa melalui perusahaan penyedia yang sama.
Pola tersebut dinilai layak diperiksa lebih lanjut, terutama untuk mengetahui bagaimana penyedia ditentukan, bagaimana harga disusun, serta apakah tahapan pengadaan benar-benar dijalankan secara kompetitif.
“Kalau barang sudah datang dan dipakai sebelum proses pengadaan, pertanyaannya sederhana: siapa yang lebih dahulu tahu akan menjadi penyedia? Jangan sampai proses pengadaan hanya menjadi upacara administrasi untuk meresmikan keputusan yang sudah dibuat,” kata Muhlis.
Persoalan lain muncul dalam pengadaan perangkat Puskesos/SLRT pada 2024 senilai hampir Rp3 miliar. Sarana telah dibeli dan didistribusikan ketika kelembagaan Puskesos/SLRT beserta dasar hukumnya disebut belum terbentuk.
“Ini seperti membeli seragam, meja, komputer, dan papan nama untuk sebuah kantor yang lembaganya belum lahir. Barangnya sangat siap, organisasinya menyusul. Kalau yang didahulukan justru belanjanya, publik berhak bertanya: program ini dibentuk karena kebutuhan pelayanan atau karena anggarannya sudah tersedia?” ujar Muhlis.
Temuan terbaru pada 2025 dinilai lebih terang. Dalam pemeriksaan BPK terungkap adanya pengakuan bahwa data dan bukti pertanggungjawaban dibuat untuk menyesuaikan dengan pagu anggaran, bukan berdasarkan realisasi yang sebenarnya.
Jenis belanja, cara data dimanipulasi, pihak yang membuat bukti, serta pejabat yang memeriksa dan menyetujui pertanggungjawabannya akan diungkap dalam laporan Lintas Priangan berikutnya.
“Biasanya angka realisasi mengikuti transaksi. Dalam temuan ini, bukti pertanggungjawaban justru diarahkan untuk mengejar pagu. Anggaran akhirnya seperti sepatu kaca Cinderella: datanya dipaksa masuk, meskipun ukurannya tidak cocok,” kata Muhlis.
