Sekolah Gratis Belum Berarti Bersekolah Tanpa Biaya
Bagi keluarga miskin, biaya pendidikan tidak berhenti pada uang sekolah.
Masih ada seragam, sepatu, tas, buku, transportasi, paket internet, uang kegiatan dan kebutuhan harian. Di wilayah yang jauh dari sekolah, ongkos kendaraan bahkan dapat menjadi pengeluaran terbesar.
BPS mencatat jumlah penduduk miskin Kabupaten Garut pada Maret 2025 mencapai 252,56 ribu orang, atau sekitar 9,39 persen dari penduduk. Garis kemiskinan Garut berada pada Rp407.191 per kapita per bulan. BPS Kabupaten Garut
Pada keluarga yang hidup di sekitar garis tersebut, membeli seragam baru dapat berarti mengurangi belanja makanan. Membayar transportasi sekolah dapat berarti menunda pembayaran listrik.
Ada pula biaya yang tidak tercatat dalam kuitansi: hilangnya pendapatan karena seorang anak memilih belajar daripada bekerja membantu orang tuanya.
Inilah sebabnya sekolah yang secara formal gratis belum tentu terjangkau.
Pemkab Garut sudah menjanjikan bantuan sepatu, tas dan seragam bagi keluarga kurang mampu. Program Indonesia Pintar juga disiapkan untuk mengatasi kendala keuangan. Kepala desa diminta mencari anak yang berhenti sekolah, mengetahui penyebabnya, kemudian melaporkannya kepada pemerintah. Pemkab Garut
Langkah itu penting. Namun, bantuan perlengkapan hanya menjawab sebagian persoalan. Anak mungkin memiliki sepatu, tetapi tetap tidak kembali apabila sekolahnya terlalu jauh, harus bekerja, menikah, mengalami perundungan, atau kehilangan dukungan keluarga.
