Anak Sekolah di Garut Mulai Hilang saat Masuk SMP
Persoalan pendidikan Garut tidak terutama terjadi ketika anak pertama kali masuk SD. Kebocoran terbesar justru muncul ketika mereka berpindah ke jenjang yang lebih tinggi.
Data BPS Jawa Barat memperlihatkan Angka Partisipasi Murni jenjang SD di Kabupaten Garut pada 2024 mencapai 98,40 persen. Angkanya turun menjadi 81,14 persen pada jenjang SMP dan hanya tersisa 59,44 persen pada SMA atau sederajat. BPS Jawa Barat
Artinya, partisipasi turun sekitar 17,26 poin persentase dari SD menuju SMP. Dari SMP ke SMA, penurunannya bertambah 21,70 poin.
Jika dibandingkan langsung, kesenjangan partisipasi antara SD dan SMA mencapai hampir 39 poin persentase.
Anak-anak relatif mudah memasuki sekolah dasar. Namun, semakin tinggi jenjangnya, semakin banyak yang tertinggal.
Bupati Garut sebelumnya juga mengungkap adanya penurunan sekitar 20 persen pada jenjang SMP dan hingga 40 persen ketika memasuki SMA. Faktor ekonomi, perkawinan dini, akses pendidikan dan lingkungan digital disebut sebagai sejumlah penyebabnya. Pemkab Garut
Pada titik inilah masalah sesungguhnya terlihat. Garut tidak hanya membutuhkan program untuk memasukkan anak ke sekolah. Garut membutuhkan sistem yang mampu menjaga anak tetap belajar sampai pendidikan menengah.
