lintaspriangan.com, TAJUK LINTAS. HPN Ciamis tahun ini lewat dengan cara yang agak berbeda. Tidak terlalu riuh, tapi justru terasa lebih dekat. Di tengah arus informasi yang makin cepat, peringatan ini seperti memberi jeda, mengajak untuk melihat ke belakang, sebelum esok melangkah lagi ke depan.
Di titik itu, HPN Ciamis bukan lagi sekadar agenda tahunan. Ia berubah jadi ruang untuk mengingat: dari mana sebenarnya sikap pers di daerah ini terbentuk?
Kalau ditarik ke belakang, jawabannya tidak sederhana. Ia tidak lahir dari ruang kerja yang nyaman atau rutinitas yang rapi. Ia tumbuh dari pilihan-pilihan yang tidak mudah, bahkan sejak usia yang masih sangat muda.
Di Ciamis, jejak itu bisa ditelusuri pada sosok bernama Iwa Koesoema Soemantri. Pada 1915, saat usianya baru belasan tahun, ia mengambil keputusan yang tidak lazim. Ia keluar dari OSVIA, sebuah sekolah milik Belanda yang saat itu dianggap sebagai jalan aman menuju masa depan. Pilihan itu bukan soal pendidikan semata. ini bukti ia menolak arah yang menurutnya keliru .
Keputusan itu jelas bukan tanpa risiko. Di masa ketika banyak orang justru berlomba masuk ke dalam sistem kolonial, ia memilih berdiri di luar. Tidak ikut arus, tidak menunggu aman. Dari sana, jalan panjangnya terbentuk. Masa remajanya dipenuhi dengan belajar, berdebat, hingga terlibat dalam pergerakan.
Cerita itu mungkin terasa jauh. Tapi kalau dicermati, ada garis yang masih bisa ditarik ke hari ini.
Pers, pada dasarnya, berdiri di tempat yang tidak selalu nyaman. Ia berada di antara kepentingan, di tengah tekanan, dan sering kali harus mengambil posisi. Tidak selalu hitam-putih, tapi tetap butuh arah yang jelas.
Di situ relevansi HPN Ciamis terasa. Bukan pada seremoninya, tetapi pada upaya mengingat kembali sikap dasar itu. Bahwa sejak awal, dari tanah Galuh ini, sudah ada keberanian untuk tidak sekadar ikut arus.
Dalam praktik sehari-hari, tantangannya tentu berbeda. Pers hari ini berhadapan dengan kecepatan, algoritma, dan tuntutan publik yang terus berubah. Informasi datang dalam hitungan detik, sementara ruang untuk memverifikasi sering kali makin sempit.
Baca berita terkait: Di Usia Belia, Pahlawan Asal Ciamis Ini Sudah Terang-Terangan Anti Penjajah
Di tengah situasi seperti itu, pilihan tetap ada. Mau sekadar cepat, atau tetap cermat. Mau sekadar menyampaikan, atau benar-benar memahami.
Beberapa kegiatan dalam rangkaian HPN Ciamis 2026, mulai dari aksi bersih sungai Ciamis hingga kegiatan sosial yang melibatkan masyarakat, memberi gambaran kecil tentang upaya itu. Pers tidak hanya hadir sebagai pengamat, tapi juga siap terlibat.
Tentu, itu bukan jawaban atas semua hal. Tapi setidaknya ada usaha untuk kembali mendekat, tidak hanya lewat tulisan, tetapi juga lewat tindakan.
Namun yang lebih penting justru apa yang terjadi setelahnya.
Karena refleksi tidak berhenti di acara. Ia baru terasa ketika kembali ke rutinitas. Ketika harus memutuskan apa yang layak ditulis, bagaimana menuliskannya, dan sejauh mana berani mempertahankannya.
HPN Ciamis memberi kesempatan untuk melihat ulang posisi itu. Apakah pers masih menjaga jarak yang sehat dengan kekuasaan, atau justru terlalu dekat. Apakah masih menyisakan ruang kritis, atau mulai kehilangan ketajaman dan daya analis.
Jawaban atas pertanyaan itu tidak selalu mudah. Tapi justru di situlah makna “perjuangan” menemukan tempatnya.
Baca berita terkait: Di Usia Belia, Pahlawan Asal Ciamis Ini Sudah Terang-Terangan Anti Penjajah
Ia bukan lagi soal melawan dalam arti besar seperti masa lalu. Ia hadir dalam hal-hal kecil: ketelitian memilih fakta, keberanian mengoreksi, atau konsistensi menjaga akurasi.
Di Ciamis, warisan itu masih ada. Tidak selalu tampak di permukaan, tapi bisa dikenali dari cara sebagian jurnalis bekerja. Mereka dikenal tenang, tapi tidak asal. Dekat, tapi tetap menjaga batas.
Maka HPN Ciamis kali ini layak dilihat lebih dari sekadar peringatan. Ia seperti cermin yang diletakkan di depan wajah sendiri.
Tidak untuk menghakimi, tapi untuk memastikan satu hal sederhana: apakah arah yang diambil hari ini masih sejalan dengan nilai yang dulu dibangun?
Karena kalau melihat ke belakang, satu hal cukup jelas. Apa yang ada hari ini tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari proses panjang, dari pilihan-pilihan yang tidak mudah, dari keberanian untuk tidak selalu sepakat.
Dan mungkin, itu yang perlu terus diingat. Setiap hari, para jurnalis datang, singgah dan pulang melalui Jalan Iwa Koesoema Soemantri. Sebuah nama yang bukan sekadar penanda lokasi, tetapi jejak sejarah tentang keberanian untuk tetap memiliki sikap. (HS)


