lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Belanda datang dengan pasukan terlatih, kendaraan lapis baja, senjata berat, dan jalur logistik yang tertata. Namun, ketika konvoi mereka memasuki ruas Cirebon–Cikijing–Kawali–Ciamis, keunggulan itu tidak lagi memberikan jaminan. Jalan yang hendak digunakan untuk mengukuhkan pendudukan justru berubah menjadi lorong panjang penuh ancaman.
Pihak Belanda kemudian mengenang ruas tersebut dengan sebutan de dodenweg—jalur kematian. Julukan itu bukan lahir dari cerita yang dibesar-besarkan puluhan tahun kemudian. Catatan kesatuan mereka sendiri mengakui bahwa konvoi menuju Ciamis dan Kuningan terus menelan korban. Bahkan, bagian pemakaman militer di Cirebon digambarkan semakin luas dalam ukuran yang tidak menyenangkan.
Jalan yang Tak Pernah Benar-Benar Dikuasai
Setelah Agresi Militer Belanda I meletus pada Juli 1947, Belanda berhasil menduduki sejumlah kota dan menguasai jalan-jalan utama. Di atas peta, jalur Cirebon–Kawali–Ciamis mungkin terlihat telah berada dalam genggaman mereka.
Namun, peta tidak pernah mampu menggambarkan seluruh kenyataan di lapangan.
Di sekitar Gunung Sawal, kekuatan Republik membangun kantong-kantong gerilya. Tentara Pelajar Batalyon III Kelompok II berpangkalan di Panjalu dan bergerak di kawasan Maparah. Tugas mereka jelas: mengganggu jalur perhubungan Belanda antara Cirebon, Kawali, dan Ciamis.
Bagi Belanda, jalan itu merupakan urat nadi. Melaluinya, pasukan, bahan makanan, amunisi, dan perlengkapan harus dipindahkan dari satu pos ke pos lainnya. Bagi pejuang Ciamis, urat nadi itulah yang harus ditekan.
Mereka tidak mempunyai kendaraan tempur sebanyak musuh. Senjata pun serba terbatas. Akan tetapi, para gerilyawan menguasai sesuatu yang tidak dapat diangkut dengan kapal dari Eropa: pengetahuan tentang tanah sendiri.
Mereka mengenal tanjakan, tikungan, lembah, kebun, dan jalan-jalan kecil di sekitar Gunung Sawal. Mereka tahu lokasi terbaik untuk mengintai konvoi, melancarkan tembakan, lalu menghilang sebelum serangan balasan tiba.
Bentang alam Ciamis tidak hanya menjadi tempat mereka bertempur. Alam itu seakan ikut menjaga Republik.
Penghadangan dilakukan berulang kali. Setiap kendaraan yang bergerak harus memperhitungkan kemungkinan ditembak dari balik lereng. Setiap tikungan dapat menyimpan pasukan yang menunggu. Setiap tanjakan bisa berubah menjadi perangkap.
Belanda dapat menduduki sebuah kota, tetapi mereka tidak pernah benar-benar memiliki jalan menuju kota itu.
Salah satu titik yang dikenal rawan berada di tanjakan Alinayin, kawasan Kawali. Medannya yang berbukit memberi keuntungan besar bagi gerilyawan. Pasukan Republik dapat memantau pergerakan kendaraan dari tempat tersembunyi, memilih sasaran, kemudian menyerang pada saat konvoi kehilangan ruang untuk bermanuver.
Catatan sejarah Tentara Pelajar menyebut seorang komandan batalyon Belanda berpangkat mayor tewas dalam salah satu pencegatan di tanjakan tersebut.
Di Sadewata, dua pejuang bernama Ruyatana dan Soeroyo juga dikenang berhasil memancing kendaraan lapis baja Belanda hingga melindas bahan peledak. Rantai kendaraan itu putus. Mesin perang yang tampak perkasa tersebut akhirnya terdiam di jalan yang hendak dikuasainya.
Serangan demi serangan membuat perjalanan darat menuju Kawali semakin berbahaya. Tekanan gerilyawan bahkan memaksa Belanda mengirimkan perbekalan ke pos Kawali melalui udara dengan parasut.
Pemandangan logistik yang turun dari langit itu menyampaikan pesan yang sulit dibantah: jalan darat tidak lagi aman bagi tentara kolonial.
Pejuang Ciamis mungkin tidak memiliki gudang senjata yang besar. Namun, mereka berhasil memaksa pasukan modern mengubah cara bergerak dan memasok kebutuhannya.
Pengakuan yang Tertulis dalam Catatan Belanda
Bukti paling kuat tentang kerasnya perlawanan di jalur tersebut justru datang dari catatan pihak Belanda sendiri.
Pada 6 Desember 1947, sebuah konvoi Belanda ditembaki di antara Kawali dan Cikijing. Komandan Batalyon 1-11 Regiment Infanterie, Letnan Kolonel Theodorus Johannes Antonius Boers, terluka parah dalam serangan itu.
Kronik Brigade W Belanda mencatat Boers tertembak sekitar pukul 17.15 dan meninggal setengah jam kemudian. Ia dimakamkan di Cirebon dua hari setelahnya.
Boers bukan prajurit biasa. Ia memimpin sebuah batalyon yang bermarkas di Tasikmalaya. Gugurnya seorang perwira setingkat letnan kolonel menunjukkan bahwa serangan gerilyawan di jalur tersebut bukan gangguan kecil yang dapat disepelekan.
Peristiwa itu meninggalkan kesan begitu kuat. Dokumentasi Belanda mengenai Boers menyebut lokasi kematiannya sebagai bagian dari de dodenweg tussen Cheribon en Tjiamis—jalur kematian antara Cirebon dan Ciamis.
Belum genap sebulan berlalu, korban kembali jatuh.
Daftar korban Brigade W mencatat empat tentaranya tewas di Kawali pada 28 Desember 1947. Catatan lokal menyebut sebuah konvoi pasukan zeni dihadang di selatan Cikijing pada hari yang sama, sementara sejumlah tentara lainnya terluka.
Kronik Belanda tidak menutupi beratnya keadaan. Konvoi menuju Ciamis dan Kuningan disebut terus menelan korban. Pemakaman militer di Cirebon pun semakin dipenuhi serdadu yang tidak pernah kembali dari perjalanan.
Kalimat itu merupakan pengakuan yang jujur sekaligus getir. Pasukan kolonial boleh menyebut operasi mereka sebagai tindakan pemulihan keamanan. Namun, sepanjang jalur menuju Ciamis, merekalah yang terus kehilangan rasa aman.
Sebutan jalur kematian tentu bukan sesuatu yang patut dirayakan semata-mata karena banyak nyawa melayang. Perang selalu meninggalkan duka, termasuk bagi keluarga yang menunggu kepulangan seseorang di tempat yang jauh.
Namun, bagi rakyat Ciamis, julukan itu menyimpan makna sejarah yang besar. Ia menjadi bukti bahwa penjajahan tidak diterima dengan kepala tertunduk. Tanah Galuh tidak menyerahkan jalan-jalannya begitu saja kepada mereka yang hendak merampas kemerdekaan.
Para pejuang mengerti bahwa mereka mungkin tidak mampu menghancurkan seluruh kekuatan Belanda. Akan tetapi, mereka dapat membuat setiap kilometer pendudukan menjadi mahal. Mereka dapat memaksa musuh bergerak dalam kecemasan. Mereka dapat menunjukkan bahwa senjata modern tidak otomatis melahirkan keberanian.
Di sepanjang jalur Ciamis–Cirebon, Belanda akhirnya berhadapan dengan kenyataan yang tidak pernah tertulis dalam rencana operasi mereka: rakyat yang mengenal tanahnya, mencintai kemerdekaannya, dan bersedia mempertahankan keduanya akan selalu menjadi kekuatan yang sulit ditundukkan.
Itulah sebabnya jalan tersebut layak dikenang.
Bukan karena kematian semata, melainkan karena keberanian yang membuat pasukan penjajah sendiri menamainya jalur kematian.
Hari ini, kendaraan dapat melintasi Ciamis, Kawali, Cikijing, hingga Cirebon tanpa mendengar letusan senjata. Jalan itu telah menjadi bagian dari keseharian: dilalui pedagang, pelajar, pekerja, dan keluarga yang hendak pulang.
Namun, di balik ketenangan tersebut, tersimpan jejak orang-orang yang dahulu mempertaruhkan hidup agar generasi sesudahnya dapat melintas sebagai warga sebuah bangsa yang merdeka.
Belanda meninggalkan julukan de dodenweg. Para pejuang Ciamis meninggalkan sesuatu yang jauh lebih agung: kehormatan.
Mereka membuat musuh gentar bukan karena memiliki kekuatan terbesar, melainkan karena menolak menyerah di tanah kelahirannya sendiri.
Dan selama kisah itu tetap diceritakan, jalan Ciamis–Cirebon tidak hanya menghubungkan dua wilayah. Ia juga menghubungkan generasi hari ini dengan keberanian para pendahulunya—orang-orang Galuh yang pernah membuat penjajah membayar mahal setiap jengkal jalan menuju Ciamis. (NS/AS)







