lintaspriangan.com, BERITA MAJALENGKA. Empat sumur bor Majalengka kini melayani 3.599 warga dari 1.204 keluarga di tengah musim kemarau 2026. Fasilitas air bersih yang dibangun Kodim 0617/Majalengka tersebut diresmikan pada Jumat, 18 September 2026, dan menjadi salah satu upaya memenuhi kebutuhan air warga menjelang 21 September ketika Kabupaten Majalengka masih menghadapi risiko kekeringan.
Empat fasilitas itu tersebar di Desa Bantarjati, Kecamatan Kertajati; Desa Cipaku, Kecamatan Kadipaten; Desa Wanajaya, Kecamatan Kasokandel; serta Desa Nanggewer, Kecamatan Sukahaji. Data Kodim 0617/Majalengka menyebut pembangunan telah selesai dan fasilitas mulai mengalirkan air untuk warga.
Sumur Bor Majalengka Dibangun di Empat Desa
Peresmian dipusatkan di Blok Senen, Desa Bantarjati, Kecamatan Kertajati. Dandim 0617/Majalengka Letkol Inf Rendra Dwi Jayanto bersama Bupati Majalengka Eman Suherman menghadiri peresmian fasilitas tersebut.
Di Bantarjati, pengeboran dilakukan hingga kedalaman 60 meter dan disebut melayani 158 warga. Pembangunan fasilitas tidak berhenti pada lubang sumur, tetapi juga mencakup pondasi, menara dan toren penampung air, jaringan perpipaan, instalasi listrik, serta tempat cuci tangan.
Menurut Kodim, sumur bor Majalengka tersebut dibangun melalui program Bakti TNI AD untuk wilayah yang mengalami kesulitan memperoleh air bersih pada musim kemarau. Total penerima manfaat di empat desa tercatat 3.599 jiwa atau 1.204 keluarga.
Kebutuhan air menjadi perhatian di Majalengka selama kemarau tahun ini. Pemerintah Kabupaten Majalengka telah menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan sejak 2 Juni hingga 31 Oktober 2026 melalui Keputusan Bupati Nomor 100.3.3.2/KEP.567-BPBD/2026.
Majalengka Masuk Status Awas Kekeringan Meteorologis
Dalam peringatan dini kekeringan meteorologis Dasarian II September 2026, BMKG menempatkan Kabupaten Majalengka pada kategori awas bersama sejumlah daerah lain di Jawa Barat. Status kekeringan meteorologis menggambarkan kondisi rendahnya curah hujan dan tidak otomatis berarti seluruh wilayah mengalami krisis air dengan tingkat yang sama.
Pemkab Majalengka sebelumnya menyebut daerah bagian utara seperti Kertajati, Jatitujuh, Ligung, dan Sumberjaya termasuk wilayah yang perlu mendapat perhatian saat kemarau. Sejumlah wilayah bagian tengah dan selatan juga dapat mengalami penurunan debit sumber air tanah ketika periode kering berlangsung panjang.
BPBD meminta pemerintah kecamatan dan desa memetakan wilayah yang mulai mengalami kekurangan air agar distribusi bantuan dapat diarahkan sesuai kebutuhan. Pemerintah daerah juga meminta warga menghemat penggunaan air selama periode kemarau.
Dengan beroperasinya empat sumur bor Majalengka, ribuan warga di empat desa kini memperoleh sumber air tambahan. Namun, kondisi kekeringan tetap perlu dipantau karena status siaga darurat tingkat kabupaten masih berlaku hingga akhir Oktober 2026 dan dapat disesuaikan berdasarkan perkembangan di lapangan. (NS/AS)







