lintaspriangan.com, BERITA JABAR. Hari Persahabatan Internasional akan diperingati pada Kamis, 30 Juli 2026. Momentum ini tidak hanya berbicara tentang teman sekolah, kawan sepermainan, atau orang yang rajin mengirim ucapan ketika ulang tahun. Perserikatan Bangsa-Bangsa menggagasnya sebagai pengingat bahwa persahabatan antarindividu, masyarakat, budaya, dan negara dapat membangun jembatan perdamaian.
Majelis Umum PBB menetapkan Hari Persahabatan Internasional pada 2011. Resolusinya menekankan keterlibatan generasi muda dalam kegiatan lintas budaya yang menumbuhkan pengertian dan penghormatan terhadap keberagaman. Persahabatan, dalam kerangka tersebut, bukan sekadar kedekatan pribadi, melainkan modal sosial untuk mencegah prasangka dan konflik. Perserikatan Bangsa-Bangsa
Di Tatar Sunda, gagasan serupa telah lama hidup dalam ungkapan silih asah, silih asih, silih asuh. Tiga frasa tersebut terdengar sederhana, bahkan sering dipasang sebagai semboyan. Namun, di tengah pertemanan yang semakin banyak berlangsung melalui layar, apakah falsafah itu masih relevan?
Tiga Kata yang Menguji Mutu Persahabatan
Kata silih berarti saling. Di sinilah pokok falsafah tersebut berada. Hubungan yang dibangun bukan satu pihak menggurui sementara pihak lain terus-menerus menurut, bukan pula satu orang memberi sedangkan lainnya hanya menerima. Ada timbal balik dan kesediaan bertumbuh bersama.
Silih asah berarti saling mencerdaskan, memperluas wawasan, serta memperbaiki kualitas diri melalui pengetahuan dan pengalaman. Teman bukan hanya orang yang selalu membenarkan. Kadang-kadang, sahabat justru orang yang cukup berani mengatakan bahwa keputusan kita keliru—tanpa mempermalukan atau merasa paling pandai.
Dalam persahabatan, silih asah hadir melalui percakapan yang jujur. Dua orang boleh berbeda pandangan, saling menguji alasan, kemudian pulang dengan pemahaman yang lebih utuh. Perbedaan tidak harus berakhir dengan blokir nomor telepon. Kalau setiap kritik dianggap serangan, yang tumbuh bukan persahabatan, melainkan perkumpulan penggemar pribadi.
Silih asih mengandung makna kasih sayang yang tulus. Kasih tidak hanya diwujudkan melalui kata-kata lembut, tetapi juga penghormatan terhadap martabat, kelemahan, batas pribadi, serta keadaan emosional orang lain.
Mengasihi berarti tidak menggunakan rahasia teman sebagai senjata ketika hubungan memburuk. Ia juga menuntut seseorang untuk tidak menjadikan kesulitan sahabat sebagai bahan kelakar di ruang publik. Dalam dunia digital, hal ini termasuk tidak menyebarkan tangkapan layar percakapan pribadi hanya demi memenangkan pertengkaran.
Adapun silih asuh berarti saling membimbing, mengayomi, menjaga, dan mengarahkan. Maknanya tidak identik dengan memperlakukan teman sebagai anak kecil. Dalam hubungan yang sehat, pengasuhan berlangsung secara timbal balik. Hari ini seseorang menjadi tempat bersandar, pada waktu lain dialah yang membutuhkan sandaran.
Penelitian yang diterbitkan Universitas Padjadjaran memandang tiga nilai tersebut sebagai satu kesatuan dalam membangun kualitas kemanusiaan. Silih asih berkaitan dengan keberadaan manusia dan kasih, silih asah berhubungan dengan pengetahuan, sementara silih asuh menyangkut tindakan nyata dalam menjaga kehidupan bersama. Jurnal Sosiohumaniora Universitas Padjadjaran
Falsafah ini membuat persahabatan lebih dalam daripada kecocokan selera. Dua orang mungkin tidak menyukai musik, makanan, atau pilihan politik yang sama. Namun, hubungan dapat bertahan apabila keduanya saling memperkaya pikiran, menjaga perasaan, dan hadir ketika salah satu mengalami kesulitan.
Karena itu, kualitas persahabatan tidak selalu ditentukan oleh lamanya hubungan. Pertemanan puluhan tahun dapat berubah menjadi kebiasaan tanpa kedekatan. Sebaliknya, seseorang yang baru dikenal mungkin menunjukkan kepedulian yang lebih nyata dibandingkan seratus nama dalam daftar kontak.
Relevan di Tengah Ramainya Kesepian
Hari Persahabatan terasa semakin penting justru ketika manusia mempunyai lebih banyak saluran komunikasi. Pesan dapat dikirim dalam hitungan detik, pertemuan dilakukan melalui panggilan video, dan kehidupan orang lain terlihat setiap hari melalui media sosial. Namun, kemudahan terhubung tidak otomatis membuat seseorang merasa ditemani.
Laporan Komisi Koneksi Sosial Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menunjukkan satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian. WHO juga mengaitkan kesepian dengan sekitar 871.000 kematian setiap tahun, selain dampaknya terhadap kesehatan fisik dan mental. Hubungan sosial yang kuat, sebaliknya, dapat mendukung kesehatan serta memperpanjang usia. Organisasi Kesehatan Dunia
Kesepian tidak selalu berarti tidak memiliki teman. Seseorang dapat berada di tengah kerumunan, aktif dalam belasan grup percakapan, dan memiliki ribuan pengikut, tetapi tetap merasa tidak mempunyai tempat untuk berbicara secara jujur.
Di sinilah silih asah, silih asih, silih asuh memperoleh makna baru. Ketiganya dapat digunakan sebagai ukuran apakah suatu hubungan benar-benar hidup atau hanya terlihat ramai.
Pertemanan digital memenuhi unsur silih asah apabila digunakan untuk bertukar pengetahuan, menguji informasi, dan membantu teman mengenali kekeliruan. Sebaliknya, hubungan kehilangan unsur tersebut ketika grup pertemanan berubah menjadi ruang penyebaran informasi palsu dan tidak seorang pun berani mengoreksi karena takut dianggap tidak setia kawan.
Unsur silih asih terlihat ketika seseorang memperhatikan keadaan temannya di balik unggahan. Tidak semua foto tersenyum merupakan tanda bahwa hidup sedang baik-baik saja. Pertanyaan sederhana yang disampaikan dengan tulus—“Kamu benar-benar baik?”—kadang lebih berarti daripada seratus tanda suka.
Sementara itu, silih asuh menuntut kehadiran yang lebih konkret. Mengantar teman berobat, membantu mencari pekerjaan, menemani saat berduka, menghubungkan dengan bantuan profesional, atau sekadar mendengarkan tanpa tergesa memberi nasihat merupakan bentuk pengasuhan sosial.
Namun, falsafah ini juga perlu dibaca secara kritis. Silih asah dapat berubah menjadi kebiasaan menggurui jika seseorang merasa paling benar. Silih asih dapat disalahgunakan untuk membungkam kritik atas nama menjaga perasaan. Silih asuh bahkan berpotensi menjadi kontrol apabila kepedulian berubah menjadi campur tangan berlebihan.
Penangkalnya kembali kepada kata silih. Semua berlangsung secara timbal balik, menghormati kesetaraan, dan tidak menghilangkan kebebasan orang lain. Mengasihi bukan berarti membenarkan semua tindakan. Mengasuh tidak memberi hak untuk mengendalikan hidup sahabat. Mengasah pun bukan perlombaan menunjukkan siapa yang paling cerdas.
Dalam kehidupan sehari-hari, falsafah tersebut dapat dimulai dari tindakan kecil: mendengarkan tanpa sibuk menatap ponsel, menyampaikan kritik tanpa merendahkan, menjaga cerita pribadi, mengakui kesalahan, serta hadir bukan hanya ketika suasana sedang menyenangkan.
Di lingkungan kerja, persahabatan yang sehat tidak berbentuk persekongkolan atau kebiasaan saling menutupi kesalahan. Silih asah mendorong pertukaran kemampuan, silih asih menjaga hubungan tetap manusiawi, sedangkan silih asuh membuat orang saling membantu tanpa merampas tanggung jawab profesional.
Pada tingkat masyarakat, nilai serupa dapat diterapkan melalui ruang perjumpaan lintas generasi, agama, suku, dan pilihan politik. Gagasan ini sejalan dengan tujuan Hari Persahabatan yang menempatkan hubungan antarbudaya sebagai jalan menuju perdamaian.
Jadi, silih asah, silih asih, silih asuh masih sangat relevan. Bahkan mungkin semakin dibutuhkan ketika ukuran pertemanan mulai dipersempit menjadi jumlah pengikut, intensitas komentar, dan seberapa sering nama seseorang muncul di layar.
Hari Persahabatan tidak menuntut kita memiliki sebanyak-banyaknya teman. Momentum ini mengajak manusia memastikan bahwa hubungan yang sudah dimiliki tidak kosong: ada pikiran yang saling dipertajam, kasih yang tidak dibuat-buat, dan kepedulian yang hadir dalam tindakan. (NS/AS)
