lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Nama Ikram Maulana kini menjadi perhatian publik setelah pemuda asal Leuwimalang, Kelurahan Bantarsari, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya itu meninggal dunia dalam peristiwa yang diduga berkaitan dengan kekerasan.
Bagi keluarganya, kepergian Ikram Maulana tentu bukan sekadar berita.
Ada kehilangan.
Ada pertanyaan.
Dan ada satu harapan yang hingga kini masih menunggu jawaban: apa sebenarnya yang terjadi pada Ikram Maulana malam itu?
Kamis sore, 3 September 2026, Ketua DPRD Kota Tasikmalaya H. Aslim, S.H. datang langsung ke rumah duka keluarga Ikram Maulana.
Ia didampingi Ketua Sahabat Aslim (SAS) Kota Tasikmalaya, Asep Heri, untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus memberikan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Peristiwa yang menimpa Ikram Maulana terjadi pada Minggu, 30 Agustus 2026, di Jalan E.Z. Muttaqin, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya.
Ikram Maulana diduga menjadi korban kekerasan dalam peristiwa tersebut.
Kini, setelah Ikram meninggal dunia, perhatian tidak hanya tertuju pada suasana duka keluarga.
Perhatian publik perlahan bergeser pada satu hal yang jauh lebih penting:
siapa yang bertanggung jawab?
Ketua DPRD Tasikmalaya Soroti Kasus Ikram Maulana
Di rumah duka, Aslim yang juga merupakan Ketua DPC Partai Gerindra Kota Tasikmalaya, duduk bersama orang tua dan kerabat Ikram Maulana.
Suasana kehilangan masih terasa.
Semasa hidup, Ikram dikenal sebagai warga Leuwimalang yang sehari-hari mencari penghidupan dengan berjualan Jagung Susu Keju atau Jasuke.
Kehidupannya mungkin sederhana.
Namun kepergiannya meninggalkan persoalan yang tidak sederhana.
Aslim menilai kasus Ikram harus ditangani secara serius dan terbuka.
Aparat kepolisian didorong bekerja maksimal untuk mengungkap rangkaian peristiwa yang menyebabkan Ikram kehilangan nyawanya.
Bukan hanya siapa pelakunya.
Tetapi juga apa motifnya, bagaimana peristiwanya terjadi, dan siapa saja yang terlibat di dalamnya.
Kasus Ikram Maulana Harus Diusut Tuntas
Menurut Aslim, pengungkapan kasus Ikram penting, bukan hanya untuk memberikan kepastian hukum kepada keluarga korban.
Lebih dari itu, kasus tersebut menyangkut rasa aman masyarakat Kota Tasikmalaya.
Sebab ketika seseorang meninggal setelah mengalami dugaan kekerasan di ruang publik, persoalannya tidak lagi berhenti pada korban dan keluarganya.
Ada keresahan yang ikut tumbuh.
Ada rasa aman yang terganggu.
Dan ada pertanyaan yang bisa muncul di benak masyarakat:
kalau kekerasan seperti ini bisa terjadi, seberapa aman jalanan Kota Tasikmalaya?
Karena itu, kasus Ikram Maulana harus dibuat terang.
Keluarga berhak mengetahui apa yang terjadi.
Masyarakat juga berhak mengetahui bahwa setiap tindak kekerasan akan ditangani secara serius.
Kematian Ikram Maulana Jadi Alarm Keamanan Kota
Peristiwa yang menimpa Ikram Maulana juga dinilai harus menjadi bahan evaluasi terhadap kondisi keamanan di Kota Tasikmalaya.
Aslim mendorong peningkatan patroli malam, pengawasan di lokasi rawan, perbaikan penerangan jalan serta peningkatan kewaspadaan terhadap aktivitas kelompok yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.
Pencegahan menjadi penting.
Sebab keamanan tidak cukup dibicarakan setelah korban berjatuhan.
Keamanan justru diuji sebelum kejahatan terjadi.
Masyarakat seharusnya dapat beraktivitas, bekerja, pulang malam atau melintas di jalan-jalan kota tanpa dihantui rasa takut menjadi korban kekerasan.
Itulah rasa aman paling sederhana.
Namun justru itulah yang saat ini paling dibutuhkan warga.
Keluarga Ikram Maulana Jangan Dibiarkan Sendiri
Ketua SAS Kota Tasikmalaya, Asep Heri, yang turut hadir dalam takziah tersebut juga memberikan perhatian terhadap kasus Ikram Maulana.
Menurutnya, keluarga korban membutuhkan dukungan sekaligus kepastian bahwa proses pengungkapan kasus tetap berjalan.
SAS menyatakan siap bersinergi dengan pemerintah maupun aparat kepolisian dalam mendukung terciptanya situasi Kota Tasikmalaya yang aman dan kondusif.
Perhatian kepada keluarga korban pun diharapkan tidak hanya muncul ketika suasana duka masih hangat.
Sebab setelah para pelayat pulang, kehilangan itu tetap tinggal bersama keluarga.
Dan ada pertanyaan yang tetap menunggu jawaban.
Publik Menunggu Jawaban atas Kematian Ikram Maulana
Kasus Ikram Maulana kini bukan hanya tentang sebuah kabar duka.
Kasus ini juga menjadi ujian bagi penegakan hukum dan rasa aman masyarakat Kota Tasikmalaya.
Siapa yang menyebabkan Ikram Maulana meninggal dunia?
Apa motif di balik peristiwa tersebut?
Bagaimana rangkaian kejadian sebenarnya?
Dan sejauh mana proses hukum akan membawa keluarga korban menuju sebuah kepastian?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak seharusnya dibiarkan menggantung terlalu lama.
Sebab bagi keluarga Ikram Maulana, keadilan bukan sekadar istilah hukum.
Keadilan berarti mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada orang yang mereka cintai.
Dan bagi masyarakat Kota Tasikmalaya, pengungkapan kasus Ikram Maulana akan membawa pesan yang jauh lebih besar:
bahwa jalanan kota harus menjadi ruang yang aman, bukan tempat di mana seseorang pergi dan tak pernah kembali pulang. (AS)







