Bukan Sekadar Nobar, Ada Santunan Anak Yatim
Nilai paling kuat dari nobar Persib di Tasikmalaya ini terletak pada rangkaian kegiatan sosialnya. Panitia tidak hanya menyiapkan layar dan suasana dukungan untuk Persib, tetapi juga merangkai acara dengan santunan anak yatim.
Pesan ini membuat kegiatan tersebut naik kelas. Nobar tidak hanya berhenti sebagai ajang sorak-sorai, tetapi juga menjadi ruang berbagi. Dalam bahasa sederhana, biru tetap di dada, tetapi empati jangan sampai tertinggal di parkiran.
Acara yang berlangsung di Universitas Cipasung Tasikmalaya ini juga membawa slogan “Berbagi Kebaikan, Merajut Kebersamaan”. Slogan tersebut selaras dengan semangat supporter bersatu, kampus berkarya, dan masyarakat berdaya.
Panitia juga mencantumkan sejumlah himbauan dan larangan. Peserta dilarang membawa minuman keras, obat-obatan terlarang, senjata tajam, flare atau petasan. Selain itu, peserta juga dilarang melakukan konvoi.
Larangan tersebut menjadi bagian penting dari pesan acara. Dukungan kepada Persib tetap bisa dilakukan dengan meriah tanpa harus mengganggu ketertiban umum. Bobotoh bisa menunjukkan loyalitas dengan cara yang lebih dewasa dan bermartabat.
Karena itu, nobar Persib gratis ini punya daya tarik ganda. Di satu sisi, acara ini memberi ruang bagi Bobotoh Tasikmalaya untuk mendukung Maung Bandung dalam laga penting. Di sisi lain, kegiatan ini memperlihatkan bahwa komunitas suporter juga dapat menghadirkan manfaat sosial.
Duel Persib melawan PSM Makassar tentu akan menyedot perhatian. Namun, kegiatan di Kampus UNCIP memberi pesan lebih luas. Sepak bola bisa menjadi alasan untuk berkumpul, tetapi kepedulian menjadi alasan untuk membuat pertemuan itu lebih bermakna.
Dengan konsep tersebut, nobar Persib di Tasikmalaya bukan sekadar agenda menonton pertandingan. Ini menjadi pertemuan antara kecintaan kepada klub, disiplin suporter, semangat mahasiswa, dan kepedulian kepada sesama.
Maka judulnya terasa pas: ugal-ugalan? No. Bakti sosial? Yes. (AS/AS)



