lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Enam lapis seleksi telah dilewati. Kini, Muhammad Riffat Ghaisan dan Aulia Zafira Putri bersiap membawa nama Kota Tasikmalaya ke barisan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka tingkat Provinsi Jawa Barat 2026.
Keduanya secara resmi dilepas Sekretaris Daerah Kota Tasikmalaya, Asep Goparullah, di ruang kerjanya, Bale Kota Tasikmalaya, Jumat, 31 Juli 2026. Muhammad Riffat merupakan pelajar SMA Al-Muttaqin, sedangkan Aulia berasal dari SMKN 2 Tasikmalaya.
Berangkat Membawa Nama Kota Tasikmalaya
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Tasikmalaya, Ade Hendar, mengatakan pelepasan tersebut menandai keberangkatan dua pelajar pilihan Kota Tasikmalaya menuju rangkaian Paskibraka tingkat Provinsi Jawa Barat.
“Hari ini, bertempat di ruang kerja Sekda di Bale Kota, Sekda Kota Tasikmalaya melepas secara resmi utusan Paskibraka Provinsi Jawa Barat dari Kota Tasikmalaya,” kata Ade Hendar kepada redaksi.
Dua utusan tersebut adalah Muhammad Riffat Ghaisan dari SMA Al-Muttaqin dan Aulia Zafira Putri dari SMKN 2 Tasikmalaya.
Dalam pelepasan itu, Asep Goparullah memberikan dorongan agar keduanya tidak melihat keberhasilan tersebut sebagai akhir perjuangan. Menembus Paskibraka tingkat Jawa Barat justru menjadi awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk menjaga disiplin, kesehatan, kekompakan, serta nama baik keluarga, sekolah, dan Kota Tasikmalaya.
Pesan tersebut sejalan dengan arahan Asep kepada anggota Paskibraka pada kesempatan sebelumnya. Ia pernah menegaskan bahwa proses pengukuhan bukanlah garis akhir, melainkan awal perjuangan. Nilai nasionalisme, patriotisme, kepeloporan, dan kepemimpinan yang terbentuk selama pembinaan harus dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari.
Kehadiran Riffat dan Aulia di tingkat Jawa Barat juga diharapkan menjadi pesan kepada pelajar lain bahwa prestasi tidak hanya dibangun melalui kecerdasan akademik. Ketahanan mental, disiplin, integritas, kemampuan bekerja dalam tim, dan kesediaan menjalani proses panjang memiliki bobot yang sama pentingnya.
Bukan Proses yang Mudah
Secara teknis, Ade menjelaskan bahwa perjalanan menuju Paskibraka tingkat provinsi bukan proses singkat. Para peserta harus berhadapan dengan rangkaian penilaian yang menguji kemampuan fisik, pengetahuan, karakter, dan kesiapan mental.
Tahapan resmi pembentukan Paskibraka meliputi seleksi administrasi, pembinaan ideologi Pancasila dan wawasan kebangsaan, intelegensia umum, kesehatan dan parade, Peraturan Baris-Berbaris dan kesamaptaan, serta seleksi kepribadian.
Artinya, tubuh tegap dan langkah serempak hanya sebagian kecil dari persyaratan. Peserta juga harus menunjukkan pemahaman kebangsaan, ketahanan menghadapi tekanan, kedisiplinan, stabilitas mental, integritas, serta kemampuan beradaptasi dan bekerja bersama.
Dalam pembinaan Paskibraka sebelumnya, Ade juga menekankan bahwa pemusatan latihan tidak hanya diarahkan untuk mematangkan keterampilan baris-berbaris. Proses tersebut dirancang untuk memperkuat disiplin, daya tahan mental, semangat kebangsaan, dan rasa persatuan.
Menurutnya, anggota Paskibraka harus mampu menjadi teladan dan menghadirkan energi positif bagi lingkungan sekitarnya. Lencana dan seragam bukan semata simbol keberhasilan, tetapi pengingat akan tanggung jawab moral untuk menjaga sikap, menghormati sesama, dan mencintai Tanah Air melalui tindakan nyata.
Riffat dan Aulia selanjutnya akan mengikuti rangkaian pendidikan serta pelatihan bersama calon Paskibraka dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat. Mereka dipersiapkan menuju pelaksanaan upacara peringatan Hari Ulang Tahun Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026.
Pelepasan di ruang Sekda mungkin berlangsung singkat. Namun, perjalanan yang mereka bawa tidak sederhana. Di pundak dua pelajar itu kini tersimpan harapan keluarga, sekolah, dan Kota Tasikmalaya—agar mereka pulang bukan hanya dengan pengalaman mengibarkan Merah Putih, tetapi juga dengan karakter seorang calon pemimpin. (NS/AS)
