lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Karhutla Ciamis tercatat mencapai 34 kejadian sepanjang 2026 hingga pembaruan data Minggu, 13 September 2026 pukul 07.00 WIB. Jumlah tersebut menempatkan Kabupaten Ciamis sebagai daerah dengan frekuensi kebakaran hutan dan lahan terbanyak kedua di Jawa Barat setelah Kabupaten Sumedang.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat menunjukkan luas lahan terdampak di Ciamis mencapai sekitar 28,05 hektare. Posisi kedua Ciamis merujuk pada jumlah kejadian, bukan luas lahan yang terbakar, karena sejumlah kabupaten lain mencatat luasan terdampak yang lebih besar.
Ciamis di Bawah Sumedang dalam Jumlah Kejadian
Sepanjang periode yang sama, Kabupaten Sumedang mencatat 64 kejadian karhutla. Setelah Ciamis dengan 34 kejadian, Kabupaten Bandung berada di urutan berikutnya dengan 22 kejadian, disusul Subang 20 kejadian dan Majalengka 18 kejadian.
Secara keseluruhan, BPBD Jawa Barat mencatat 264 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 416,08 hektare. Kejadian tersebut tersebar di 252 desa atau kelurahan pada 137 kecamatan di Jawa Barat.
Data terbaru itu menunjukkan karhutla Ciamis menjadi salah satu konsentrasi kejadian kebakaran lahan selama musim kemarau tahun ini. Pada awal September, BPBD Kabupaten Ciamis juga telah mencatat 34 kejadian yang tersebar di puluhan dusun dan desa di sejumlah kecamatan. Petugas gabungan dari BPBD, pemadam kebakaran, TNI, Polri, dan relawan terlibat dalam penanganannya.
Pemerintah Kabupaten Ciamis sebelumnya menetapkan status siaga darurat kekeringan dan karhutla untuk periode 1 Juli hingga 30 September 2026. Kebijakan tersebut menjadi dasar kesiapsiagaan daerah menghadapi peningkatan risiko kebakaran selama musim kemarau.
Risiko Kebakaran Masih Perlu Diwaspadai
BPBD Ciamis sebelumnya mengidentifikasi sejumlah wilayah yang rawan kebakaran lahan, termasuk kawasan Pamarican, Banjaranyar, Banjarsari, Panawangan, dan wilayah lain yang memiliki lahan kering saat kemarau. Pemerintah daerah bersama unsur terkait juga melakukan patroli serta menyiagakan personel dan sarana pemadaman.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Ciamis Ani Supiani sebelumnya menyebut sejumlah kejadian dipicu kelalaian dalam penggunaan api, antara lain pembakaran sampah yang meluas serta puntung rokok yang masih menyala. Karena itu, warga diminta tidak melakukan pembakaran di lahan kering dan segera melapor jika menemukan titik api.
Di tingkat provinsi, BPBD Jawa Barat juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kondisi kering masih berlangsung. Hingga pertengahan September, karhutla Ciamis tetap menjadi salah satu daerah yang perlu dipantau karena frekuensi kejadiannya berada di jajaran tertinggi Jawa Barat. (NS/AS)







