lintaspriangan.com, BERITA GARUT. Sebanyak 631 ternak mengikuti dua kompetisi Domba Garut yang digelar dalam Grand Final Seni Ketangkasan Domba Garut (SKDG) Liga Garut dan Kontes Ternak 2026 di Pamidangan Lembah Gunung Guntur Anugrah, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Sabtu, 12 September 2026. Kegiatan tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat nilai ekonomi ternak khas Garut.
Dari jumlah tersebut, 461 domba mengikuti seni ketangkasan yang menjadi puncak rangkaian Liga Garut, sedangkan 170 ternak masuk dalam kontes khusus peternak Kabupaten Garut. Pemerintah Kabupaten Garut menilai peningkatan kualitas pemeliharaan dan pengembangan kegiatan berbasis Domba Garut dapat membuka nilai ekonomi yang lebih besar dibanding hanya menjual ternak untuk kebutuhan daging.
461 Domba Ikuti Seni Ketangkasan
Sekretaris Jenderal Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) Garut Asep Rahwanto menjelaskan, grand final tersebut merupakan akhir dari sembilan putaran Liga Garut yang sebelumnya dilaksanakan di delapan pamidangan.
Sebanyak 461 peserta seni ketangkasan dibagi menjadi tiga kelas. Kelas A dan Kelas B masing-masing diikuti 143 ekor, sedangkan Kelas C diikuti 175 ekor. Peserta datang dari sejumlah daerah di Jawa Barat, termasuk Sumedang, Pangandaran, dan Bandung.
Pada kontes ternak lokal, sebanyak 170 ekor masuk dalam lima kategori. Rinciannya terdiri atas Raja Petet Non Poel sebanyak 59 ekor, Raja Petet Satu Pasang Poel 55 ekor, Raja Calon Pejantan atau Raja Kasep 33 ekor, Raja Pedaging delapan ekor, dan Ratu Bibit 15 ekor.
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menyatakan pemeliharaan yang baik dapat meningkatkan nilai jual domba. Menurut dia, pengembangan kualitas ternak membuat nilai ekonomi Domba Garut tidak berhenti pada harga daging, tetapi juga dipengaruhi kualitas fisik, pembibitan, serta prestasi ternak.
Asep menyebut domba unggulan pada kategori tertentu dapat dihargai ratusan juta rupiah. Ia mencontohkan adanya domba dengan kualitas fisik dan ketangkasan yang disebut pernah terjual hingga Rp400 juta. Angka tersebut merupakan contoh harga domba unggulan yang disampaikan HPDKI, bukan harga umum seluruh Domba Garut.
Kontes Jadi Bagian Pengembangan Ekonomi Peternak
Pemkab Garut berencana memperluas kegiatan terkait domba dengan melibatkan sektor pariwisata serta pelaku hotel dan restoran. Pemerintah daerah ingin kegiatan peternakan dan seni ketangkasan tidak hanya menjadi arena kompetisi, tetapi juga mendatangkan aktivitas ekonomi di sekitar lokasi kegiatan.
Pengembangan ekonomi berbasis ternak juga berjalan beriringan dengan upaya menjaga kualitas genetik. Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Garut pada 2026 mencatat program pelestarian sumber daya genetik Domba Garut melalui inkubasi peternakan berbasis kawasan sebagai salah satu program yang berjalan.
Perhatian terhadap aspek ekonomi dan pelestarian genetik sebelumnya juga muncul dalam Kontes Ternak Piala Rektor Universitas Garut pada Januari 2026. Dinas Perikanan dan Peternakan saat itu menyatakan kegiatan kontes menjadi salah satu sarana menjaga sumber daya genetik ternak lokal sekaligus mengembangkan ekonomi berbasis peternakan masyarakat.
Dengan rangkaian kontes, pembibitan, serta perluasan kegiatan ke sektor pariwisata, pengembangan Domba Garut diarahkan tidak hanya untuk mempertahankan ternak khas daerah, tetapi juga memperluas peluang ekonomi bagi peternak dan pelaku usaha yang terlibat di dalam ekosistemnya. (NS/AS)







