lintaspriangan.com. BERITA CIAMIS. Pemerintah Kabupaten Ciamis mulai mematangkan langkah besar untuk menghadirkan wajah baru bagi fasilitas penginapan milik daerah. Melalui agenda rebranding yang kini tengah dibahas lintas sektor, Mess Pemda Ciamis diproyeksikan tidak lagi sekadar menjadi tempat singgah, melainkan berkembang sebagai representasi identitas daerah yang lebih modern, profesional, sekaligus bernilai ekonomi.
Langkah tersebut dibahas dalam rapat koordinasi terpadu yang digelar Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Ciamis bersama sejumlah instansi terkait. Forum itu melibatkan unsur Badan Promosi Pariwisata Daerah (BP2D), Dinas Pariwisata, Disbudpora, serta pemangku kepentingan lain yang selama ini berkaitan dengan pengembangan aset dan sektor wisata.
Pembahasan utama dalam rapat tersebut mengarah pada penyusunan konsep baru untuk pengelolaan dan identitas fasilitas milik pemerintah tersebut. Pemerintah daerah ingin menghadirkan citra baru yang lebih kuat agar keberadaan penginapan milik Pemkab Ciamis itu mampu tampil lebih kompetitif dan relevan dengan perkembangan sektor jasa akomodasi saat ini.
Sekretaris Bapenda Kabupaten Ciamis, Dr. Angga Gustiana Yusman, S.STP., MM mengatakan, proses transformasi itu tidak hanya berfokus pada perubahan nama. Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang dalam penguatan pengelolaan aset daerah.
“Kami ingin menghadirkan identitas baru yang lebih kuat, profesional, dan memiliki daya saing, namun tetap mencerminkan karakter lokal Kabupaten Ciamis,” ujarnya dalam rapat koordinasi beberapa waktu lalu.
Ia menjelaskan, konsep baru yang sedang dirumuskan diarahkan agar fasilitas tersebut dapat menjadi bagian penting dalam mendukung geliat pariwisata Kabupaten Ciamis. Karena itu, berbagai unsur lokal mulai dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam identitas baru yang tengah disusun.
Dalam forum tersebut, sejumlah peserta rapat mengusulkan agar nuansa sejarah dan budaya Tatar Galuh menjadi bagian dari branding baru yang akan digunakan. Konsep tersebut dinilai penting agar fasilitas daerah tidak kehilangan karakter lokal di tengah upaya modernisasi.
Selain memiliki nilai historis, pendekatan berbasis budaya juga dianggap mampu meningkatkan daya tarik komersial sekaligus memperkuat identitas khas daerah. Dengan konsep itu, keberadaan fasilitas tersebut diharapkan memiliki nilai lebih dibanding sekadar hotel pemerintah di Ciamis pada umumnya.
Pembahasan mengenai rebranding aset daerah Ciamis tersebut juga menyoroti pentingnya peningkatan citra pelayanan. Peserta rapat menilai, selama ini masih banyak masyarakat yang memandang fasilitas pemerintah sebatas sarana internal birokrasi, padahal potensinya dapat dikembangkan menjadi akomodasi representatif bagi tamu maupun wisatawan.
Karena itu, penguatan identitas dinilai menjadi langkah penting agar Mess Pemda Ciamis mampu tampil lebih terbuka, profesional, dan memiliki posisi strategis dalam mendukung sektor jasa dan ekonomi daerah.
Selain aspek branding, keberadaan fasilitas penunjang juga menjadi perhatian dalam pembahasan. Saat ini, bangunan tersebut telah dilengkapi enam kamar super deluxe, 15 kamar deluxe, ruang meeting berkapasitas 15 hingga 20 orang, restoran berkapasitas 30 sampai 50 orang, serta area parkir basement dan area terbuka.
Kelengkapan fasilitas itu dinilai cukup potensial untuk mendukung pengembangan fasilitas Pemda Ciamis yang lebih modern dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat maupun tamu dari luar daerah.
Angga menambahkan, keterlibatan berbagai unsur dalam pembahasan tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam mempersiapkan konsep baru yang matang dan berkelanjutan. Menurutnya, pengembangan aset tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus terintegrasi dengan arah pembangunan sektor wisata dan pelayanan publik.
Nantinya, seluruh hasil pembahasan akan menjadi dasar dalam menentukan konsep final identitas baru bagi penginapan milik pemerintah tersebut. Pemerintah berharap transformasi itu dapat menghadirkan wajah baru yang lebih berdaya saing tanpa meninggalkan ciri khas lokal Kabupaten Ciamis.
“Kami berharap transformasi ini menjadikan tempat tersebut bukan hanya lokasi singgah, tetapi juga etalase budaya dan simbol profesionalisme pelayanan daerah,” pungkasnya. (NID/AS)

