Anak-anak Makan Gratis, Pedagang Jajanan Menangis

lintaspriangan.com, OPINI. Kebijakan publik, sering kali adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia menjanjikan perbaikan dan kesejahteraan bagi sebagian masyarakat. Di sisi lain, tanpa analisis dampak yang mendalam dan mitigasi yang tepat, ia bisa secara tak sengaja menggerus fondasi ekonomi bagi kelompok lain. Program Makan Bergizi Gratis adalah contoh terbaru dari dilema ini. Tujuannya mulia: memastikan anak-anak sekolah mendapatkan asupan gizi yang cukup, mengurangi stunting, dan meningkatkan fokus belajar. Namun, dari sudut pandang pedagang kecil, program ini bukan solusi, melainkan pukulan telak yang mengancam mata pencaharian mereka.

Seorang pedagang batagor di depan salah satu sekolah swasta di Tasikmalaya menjadi cerminan nyata dari ironi kebijakan ini. “Saya sudah tidak berjualan batagor lagi, sepi, karena anak-anak sekolah pada kenyang. Kan ada Progaram Makan Bergizi Gratis”. Kalimat sederhana ini mengandung esensi dari sebuah krisis mikroekonomi yang tengah berlangsung. Anak-anak yang biasanya menjadi target pasar utama para pedagang jajanan anak kini datang ke sekolah dengan perut kenyang. Demand terhadap produk mereka langsung anjlok. Batagor, mi ayam mini, martabak mini, dan aneka jajanan anak lainnya yang selama ini menjadi sumber nafkah bagi banyak keluarga di seluruh Indonesia, kini kehilangan pembelinya.

Para pedagang jajanan ini bukanlah korporasi besar yang bisa menanggung kerugian atau beralih model bisnis dengan cepat. Mereka adalah individu-individu dengan modal dan pengetahuan terbatas, yang mengandalkan perputaran harian untuk makan sehari-hari. Ketika omzet harian mereka terjun bebas, mereka dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan harapan kondisi membaik atau beralih ke jenis usaha lain yang mungkin tidak mereka kuasai atau belum tentu laku.

Pilihan untuk beralih, seperti yang dilakukan oleh pedagang batagor itu, yang kini menjual “jajanan yang manis-manis saja” menunjukkan adaptasi yang terpaksa. Adaptasi ini lahir dari desakan ekonomi, bukan dari strategi bisnis yang matang. Pedagang lain, seperti Mang tukang mi ayam mini, seblak dan lain-lain juga mengalami nasib serupa. Keluhan mereka adalah keluhan kolektif, sebuah bisikan perlawanan dari arus bawah yang tidak terdengar oleh pembuat kebijakan di ruang-ruang rapat ber-AC nan semerbak wangi assential oil.

Kebijakan yang efektif harusnya mampu melihat semua segmen masyarakat, bukan hanya yang menjadi target langsung. Ketika sebuah program besar diluncurkan, seharusnya ada studi kelayakan dan analisis dampak sosial-ekonomi yang komprehensif. Pertanyaannya, apakah dampak terhadap pedagang kecil ini sudah diperhitungkan? Apakah ada skema kompensasi atau program pelatihan alih profesi yang disiapkan untuk mereka yang terdampak?

Realitasnya, tidak ada. Para pedagang ini dibiarkan berjuang sendiri dalam menghadapi efek samping dari sebuah kebijakan yang mereka tidak minta. Kebijakan Makan Bergizi Gratis ini, tanpa disadari, menciptakan gelombang disrupsi ekonomi di tingkat akar rumput. Ini bukan sekadar masalah sepi pembeli, ini adalah urusan eusi peujit, masalah keberlanjutan hidup, stabilitas ekonomi keluarga, dan harkat martabat.

Pemerintah harusnya menyadari bahwa ekonomi kerakyatan adalah tulang punggung dari banyak masyarakat. Pedagang jajanan di gerbang sekolah adalah bagian integral dari ekosistem sosial-ekonomi kita. Mereka menyediakan makanan terjangkau dan menciptakan lapangan kerja bagi diri mereka sendiri. Dengan tergerusnya mata pencaharian mereka, kita bukan hanya kehilangan pedagang batagor, tetapi juga merusak fondasi ekonomi yang paling rapuh dan paling membutuhkan perlindungan.

Oleh karena itu, penting untuk meninjau kembali implementasi program ini. Jika tujuannya adalah perbaikan gizi, apakah ada cara lain yang tidak mengorbankan kelompok masyarakat lain? Misalnya, bekerja sama dengan pedagang lokal untuk menyediakan menu sehat, alih-alih memberikan makan gratis yang disiapkan oleh pihak ketiga. Pendekatan kolaboratif seperti ini tidak hanya mencapai tujuan kesehatan, tetapi juga memberdayakan dan melindungi ekonomi kerakyatan.

Memang, niat baik tidak selalu berbuah baik. Tanpa istikharah, tanpa strategi yang holistik, program Makan Bergizi Gratis justru menjadi bumerang yang melukai mereka yang paling rentan. Sudah saatnya negara hadir, mendengar keluhan dari pedagang kecil dan mencari solusi yang adil bagi semua pihak, bukan hanya bagi anak-anak sekolah yang kenyang, tetapi juga bagi para pencari recehan yang kini harus menelan pil pahit. Wallahu A’alam Bishawab.

[Diki Sam ani. Direktur Albadar Institute]

Kasus Data warga jebol - lintas priangan

3 Orang Jadi Tersangka, Data Warga Jebol dan Diduga Dijual Lewat...

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Data pribadi warga yang semestinya terlindungi diduga justru dijadikan bagian dari bisnis ilegal. Polda Jawa Barat berhasil membekuk kejahatan yang menyebabkan...

JEJAK HEROIK JABAR

Membuka Jejak Pejuang Tionghoa di Cirebon

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ada satu kalimat pendek dalam arsip...

Taktik Buaya Mangap Pejuang Cirebon Bikin Belanda Kocar-kacir

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jembatan-jembatan menuju Bantarjati tampak seperti sedang...

Selama 5 Bulan, Markas Belanda Digempur Pejuang Cikatomas

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ketika malam turun di wilayah selatan...

Pesantren Langkaplancar yang Berubah Menjadi Markas Laskar

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jauh dari pantai yang kini menjadi...

Dari Perlindungan 1947 hingga Harmony Award 2025

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Bensin telah diletakkan di dekat rumah-rumah warga...

PRIANGAN TIMUR

Rumah Lapuk Ambruk Timpa Rumah di Baregbeg Ciamis, Dua Bangunan Rusak

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Sebuah rumah lapuk ambruk dan menimpa...

Kantor Wali Kota Banjar Dilalap Si Jago Merah, Dua Petugas Damkar Diberi Oksigen

lintaspriangan.com, BERITA BANJAR. Kebakaran Kantor Walikota Banjar, kepulan asap...

Perhutanan Sosial Garut, Pemkab Siapkan 7 Program di 13 Kecamatan

lintaspriangan.com, BERITA GARUT. Pemerintah Kabupaten Garut menyiapkan tujuh program rencana...

BSPS Kota Tasikmalaya Jangkau 827 Rumah, Tiap Penerima Dapat Rp20 Juta

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Sebanyak 827 rumah di Kota Tasikmalaya mendapat...

Kekeringan Pangandaran: BPBD Jabar Jadwalkan Koordinasi Penanganan Hari Ini

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Penanganan kekeringan Pangandaran dijadwalkan dibahas dalam koordinasi Badan...

JAWA BARAT

3 Orang Jadi Tersangka, Data Warga Jebol dan Diduga Dijual Lewat API Key dan Bot Telegram

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Data pribadi warga yang semestinya terlindungi...

Sekdis Dishub Sukabumi Dijemput Polisi, Dugaan Pelecehan Siswi PKL

lintaspriangan.com, BERITA SUKABUMI. Penanganan dugaan pelecehan siswi PKL di...

Kebakaran Ciumbuleuit Berdampak pada 19 Warga, Tiga Titik Panas Masih Ditangani

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Penanganan kebakaran Ciumbuleuit di kawasan Cihanja, Kecamatan...

KDM Rombak Besar-Besaran OPD Jabar, 6 Dinas Bakal Digabung: Benarkah Anggaran Bisa Lebih Hemat?

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan...

Jalan Kolonel Masturi Ditutup Total Mulai 14 September, Ini Jalur Alternatifnya

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Jalan Kolonel Masturi di Kabupaten Bandung Barat ditutup...

Vonis Ade Kuswara Dijadwalkan Dibacakan Hari Ini di Tipikor Bandung

lintaspriangan.com, BERITA BEKASI. Sidang vonis Ade Kuswara Kunang dan ayahnya,...

Festival Tari Tradisional Jawa Barat Dijadwalkan Berlangsung 9 Jam Hari Ini

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Festival Tari Tradisional Jawa Barat dijadwalkan...

Jambore Relawan Kebencanaan 2026 Dijadwalkan Dibuka di Cimenyan Pagi Ini

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Jambore Relawan Kebencanaan 2026 dijadwalkan dibuka di...

Olahraga

Popular Categories