Liga Indonesia dan Liga Inggris Beda Cara Menentukan Juara
Perbedaan paling mendasar ada pada urutan penentu peringkat. Dalam regulasi BRI Super League 2025/2026, klub dengan poin tertinggi menjadi juara. Jika ada dua klub atau lebih memiliki poin sama, mekanisme berikutnya yang dipakai adalah head-to-head lebih dulu. Setelah prosedur head-to-head tidak menyelesaikan peringkat, barulah digunakan selisih gol seluruh pertandingan, jumlah gol memasukkan, fair play, hingga undian.
Sementara itu, Liga Inggris memakai logika yang berbeda. Premier League menjelaskan bahwa ketika dua klub memiliki poin sama, penentu berikutnya adalah goal difference atau selisih gol, lalu jumlah gol memasukkan. Head-to-head baru masuk setelah tahapan tersebut. Bahkan, Premier League pernah menyoroti gelar 2011/2012 sebagai contoh ketika juara ditentukan oleh selisih gol.
Dengan perbedaan itu, status Persija Garis Keras punya bahan bakar yang jelas. Jika memakai kacamata Liga Inggris, selisih gol Borneo memang menjadi sorotan. Namun dalam sistem Super League Indonesia, Persib tetap berdiri di atas dasar regulasi yang berlaku karena unggul dalam pertemuan langsung.
I.League juga menegaskan Persib mengoleksi 79 poin dari 34 laga, sama dengan Borneo FC Samarinda. Bedanya, Persib berada di puncak karena unggul head-to-head. Borneo finis sebagai runner-up dengan poin identik, tetapi kalah dalam hitungan pertemuan langsung.
Maka, polemik ini bukan lagi sekadar soal Persib juara atau Borneo unggul selisih gol. Isunya bergeser menjadi perbedaan cara liga membaca keunggulan. Liga Inggris lebih dulu menakar konsistensi semusim melalui selisih gol, sementara Super League Indonesia lebih dulu memberi bobot pada benturan langsung antarklub.
Ada Bobotoh yang mau ikut berkomentar? Silakan kirim pandangan Anda ke redaksi Lintas Priangan melalui WhatsApp 0815 7373 1158. Komentar terbaik, paling santun, dan paling bernas bisa menjadi bagian dari ruang diskusi publik berikutnya. (AS/AS)
Baca Berita Persib lainnya di Google News





















