lintaspriangan.com,ย BERITA OLAHRAGA.ย Konvoi juara Persib yang semula menjadi panggung sukacita besar Bobotoh ternyata menyisakan cerita lain di balik gegap gempita lautan biru. Sejumlah pemain Persib Bandung disebut mengalami ketakutan setelah melewati padatnya kerumunan saat pawai kemenangan di Kota Bandung.
Kabar itu diungkap Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat, Umuh Muchtar. Ia menyebut sebagian pemain merasa trauma setelah mengalami sejumlah insiden dalam rangkaian konvoi. Dari kehilangan barang pribadi, luka fisik, hingga tekanan kerumunan yang membuat suasana selebrasi tak sepenuhnya nyaman bagi skuad Maung Bandung. JPNN melaporkan, agenda pemain Persib untuk datang ke kediaman Umuh di Tanjungsari, Sumedang, batal karena pemain memilih kembali setelah makan.
Umuh Muchtar Sebut Pemain Ketakutan
Umuh Muchtar tidak menutupi kekecewaannya. Menurut dia, para pemain sebetulnya sudah dijadwalkan hadir dalam kegiatan bersama warga di kediamannya. Namun, rencana itu tidak berjalan sesuai harapan karena kondisi pemain disebut belum memungkinkan setelah melewati pengalaman kurang menyenangkan saat pawai.
Dalam laporan Radar Bandung, Umuh menyampaikan bahwa pemain Persib Bandung trauma seusai konvoi juara dan meminta Bobotoh memahami kondisi tersebut. Pernyataan itu menjadi penanda bahwa pesta kemenangan Persib tidak hanya meninggalkan euforia, tetapi juga ruang koreksi dalam pengelolaan massa besar.
Insiden yang paling ramai dibicarakan adalah hilangnya ponsel milik Frans Putros. Kabar itu sebelumnya viral setelah sejumlah pemain Persib ikut mengunggah pengumuman untuk membantu melacak ponsel tersebut. Suara.com melaporkan, ponsel Frans Putros hilang di tengah kepadatan ratusan ribu suporter saat konvoi berlangsung.
Bola.com juga menulis, Umuh Muchtar membeberkan sejumlah insiden yang dialami pemain selama konvoi, mulai dari kehilangan ponsel hingga luka fisik akibat kerumunan massa yang sulit dikendalikan. Dalam situasi seperti itu, kebahagiaan merayakan gelar berubah menjadi pengalaman yang menegangkan bagi sebagian pemain.
Euforia Besar, Pengamanan Jadi Sorotan
Pawai kemenangan Persib memang bukan acara kecil. Situs resmi Persib menyebut Pawai Juara Panca Takhta menjadi bentuk ungkapan terima kasih kepada Bobotoh setelah Maung Bandung menutup musim dengan gelar juara. Persib juga menggambarkan bagaimana masyarakat tumpah ruah memenuhi jalan-jalan Kota Bandung untuk merayakan sejarah bersama klub kebanggaan Jawa Barat tersebut.
Di satu sisi, pemandangan itu menunjukkan betapa kuatnya ikatan emosional antara Persib dan Bobotoh. Namun, di sisi lain, kerumunan besar selalu membawa risiko. Ketika jarak antara pemain dan massa terlalu dekat, ruang selebrasi bisa berubah menjadi tekanan fisik yang sulit dikendalikan.
Karena itu, konvoi juara Persib kali ini meninggalkan pelajaran penting. Perayaan klub sebesar Persib membutuhkan sistem pengamanan yang tidak hanya menjaga jalur kendaraan, tetapi juga melindungi pemain, ofisial, dan suporter dari dorongan massa yang berlebihan.
Umuh Muchtar pun meminta Bobotoh memahami kondisi para pemain. Permintaan itu penting agar kekecewaan warga Sumedang yang menunggu kehadiran skuad Persib tidak berubah menjadi salah paham. Batalnya kedatangan pemain bukan karena mengabaikan dukungan Bobotoh, melainkan karena kondisi psikologis dan fisik pemain disebut belum memungkinkan setelah insiden konvoi.
Persib tetap merayakan sejarah besar. Bobotoh tetap menjadi denyut utama di balik kejayaan Maung Bandung. Namun, pesta kemenangan juga perlu dijaga agar tidak berubah menjadi sengkarut di lapangan. Euforia boleh membiru, tetapi keselamatan pemain dan warga tetap harus menjadi garis batas.
Pada akhirnya, gelar juara Persib adalah kebanggaan bersama. Justru karena itu, cara merayakannya juga harus naik kelas: tertib, aman, dan tidak membuat para pemain pulang dari pesta dengan rasa takut. (M/AS)
Baca Berita Persib lainnya di Google News





















