lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Pagi 17 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan di Jakarta.
Upacara itu berlangsung singkat. Namun, sesudahnya dimulai pekerjaan yang tidak kalah menentukan: memastikan kabar kemerdekaan bergerak keluar dari halaman Pegangsaan Timur, menjangkau daerah-daerah, lalu menembus batas negara.
Indonesia telah merdeka. Dunia harus mendengarnya.
Berita Proklamasi segera disalin dan diteruskan melalui kantor berita, sambungan telepon, telegraf, kurir, serta jaringan radio. Di tengah pengawasan tentara Jepang, para pekerja komunikasi Indonesia memanfaatkan setiap saluran yang masih dapat digunakan.
Salah satu jalur penting itu mengarah ke Bandung.
Dari studio radio lokal di kawasan Tegallega, kabar kemerdekaan disiapkan untuk dipancarkan lebih jauh. Namun, suara yang dibacakan di depan mikrofon memerlukan tenaga besar agar tidak berhenti di sekitar kota.
Tenaga itu berada di wilayah yang kini menjadi Kabupaten Bandung. Di Palasari, Dayeuhkolot, berdiri sebuah stasiun pemancar radio berdaya besar.

Baca juga:Â Menelisik Hibah Kesbangpol Kota Bandung untuk Kejari: dari Ruang Tamu hingga Isi Garasi
Pemancar Besar di Dayeuhkolot
Stasiun Radio Dayeuhkolot bukan fasilitas kecil.
Pada masa pendudukan Jepang, tempat itu dikelola perusahaan telekomunikasi Kokusai Denki Tsusinkyoku. Catatan Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi menyebutnya sebagai salah satu stasiun radio terbesar di Indonesia, bahkan Asia Tenggara, pada masanya.
Pemancarnya menjadi bagian dari jaringan komunikasi strategis Jepang.
Dari sanalah berbagai pesan pemerintahan dan kepentingan militer dapat dikirimkan dalam jarak jauh. Karena perannya begitu penting, fasilitas itu berada dalam pengawasan ketat.
Radio pada masa perang bukan sekadar alat penyiaran. Ia adalah instrumen kekuasaan. Siapa yang menguasai pemancar dapat menentukan pesan mana yang boleh menembus udara dan kabar mana yang harus dihentikan.
Namun, kekalahan Jepang mengubah keadaan. Para pegawai dan teknisi Indonesia yang selama pendudukan bekerja di lingkungan telekomunikasi telah memahami mesin, sambungan, dan frekuensi yang mereka operasikan.
Ketika kabar Proklamasi tiba, pengetahuan itu memperoleh tujuan baru.

Baca juga:Â Indikasi Korupsi Kesbangpol Jabar Bagian 1: Makan Minum Tak Dikerjakan tapi Dibayar
Kabar dari Studio Menuju Pemancar
Berita kemerdekaan yang diterima di Bandung tidak cukup hanya dibacakan di dalam studio.
Agar dapat menjangkau pendengar yang lebih jauh, suara harus disalurkan menuju jaringan pemancar. Sambungan teknis menghubungkan studio radio Bandung dengan fasilitas komunikasi di Dayeuhkolot dan titik-titik lain di Bandung Selatan.
Operator memeriksa jalur. Teknisi menyiapkan perangkat. Pemancar dihidupkan.
Di balik mesin-mesin itu, para pekerja telekomunikasi Indonesia menghadapi risiko besar. Kekuasaan Jepang memang sedang runtuh, tetapi tentaranya masih bersenjata. Larangan penyebaran berita kemerdekaan belum sepenuhnya hilang.
Namun, kabar itu terlalu penting untuk dibungkam.
Menurut catatan sejarah telekomunikasi, Stasiun Radio Pemancar PTT Dayeuhkolot kemudian digunakan untuk membantu menyiarkan berita Proklamasi ke luar negeri pada 17 Agustus 1945.
Suara yang berangkat dari Bandung memasuki jaringan komunikasi, diperkuat oleh pemancar, lalu dilepaskan melalui gelombang radio. Ia bergerak tanpa terlihat. Melewati pegunungan. Menyeberangi lautan. Menjangkau pendengar di luar wilayah Indonesia.

Baca juga:Â Indikasi Korupsi Kesbangpol Sumedang: Lembaga Paling Pancasilais, Kok Kontraknya Begini?
Satu Gelombang di Antara Banyak Keberanian
Dayeuhkolot bukan satu-satunya jalur penyebaran Proklamasi; pada hari yang sama, siaran dari Jakarta dan simpul komunikasi lain juga ikut mengabarkan kemerdekaan.
Namun, Kabupaten Bandung memiliki peran nyata dalam jaringan besar tersebut. Dari Dayeuhkolot, salah satu gelombang yang membawa kabar kelahiran Republik dipancarkan ke luar negeri. Peran itu lahir dari kerja banyak orang. Ada petugas yang menerima kabar. Ada orang yang menyalin naskah. Ada penyiar yang membacakannya. Ada operator yang membuka sambungan. Ada teknisi yang menjaga mesin tetap hidup dan memastikan pesan tidak terputus sebelum meninggalkan Indonesia.
Sebagian bekerja di depan mikrofon. Sebagian lainnya berdiri di belakang perangkat yang berdengung.
Mereka mungkin tidak terlihat oleh pendengar. Namun, tanpa tangan-tangan itu, suara kemerdekaan tidak akan melaju sejauh yang diharapkan.
Baca juga:Â 9 Indikasi Korupsi Kabupaten Karawang Paling Telanjang, Belum Ada yang Digelandang?
Ketika Mesin Penjajah Berbalik Arah
Peristiwa di Dayeuhkolot menyimpan pembalikan sejarah yang kuat. Pemancar tersebut dibangun dan dikuasai untuk menopang kepentingan perang Jepang. Jaringannya digunakan untuk menjaga komunikasi pemerintahan pendudukan dan menghubungkan kepentingan militer dalam Perang Asia Timur Raya.
Mesinnya dibuat untuk mempertahankan kekuasaan. Namun, pada 17 Agustus 1945, mesin yang sama ikut mengabarkan berakhirnya penjajahan.
Menaranya tidak berubah. Kabelnya tetap sama. Perangkat pemancarnya masih berada di tempat yang sama. Yang berubah adalah pesan yang dibawanya.
Sebelumnya, gelombang dari Dayeuhkolot melayani pemerintahan pendudukan Jepang. Hari itu, ia membawa suara bangsa Indonesia.
Teknologi memang tidak mempunyai keberpihakan. Ia akan bekerja untuk siapa pun yang menguasai tombol, arus listrik, dan frekuensinya.
Para pekerja Indonesia memberinya arah. Mereka menjadikan alat komunikasi penjajah sebagai bagian dari perjuangan kemerdekaan.
Dari Kabupaten Bandung, Proklamasi dikabarkan melintasi batas negara
Jejak itu mungkin tidak sedramatis pertempuran terbuka. Tidak ada ledakan besar. Tidak ada rentetan tembakan. Namun, dampaknya mendunia. Dari Dayeuhkolot, suara itu memperoleh tenaga untuk terbang lebih jauh.
Jepang pernah menguasai pemancarnya.
Namun, pada 17 Agustus 1945, Kabupaten Bandung penguasa pesannya.
“Jangan biarkan kisah para pejuang ini terkubur untuk kedua kalinya—bukan oleh tanah, melainkan oleh lupa. Bagikan kepada anak-anak, keluarga, sahabat, dan generasi muda, agar mereka mengerti bahwa Merah Putih tidak berkibar sekadar karena angin, tetapi karena darah, air mata, dan nyawa yang dikorbankan. Sekali Anda membagikan kisah ini, Anda ikut menjaga api perjuangan tetap menyala dari generasi ke generasi.”
lintaspriangan.com
