lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL Elektabilitas KDM menjadi salah satu isu politik yang mulai mencuri perhatian menjelang peta awal Pilpres 2029. Nama Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM kembali ramai dibicarakan setelah muncul narasi bahwa elektabilitasnya mulai mengganggu dominasi Presiden Prabowo Subianto.
Isu itu makin panas karena KDM merupakan kader Gerindra, partai yang dipimpin Prabowo. Dalam beberapa pembacaan politik, naiknya elektabilitas KDM tidak hanya dianggap sebagai modal besar bagi Gerindra, tetapi juga berpotensi melahirkan dilema baru: apakah KDM akan tetap berada di bawah garis komando Prabowo, atau suatu saat terdorong keluar bila peta Pilpres 2029 berubah?
Data Survei Secara Nasional
Perbincangan soal KDM mengalahkan Prabowo menguat setelah muncul opini politik yang menyebut Dedi Mulyadi sukses menggeser elektabilitas Prabowo. Artikel opini RMOL bertajuk “Akankah Dedi Mulyadi Tinggalkan Gerindra?” bahkan secara terang membuka kemungkinan KDM meninggalkan Gerindra bila elektabilitasnya terus naik dan berhadapan dengan keputusan partai yang sudah mengarah ke Prabowo 2029.
Namun, klaim bahwa elektabilitas KDM sudah mengalahkan Prabowo secara nasional belum sepenuhnya didukung data survei terbuka yang kuat. Indopolitika mencatat bahwa pernyataan pengamat politik Tony Rosyid soal Dedi Mulyadi sebagai penantang kuat Prabowo masih perlu dibaca hati-hati, karena survei terbuka yang tersedia masih menempatkan Prabowo di posisi teratas.
Rilis Poltracking Indonesia pada 13 April 2026, misalnya, menunjukkan Prabowo Subianto masih memimpin elektabilitas capres dalam pertanyaan terbuka dengan 32,9 persen. Dedi Mulyadi berada di posisi kedua dengan 13,5 persen, disusul Anies Baswedan 9,2 persen. Survei itu dilakukan pada 2–8 Maret 2026 terhadap 1.220 responden, dengan margin of error sekitar ±2,9 persen.
Gambaran serupa juga terlihat dalam survei Indikator Politik Indonesia periode 20–27 Oktober 2025. Dalam simulasi 25 nama, Prabowo berada di posisi pertama dengan 46,7 persen, sedangkan Dedi Mulyadi menempati posisi kedua dengan 18,4 persen. Akan tetapi, KDM menunjukkan kekuatan khusus di Jawa Barat, basis politik yang selama ini menjadi panggung terbesarnya.
Dengan membaca data itu, elektabilitas KDM memang naik dan layak diperhitungkan. Namun, untuk menyebut KDM sudah mengalahkan Prabowo secara nasional, data yang tersedia belum cukup kuat. Yang lebih tepat, KDM sedang menjadi figur lapis kedua paling menonjol dan mulai masuk radar besar Pilpres 2029.
Potensi Keluar Gerindra
Pertanyaan berikutnya lebih tajam: apakah kenaikan elektabilitas KDM bisa membuatnya keluar dari Gerindra?
Secara politik, kemungkinan itu tidak bisa ditutup sepenuhnya. Apalagi, Gerindra sudah lebih dulu memberi sinyal kuat akan kembali mengusung Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada 2029. Kongres Luar Biasa Partai Gerindra di Hambalang pada 13 Februari 2025 memutuskan mendukung Prabowo untuk maju kembali pada Pilpres 2029. Sekjen Gerindra Ahmad Muzani saat itu menyebut kongres meminta Prabowo bersedia maju kembali, dan Prabowo menjawab “Insya Allah” sambil meminta waktu menyelesaikan tugasnya sebagai presiden.
Di sisi lain, Dedi Mulyadi bukan kader pinggiran. Ia tercatat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra. Posisi ini membuat KDM berada cukup dekat dengan lingkar strategis partai, bukan sekadar tokoh daerah yang menumpang kendaraan politik menjelang pemilu.
Karena itu, potensi KDM keluar Gerindra belum bisa dibaca sebagai langkah dekat. Untuk saat ini, isu tersebut lebih tepat dipahami sebagai tekanan politik akibat naiknya popularitas KDM. Dalam bahasa warung kopi politik: kursinya masih di Gerindra, tapi namanya sudah mulai dilirik dari meja sebelah.
Jika Prabowo tetap maju pada 2029, ruang KDM untuk menjadi calon presiden dari Gerindra jelas menyempit. Dalam kondisi seperti itu, ada beberapa skenario yang mungkin terbuka. Pertama, KDM tetap di Gerindra dan menjadi salah satu aset utama untuk memperkuat suara partai, terutama di Jawa Barat. Kedua, KDM didorong sebagai figur calon wakil presiden. Ketiga, bila elektabilitasnya terus naik dan ada partai lain yang siap memberi jalan, spekulasi keluar dari Gerindra bisa membesar.
Namun, hingga kini belum ada pernyataan resmi Dedi Mulyadi yang menyatakan akan keluar dari Gerindra. Justru ketika namanya masuk bursa Pilpres 2029, KDM pernah merespons dengan memilih fokus bekerja sebagai Gubernur Jawa Barat dan tidak ingin terlalu cepat membicarakan kontestasi 2029.
Artinya, isu elektabilitas KDM memang layak dibaca serius, tetapi belum saatnya disimpulkan sebagai tanda perpecahan. Kenaikan nama Dedi Mulyadi lebih dulu menjadi keuntungan bagi Gerindra. Baru setelah itu ia bisa berubah menjadi dilema, terutama bila elektabilitas KDM terus naik dan mulai mendekati atau bahkan melewati Prabowo dalam survei-survei nasional yang kredibel.
Untuk saat ini, kesimpulan paling aman adalah: KDM sedang naik, Prabowo masih unggul nasional, dan isu keluar dari Gerindra masih menjadi spekulasi politik yang menunggu bukti lebih kuat. (AS)
Kuis Piala Dunia 2026
Tebak dua tim finalis dan skor akhir. Tiga tebakan akurat dan tercepat berhak mendapatkan hadiah uang tunai. Total hadiah jutaan rupiah.
