lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL Sabtu (09/05/2026), tragedi maut yang melibatkan bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan truk tangki BBM di Jalan Lintas Sumatera, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, masih menyisakan duka mendalam. Peristiwa kecelakaan bus ALS tersebut tidak hanya menelan banyak korban jiwa, tetapi juga memunculkan sederet fakta mengejutkan, mulai dari korban yang terus bertambah, dugaan bus tak berizin, hingga riwayat kecelakaan berulang yang kini menjadi sorotan publik.
Peristiwa kecelakaan bus ALS tersebut bahkan memicu perhatian luas karena korban terus bertambah dan muncul dugaan persoalan serius di balik operasional armada. Berikut 13 fakta mengerikan di balik tragedi tersebut.
1. Jumlah korban terus bertambah
Awalnya dilaporkan 16 orang tewas dalam tragedi itu. Namun, jumlah korban meninggal dunia terus meningkat menjadi 17 orang, lalu bertambah lagi menjadi 18 korban setelah beberapa korban kritis akhirnya tidak tertolong saat menjalani perawatan intensif.
Kondisi ini menunjukkan besarnya dampak benturan dan kebakaran yang terjadi setelah tabrakan antara bus dan truk tangki BBM.
2. Banyak korban tewas terbakar di dalam bus
Setelah bertabrakan dengan truk tangki BBM, api dilaporkan membesar sangat cepat. Kobaran api membuat proses penyelamatan berlangsung sulit dan diduga menyebabkan sejumlah penumpang terjebak di dalam kendaraan.
Situasi mengerikan itu menjadi salah satu penyebab tingginya jumlah korban meninggal dunia dalam tragedi tersebut.
3. Korban mengalami luka bakar hingga 90 persen
Muhamad Fahrul Hubaidi, salah satu korban asal Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, sempat menjalani perawatan intensif di ruang ICU RSUD Rupit. Ia mengalami luka bakar hingga sekitar 90 persen sebelum akhirnya meninggal dunia.
Korban bahkan sempat direncanakan dirujuk ke RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang, namun kondisinya terus menurun sebelum proses perujukan dilakukan.
4. Bus disebut kehilangan kendali saat menghindari jalan berlubang
Berdasarkan kronologi awal, bus disebut bergerak ke jalur kanan setelah berusaha menghindari jalan rusak di Jalinsum Muratara. Dari arah berlawanan datang truk tangki BBM hingga tabrakan tidak dapat dihindari.
Fakta ini kembali memunculkan sorotan terhadap kondisi jalan lintas Sumatera yang selama ini dikenal memiliki tingkat risiko tinggi.
5. Kecelakaan terjadi di jalur lintas Sumatera yang dikenal padat kendaraan berat
Jalan lintas Sumatera merupakan jalur utama kendaraan antarkota dan antarprovinsi. Setiap hari, jalur ini dilintasi bus malam, kendaraan logistik, hingga truk pengangkut BBM.
Kepadatan kendaraan besar di jalur tersebut membuat potensi tabrakan fatal menjadi lebih tinggi, terutama ketika kondisi jalan rusak atau minim penerangan.
6. Bus ALS diduga sudah tidak memiliki izin operasional sejak 2020
Kementerian Perhubungan mengungkap bus ALS yang terlibat dalam kecelakaan bus ALS di Muratara diduga sudah tidak memiliki izin operasional sejak 4 November 2020.
Temuan itu mengejutkan publik karena armada tersebut diketahui masih tetap beroperasi membawa penumpang lintas provinsi hingga tahun 2026.
7. Bus tetap beroperasi lintas provinsi meski izin disebut mati
Meski diduga tidak memiliki izin operasional selama bertahun-tahun, armada tersebut tetap beroperasi melayani perjalanan antarkota antarprovinsi.
Fakta ini memunculkan pertanyaan besar mengenai pengawasan transportasi umum dan pemeriksaan kelayakan armada yang beroperasi di jalur jarak jauh.
Halaman selanjutnya: Kecelakaan Berulang dan Tanggal Maut yang Berdekatan

